Industri Batik dan Kerajinan

Oleh: Doddy Rahadi

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin

Kementerian Perindustrian mendorong industri batik dan kerajinan agar dapat ikut memanfaatkan teknologi modern dalam rangka mendongkrak produktivitas dan kualitas secara lebih efisien. Hal ini sesuai dengan implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0.

Mengingat proses produksi yang inovatif, efektif dan efisien, ini menjadikan pelaku industri selalu melakukan kreasi tiada henti, sehingga produktivitasnya akan meningkat dan akhirnya juga daya saingnya turut terdongkrak.

Perkembangan teknologi yang demikian cepat belakangan ini, terutama adanya revolusi industri 4.0, berdampak membawa perubahan luar biasa bagi sektor dunia usaha. Teknologi telah menyentuh berbagai bidang dan berhasil mengubah perilaku manusia, termasuk pula dalam menyikapi pembuatan produk seperti pada kerajinan dan batik.

Tak bisa dipungkiri, setiap perkembangan teknologi selalu menjanjikan kemudahan, efisiensi, serta peningkatan produktivitas. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin otomatis dan teknologi modern.

Meski begitu, kehadiran dan peran teknologi tidaklah mungkin menggantikan peranan manusia secara keseluruhan. Sentuhan teknologi tersebut hendaknya tidak akan membuat suatu nilai budaya yang ada dalam produk kerajinan dan batik tersebut menjadi luntur, hilang, atau tergantikan.

Jika teknologi yang digunakan dapat bersinergi dengan budaya lokal, maka penerapan teknologi tersebut akan memberikan dampak yang sangat positif, tentunya kinerja industri akan meningkat dan budaya lokal tetap terjaga.

Karena itu, kearifan memadukan pada kemajuan teknologi di era industri 4.0 dengan keberlanjutan budaya bangsa diharapkan memberi nilai tambah produk kerajinan dan batik nasional yang basisnya adalah keterampilan keempuan (craftmanship). Semua ini mempunyai tujuan agar industri kerajinan dan batik yang berbasis budaya lokal  akan  tetap  berjaya di negeri sendiri, tak lekang oleh perubahan zaman.

Untuk itu, cara berpikir kreatif dan inovatif melalui pemanfaatan teknologi dan optimalisasi sumber daya yang ada, diyakini produktivitas dapat terus bergerak serta berkontribusi positif bagi perekonomian nasional. Apalagi, industri batik merupakan salah satu sektor yang cukup banyak membuka lapangan pekerjaan. Sektor yang didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) ini tersebar di 101 sentra seluruh wilayah Indonesia.

Industri batik mendapat prioritas pengembangan selain karena berbasis budaya lokal, juga dinilai mempunyai daya ungkit besar dalam penciptaan nilai tambah, dampaknya transaksi perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lainnya, serta kecepatan penetrasi pasar.

 

BERITA TERKAIT

Persemaian Bibit

Oleh: Siti Nurbaya Bakar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pembangunan persemaian dilakukan secara utuh meliputi pembangunan fisik produksi bibit, didukung…

Kontainer Kosong

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Pelabuhan-pelabuhan di China tengah dilanda kelangkaan kontainer kosong. Negeri…

Optimalisasi Kawasan Industri Halal

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Meski belum sepenuhnya berdiri kawasan industri halal di penjuru negeri ini, perlu disyukuri…

BERITA LAINNYA DI

Persemaian Bibit

Oleh: Siti Nurbaya Bakar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pembangunan persemaian dilakukan secara utuh meliputi pembangunan fisik produksi bibit, didukung…

Kontainer Kosong

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Pelabuhan-pelabuhan di China tengah dilanda kelangkaan kontainer kosong. Negeri…

Optimalisasi Kawasan Industri Halal

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Meski belum sepenuhnya berdiri kawasan industri halal di penjuru negeri ini, perlu disyukuri…