Kekuatan dan Kemampuan Kelompok Teroris Belum Kendur di Tengah Covid-19

 

Oleh : Toni Ervianto, Alumnus Pasca Sarjana UI

Di tengah pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan lebih dari 30 juta orang terinfeksi dengan jumlah yang meninggal dunia lebih dari 900.000 di seluruh dunia, ternyata kekuatan kelompok teroris belum kendor khususnya di beberapa negara Afrika dan Timur Tengah, mereka terus membuat destabilisasi keamanan di beberapa negara, meskipun sejumlah petinggi beberapa organisasi teroris kelas kakap seperti Islamic Maghreb (AQIM) bernama Abdelmalek Droukdal tewas di tangah pasukan Perancis di sebelah Utara Mali, sebelumnya pimpinan AQAP (al-Qaeda in the Arabian Peninsula’s) bernama Qassem al Rimi juga tewas pada Januari 2020, pimpinan Al Qaeda di India atau AQIS (al-Qaeda in the Indian Subcontinent’s) bernama Asim Umar dan anak Osama bin Laden yaitu Hamzah bin Laden tewas pada September 2019.

Beberapa analis intelijen dari berbagai negara sepakat bahwa Al Qaeda tetap merupakan organisasi teroris yang mengerikan, bahkan diprediksi jumlah anggotanya masih lebih dari 40.000 orang di berbagai negara, dan masih memiliki kemampuan merekrut anggota baru, melakukan penyerangan mematikan, selalu berinovasi dalam taktik perangnya, masih mampu beroperasi secara optimal dan fokus pada sasaran-sasaran strategis. Sementara itu, kelompok ISIS saat ini dipimpin Abu Muhammad al Masri dan Saif al Adel yang diyakini kalangan analis intelijen internasional bahwa mereka tinggal di Iran.

Network global yang dimiliki al-Qaeda masih sangat kuat bahkan membuka cabang atau semacam franchise groups di Yaman, Somalia, Suriah, dan beberapa negara lainnya termasuk beberapa negara ASEAN. Kelompok terror di Somalia yang berafiliasi dengan Al Qaeda seperti al-Shabaab, terus melakukan serangan mematikan, termasuk kelompok Al Qaeda masih eksis di Suriah khususnya Provinsi Idlib melalui kelompok bernama Hurras al-Din.

Sementara itu, di Afghanistan, Islamic State Khorasan Province atau ISKP atau ISIS-K melakukan serangan yang mematikan seorang komandan polisi, melukai lebih dari 68 orang dan menewaskan 24 orang. Sedangkan, Taliban dikabarkan pernah menyerang markas militer di Gardez Afghanistan yang melukai 19 tentara dan 5 orang tewas.

Sebelumnya, di Kabul bagian barat, kelompok terror juga menyerang rumah sakit dan rumah bersalin yang dikelola oleh Doctors Without Borders dengan membunuh bayi yang baru dilahirkan bersama ibu mereka dan wanita yang tengah hamil sebanyak kurang lebih 16 orang. Kelompok terror yang dipimpin Abdullah Orokzai alias Aslam Farooqi ini menyerang rumah sakit milik Syiah Afghanistan pada April 2020. ISIS-K pada awal Maret 2020 juga menyerang kelompok Hazara dan Syiah di Afghanistan dan menewaskan 32 orang, kemudian pada akhir Maret 2020, mereka menyerang Kuil Sikh menewaskan 25 orang yang sedang beribadah.

Kelompok terror juga berkembang pesat di Mozambique, Maldives, Kenya, Somalia, Mali, Mesir, Philipina, Pakistan, Jerman, Belgia, Inggris dan Perancis. Sejak Maret 2017 sampai saat ini, berbagai kelompok terror seperti Al Qaeda, Taliban, Boko Haram, al Shabaab dan lain-lain dilaporkan telah melakukan lebih dari 900 serangan mematikan.

Penulis menyimpulkan bahwa kelompok terror masih memiliki niat dan kemampuan untuk merealisasikan niatnya mendestabilitas situasi keamanan di beberapa negara yang memiliki sel-sel terror. Mereka juga masih diprediksi akan terus berkembang, merekrut dan melakukan serangan-serangan mematikan dengan fokus-fokus yang diincarnya adalah sasaran mudah, strategis dan VIP, termasuk lone-wolf yang terafiliasi ideologis melalui media online dengan mereka, juga semakin berkembang dan berkeliaran dimana-mana.

BERITA TERKAIT

Masyarakat Papua Mendukung Kelanjutan Otsus

  Oleh : Rebecca Marian, Mahasiswa Papua tinggal di Jakarta Otonomi khusus di Papua yang akan diperpanjang tahun depan menjadi…

UU Cipta Kerja Wujudkan Daya Saing Pengusaha

  Oleh : Putu Raditya, Pengamat Ekonomi   Omnibus Law UU Cipta Kerja dirancang untuk menguntungkan berbagai pihak, termasuk para…

Komitmen Pemimpin dalam Menciptakan Ekonomi Rendah Karbon

  Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti BKF Kemenkeu *)   Sebagai bagian dari rangkaian penyelenggaraan 2020 Annual Meetings of the…

BERITA LAINNYA DI Opini

Masyarakat Papua Mendukung Kelanjutan Otsus

  Oleh : Rebecca Marian, Mahasiswa Papua tinggal di Jakarta Otonomi khusus di Papua yang akan diperpanjang tahun depan menjadi…

UU Cipta Kerja Wujudkan Daya Saing Pengusaha

  Oleh : Putu Raditya, Pengamat Ekonomi   Omnibus Law UU Cipta Kerja dirancang untuk menguntungkan berbagai pihak, termasuk para…

Komitmen Pemimpin dalam Menciptakan Ekonomi Rendah Karbon

  Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti BKF Kemenkeu *)   Sebagai bagian dari rangkaian penyelenggaraan 2020 Annual Meetings of the…