Ekosistem Logistik Nasional Harus Ditata

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan sangat mendukung penaataan Ekosistem Logistik Nasional (ELN) dalam meningkatkan kinerja logistik nasional untuk memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia.

ELN juga dapat mempercepat proses ekspor-impor sehingga menyelaraskan arus lalu lintas barang dengan arus lalu lintas dokumen. Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam konferensi pers bersama Penataan Ekosistem Logistik Nasional yang diselenggarakan Kementerian Keuangan secara virtual.

Turut hadir dalam konferensi pers tersebut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, serta perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

ELN adalah suatu hub ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang.

“Kemendag sangat mendukung program ini. ELN akan menghilangkan hambatan, meningkatkan kecepatan, dan mengurangi biaya logistik dalam perdagangan internasional maupun domestik. Program ini akan mendorong produktivitas serta memperlancar barang mulai dari kedatangan, pengangkutan, hingga barang keluar dari gudang,” ujar Agus.

Agus juga menyampaikan apresiasinya terhadap entitas logistik, baik pemerintah dan swasta yang telah bergabung dalam program ELN ini.

"Peran serta entitas logistik pemerintah dan swasta masih sangat dibutuhkan agar ekosistem logistik yang berkembang di Indonesia dapat memberikan dampak yang optimal. Munculnya penyedia platform-platform digital baru di seluruh wilayah Indonesia juga sangat diharapkan,” terang Agus.

Agus pun menyampaikan, Kemendag juga akan menyederhanakan proses layanan perizinan terkait perdagangan internasional dan domestik yang terintegrasi dengan ELN.

“Tujuannya untuk mengoptimalkan penerapan kebijakan lain di bidang perdagangan untuk mendukung teruwujudnya efisiensi logistik nasional, seperti penataan pergudangan,” harap Agus.

Selain itu, kata Agus  Kemendag juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun terminal-terminal barang yang sesuai kebutuhan. Terminal-terminal barang ini sangat penting untuk meningkatkan produktivitas ekspor-impor kita, khususnya terkait bahan baku penolong ekspor.

“Dengan terciptanya sistem logistik yang efisien, diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan daya tarik Indonesia terhadap investasi, yang kemudian berujung pada pertumbuhan ekonomi nasional yang signifikan dan berkelanjutan,” jelas Agus.

Sementara itu, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa saat ini biaya logistik Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Asean. Oleh karena itu, dengan adanya ELN, diharapkan biaya logistik dapat menjadi 17% dari produk domestik bruto (PDB).

“Kita mengeluarkan lebih dari 23,5% dari PDB kita untuk biaya logistik, ini lebih tinggi dibandingkan malaysia yang hanya 13%,” jelas Sri.

Selain itu, Sri menjelaskan bahwa kinerja dari logistik Indonesia dalam ease of doing business (EODB) mengenai jumlah hari atau jam dalam menyelesaikan proses logistik belum menunjukkan suatu perbaikan yang signifikan. Sehingga jika dilihat dari trade across border - ease of doing business (TAB-EODB) Indonesia, tidak terlalu baik, sebab hanya naik sedikit dari 67,3 pada 2019 ke 69,3 pada 2020.

"Oleh karena itu, upaya untuk melakukan reformasi di bidang logistik nasional menjadi keharusan,” tegas Sri.

Maka dalam hal ini, Sri menjelaskan bahwa penurunan antara 5-6% terutama akan dikontribusikan dari seluruh proses hulu hingga hilir, terutama menghubungkan sektor-sektor transportasi. Tidak hanya itu, juga untuk mensimplifikasi proses, menghilangkan repetisi, dan bisa memberikan kemudahan bagi pelaku usaha. 

Maka dengan adanya reformasi tersebut diharapkan sektor logistik akan makin meningkat, tidak hanya dari sisi efisiensi tapi juga sisi kontribusinya di dalam meningkatkan daya kompetisi seluruh perekonomian nasional, dan adanya standar layanan dan transparansi akan terjadi persaingan yang sehat.

“Kita semua tahu bahwa gambaran sistem logistik kita saat ini adalah seperti benang ruwet seperti ini, meskipun dulu kita sudah merintis dengan adanya national single window yang menghubungkan beberapa dari kementerian dan lembaga,” pungkas Sri.

 

 

 

 

BERITA TERKAIT

UU Cipta Kerja Perkuat Posisi KUMKM Dalam Rantai Pasok

NERACA Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) optimis bahwa UU Cipta Kerja bakal mampu memperkuat posisi koperasi usaha mikro…

Ditengah Pandemi UMKM Wajib Didorong

NERACA Jakarta - Di tengah perlambatan ekonomi dan perdagangan global serta kondisi pandemi Covid-19, para pelaku usaha kecil dan menengah…

Bersinergi Mempromosikan Poduk Lokal

Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng seluruh diaspora Indonesia di luar negeri untuk ikut mempromosikan produk buatan lokal. Salah satunya,…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

UU Cipta Kerja Perkuat Posisi KUMKM Dalam Rantai Pasok

NERACA Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) optimis bahwa UU Cipta Kerja bakal mampu memperkuat posisi koperasi usaha mikro…

Ditengah Pandemi UMKM Wajib Didorong

NERACA Jakarta - Di tengah perlambatan ekonomi dan perdagangan global serta kondisi pandemi Covid-19, para pelaku usaha kecil dan menengah…

Bersinergi Mempromosikan Poduk Lokal

Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng seluruh diaspora Indonesia di luar negeri untuk ikut mempromosikan produk buatan lokal. Salah satunya,…