Industri Manufaktur Berpeluang Bangkit Saat Pandemi

NERACA

Jakarta - Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Mukhaer Pakkana, mengatakan sektor industri manufaktur nasional memiliki kesempatan bangkit saat pandemi COVID-19, karena beralihnya selera pasar yang lebih cenderung menyukai produk-produk lokal.

"Hasil survei McKinsey menunjukkan 69 responden cenderung menggunakan produk lokal selama masa pandemi," katanya pada seminar web bertajuk "Strategi Menyelamatkan Industri Manufaktur di Tengah Kondisi Pandemi Covid 19" di Jakarta, seperti dikutip Antara, kemarin (24/9).

Mukhaer mengemukakan kontribusi industri manufaktur Indonesia terus berkurang dari 28 persen pada 2008 dan puncaknya pada 2019 hanya sebesar 17 persen.

Pemicunya, menurut dia, di antaranya karena pelarian industri yang sebelumnya beroperasi di suatu area; hilangnya daya saing, tenaga kerja terampil, dan pelarian modal; serta perubahan pola belanja masyarakat dari barang (commodity) ke jasa (pleasure).

Kecenderungan merosotnya kontribusi industri manufaktur, jelas Mukhaer, juga bisa dilihat dari angka Purchasing Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 28,55 persen pada triwulan II-2020, turun dari 45,64 persen pada triwulan I-2020 dan 52,66 persen pada triwulan II-2019.

Karenanya, ia menyarankan pemerintah mepribumikan industri dengan mengedepankan kebijakan inward looking economy dan menerapkan teknologi produksi yang mengurangi ketergantungan impor dan mengembangkan produk lokal. "Kembangkan ekonomi 'Dari Kita, Oleh Kita, dan Untuk Kita' dengan berbasis community marketplace," kata Mukhaer.

Ia juga menyarankan pemerintah mengoptimalkan instrumen lembaga keuangan lokal berdasarkan local wisdom, seperti koperasi, LKM, kelompok arisan, dan sebagainya.

Untuk mengganti ketergantungan pada produk-produk impor, Mukhaer menyarankan dilakukan pengembangan industri substitusi impor karena bisa menghemat devisa dan juga sudah banyak industri substitusi impor nasional yang kualitas produksinya tidak kalah dengan produk impor.

Mukhaer merinci ada tujuh sektor yang potensial mendorong substitusi impor, yaitu elektronik, otomotif, kimia, makanan dan minuman, tekstil dan busana, farmasi, dan alat kesehatan (alkes)."Pemerintah harus mendorong kapasitas dan permintaan dalam negeri untuk produk lokal," tuturnya.

Sementara Manufacturing Director PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Lilik Unggul Raharjo dan Business Development Indonesia Packaging Federation (IPF) Ariana Susanti yang tampil dalam webinar tersebut menyampaikan optimisme dalam menghadapi masa depan industri manufaktur di Tanah Air. "Seperti kebanyakan negara, pandemi COVID-19 telah menurunkan proyeksi GDP masing-masing negara, tetapi kami optimistis industri manufaktur akan kembali tumbuh di 2021," jelas Lilik.

Adapun Ariana menyampaikan bahwa masa pandemi justru industri kemasan menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Menurut dia, hal ini tidak terlepas dari berkembangnya ekonomi digital di masa pandemi. "Porsi ekonomi digital Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada 2025, diproyeksi mencapai 133 miliar dolar AS atau Rp1.826 triliun," terang Ariana.

Sedangkan Ketua Program Magister Administrasi Publik Universitas Nasional Rusman Ghazali menyampaikan bahwa industri makanan dan minuman bisa menjadi penolong saat ekonomi Indonesia menghadapi resesi. "Kalau terjadi resesi, maka kondisi manufaktur pasti mengalami degradasi yang sangat besar dan yang bisa menolong adalah industri makanan dan minuman," ujarnya. 

Rusman menyampaikan saat ini pemerintah telah memiliki skema kebijakan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Menurut dia, saat ini yang harus ditopang pondasinya adalah industri pengolahan yang memang basisnya adalah kebutuhan pokok sehari-hari.

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan industri makanan dan minuman berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional, yakni mencapai 21,46 persen. mohar

 

BERITA TERKAIT

KEPALA DAERAH DIMINTA PANTAU DATA PANGAN - Jokowi Ingatkan Risiko Krisis Pangan

Jakarta-Presiden Jokowi mengingatkan kepala daerah tentang risiko krisis pangan di tengah pandemi Covid-19 seperti diungkapkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian…

Efektivitas Rapat APBD-P DKI 2020 Dipertanyakan

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Center For Budget Analys (CBA) Uchok Sky Khadafi mempertanyakan efektivitas rapat kerja pembahasan perubahan Anggaran…

INDEF NILAI PELAKU EKONOMI BELUM SIAP ERA DIGITAL - Menkeu: Tantangan Besar Hadapi Teknologi Digital

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyadari masih terdapat tantangan yang harus diselesaikan pemerintah agar teknologi digital bisa dimanfaatkan oleh semua…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

KEPALA DAERAH DIMINTA PANTAU DATA PANGAN - Jokowi Ingatkan Risiko Krisis Pangan

Jakarta-Presiden Jokowi mengingatkan kepala daerah tentang risiko krisis pangan di tengah pandemi Covid-19 seperti diungkapkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian…

Efektivitas Rapat APBD-P DKI 2020 Dipertanyakan

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Center For Budget Analys (CBA) Uchok Sky Khadafi mempertanyakan efektivitas rapat kerja pembahasan perubahan Anggaran…

INDEF NILAI PELAKU EKONOMI BELUM SIAP ERA DIGITAL - Menkeu: Tantangan Besar Hadapi Teknologi Digital

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyadari masih terdapat tantangan yang harus diselesaikan pemerintah agar teknologi digital bisa dimanfaatkan oleh semua…