TIFA Raih Suntikan Modal US$ 46,4 Juta

NERACA

Jakarta – Pasca mengakuisisi 80% PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA), The Korea Development Bank (KDB) dan Dwi Satrya Utama berencana menyuntikkan modal sebesar US$ 46,4 juta atau sekitar Rp 636,06 miliar. Manajemen PT KDB Tifa Finance Tbk dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengungkapkan, suntikan modal dilakukan untuk menambah modal Tifa Finance hingga Rp 1 triliun dalam satu tahun ke depan.

KDB akan menyuntikkan US$ 39,4 juta dari total komitmen US$ 46,4 juta. Sisanya akan disuntikkan Dwi Satrya Utama. Tifa Finance saat ini memiliki modal US$ 36,6 juta atau Rp 509,39 miliar. Modal awal ini merupakan hasil transaksi akuisisi yang meningkat dari nilai awal sebesar Rp 452,79 miliar. Maka dengan adanya suntikan modal Rp 636,06 miliar, jumlah total modal awal KDB Tifa Finance diharapkan menjadi Rp 1,14 triliun.

Dengan modal minimal Rp 1 triliun, menurut manajemen Tifa Finance, perseroan bisa lebih leluasa menjalankan usaha, terutama di bidang pembiayaan infrastruktur. Ini seperti disyaratkan Peraturan OJK (POJK) No 35 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Manajemen Tifa Finance menjelaskan, dengan masuknya KDB, perseroan juga akan mendapakan sumber pendanaan baru yang dapat menurunkan rasio utang jangka pendek terhadap modal (gearing ratio).

KDB dan bank induk juga akan memberikan jaminan atau pinjaman pemegang saham agar Tifa Finance bisa mendapatkan biaya dana yang lebih rendah sehingga bisa mewujudkan kemandirian Tifa Finance sebagai penerbit obligasi tunggal di industri multifinance. Pembiayaan Infrastruktur Setelah mendapatkan suntikan modal sebesar Rp 1 triliun, menurut manajemen Tifa Finance, pemegang saham berharap perseroan bisa memulai bisnis pembiayaan infrastruktur pada 2021.

Dengan masuk ke pembiayaan infrastruktur, kinerja Tifa Finance diharapkan bisa meningkat dengan target aset US$ 171 juta pada 2021. Net interest margin (NIM) juga diharapkan meningkat menjadi 10,8% pada 2021. Sebagai informasi, di semester I-2020, Tifa Finance membukukan laba bersih Rp 13,87 miliar, turun 19,73% dibandingkan semester I-2019 yang mencapai Rp 17,28 miliar. Penurunan laba terjadi seiring menurunnya pendapatan yang pada semester I-2020 tercatat Rp 81,44 miliar. Padahal, pada semester I-2019, perseroan membukukan pendapatan Rp 101,23 miliar.

Penurunan juga terjadi dari sisi aset, yakni dari Rp 1,21 triliun pada akhir 2019 menjadi Rp 1,08 triliun pada semester I-2020. Begitu juga liabilitas, turun menjadi Rp 700,84 miliar dari periode akhir 2019 yang mencapai Rp 841,35 miliar.

 

BERITA TERKAIT

Gaet Mitra 10 - Bank BTN Genjot Transaksi Kartu Debit

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berkolaborasi dengan “Mitra10” toko ritel bahan bangunan milik PT Catur Mitra Sejati Sentosa, melakukan…

Berkah Bonus Demografi Jadi Peluang Pembiayaan Perumahan

BP Tapera menyatakan bonus demografi yang terjadi di Indonesia pada sekitar tahun 2020-2030 akan membuat kebutuhan akan rumah meningkat pesat.…

Membangun Optimisme Dengan Perkuat Investor Lokal

Sikap optimisme dan bukan overconfident harus selalu pegang para investor dalam mengambil suatu keputusan dengan tetap memperhitungkan risiko yang ada.…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Gaet Mitra 10 - Bank BTN Genjot Transaksi Kartu Debit

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berkolaborasi dengan “Mitra10” toko ritel bahan bangunan milik PT Catur Mitra Sejati Sentosa, melakukan…

Berkah Bonus Demografi Jadi Peluang Pembiayaan Perumahan

BP Tapera menyatakan bonus demografi yang terjadi di Indonesia pada sekitar tahun 2020-2030 akan membuat kebutuhan akan rumah meningkat pesat.…

Membangun Optimisme Dengan Perkuat Investor Lokal

Sikap optimisme dan bukan overconfident harus selalu pegang para investor dalam mengambil suatu keputusan dengan tetap memperhitungkan risiko yang ada.…