HIMKI Siap Meningkatkan Daya Saing Industri Mebel dan Kerajinan Nasional

Jakarta - Tim Formatur yang bertugas menyusun kepengurusan DPP  Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) masa bakti 2020-2023 telah selesai menjalankan tugasnya pada tanggal 19 September 2020 di Semarang, Jawa Tengah dan pengurus HIMKI tersebut secara resmi sebagai pengurus HIMKI yang baru.

NERACA 

Menurut Presidium HIMKI, Abdul Sobur, terbentuknya kepengurusan baru ini, HIMKI menjadikan sebagai momentum untuk mengingkatkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar global.

Munas diselenggarakan untuk merubah Anggaran Dasar dan/atau Anggaran Rumah Tangga dan memilih dan menetapkan 7 anggota Tim Formatur dari peserta Munas untuk menyusun dan membentuk kepengurusan lengkap Dewan Pimpinan Pusat HIMKI.

“Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sektor industri mebel dan kerajinan nasional dapat mejadi salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional, mengingat Indonesia memiliki bahan baku bagi industri mebel dan kerajinan yang cukup melimpah,” jelas Sobur.

Di sisi lain, Sobur mengungkapkan, industri mebel dan kerajinan Indonesia juga mampu menghasilkan devisa dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar. Namun dalam kenyataannya untuk mengembangkan industri ini cukup sulit dan banyak mengalami berbagai kendala.

Sejak dibentuk banyak yang sudah diperjuangkan oleh HIMKI dalam mewujudkan industri ini menjadi maju dan berkembang, namun usaha itu belum berhasil maksimal sesuai yang kita harapkan bersama sehingga untuk mencapai tujuan tersebut kita perlu bekerja lebih keras.

Sebagai pelaku usaha yang mempunyai kepedulian yang sangat tinggi terhadap keberadaan dan keberlangsungan industri mebel dan kerajinan Indonesia. “Pengurus HIMKI bersama dengan para anggota tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap berbagai hal yang bukan saja berdampak langsung pada usaha masing-masing pada khususnya, tetapi terlebih lagi adalah pada industri ini secara keseluruhan,” papar Sobur.

Sobur pun mengakui, betapa risaunya ketika membandingkan dengan pencapaian yang berhasil diraih oleh negara-negara tetangga untuk industri yang sama, seperti halnya China dan Vietnam.

“Kami yakin bahwa hal tersebut tidak perlu terjadi dan bahkan dengan segala potensi yang ada di negara kita, tentunya kalaupun tidak dapat melampaui pencapaian mereka, setidak-tidaknya dapat menyamainya. Hal ini telah sangat disadari oleh kita bersama yang kebanyakan merupakan pengusaha profesional, juga bisa dikatakan pengusaha pejuang, yang ingin melihat industri ini menjadi tuan di rumahnya sendiri,” ungkap Sobur.

Sobur juga mengungkapkan bahwa saat ini dihadapkan pada kondisi ekonomi Indonesia yang masih belum baik. Meski begitu, pengurus HIMKI ditunggu karyanya dalam memperjuangkan kepentingan anggota dalam menjalankan usahanya. Untuk itu tidak ada kata lain kecuali kita harus bekerjasama saling asih dan saling asuh dalam membawa asosiasi dan industri ini kedepan yang lebih baik. 

"Kami berharap potensi ekspor industri mebel dan kerajinan nasional tumbuh hingga 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 74 triliun dalam kurun waktu lima tahun mendatang bisa tercapai, sepanjang pemerintah tidak menghambat pelaku industri mendapatkan bahan baku kayu legal yang kompetitif,” jelas Sobur.

Untuk itu, Sekretaris Jendeal HIMKI, Heru Prasetyo menambahkan, kalangan pelaku industri mebel dan kerajinan meminta dihilangkannya sejumlah regulasi ekspor yang akan menekan kinerja untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimal.

Dalam jangka panjang ancaman kekurangan bahan baku dari dalam negeri kian nyata. Apalagi, berdasarkan informasi yang kami dapat, Kementerian Perdagangan telah menyusun Permendag yang terkait ketentuan ekspor bahan baku kayu (log) dan posisinya sudah di Kementerian Hukum dan HAM.

Draft terakhir Permendag tersebut menyepakati untuk perluasan penampang khusus untuk kayu merbau dan meranti (merah, kuning dan putih). Perluasan itu naik dari 10.000 mm menjadi 15.000 mm yang akan berlaku hingga Desember 2021 yang akan dievaluasi kembali.

Jika disetujui, Permendag tersebut berpotensi mematikan industri mebel dan kerajinan karena kehilangan bahan baku, ketergantungan impor, dan pengurasan devisa untuk impor bahan baku kayu. Kalau ini didiamkan, Indonesia akan kehilangan salah satu primadona ekspor.

“Untuk itu, kami terus berjuang dan terus bersuara agar ekspor bahan baku tidak dibuka. Para pelaku berharap pemerintah konsisten dan serius  mendukung primadona ekspor dengan cara mengkaji ulang untuk tidak membuka ekspor bahan baku,” jelas Heru.

Selain itu, Heru mengungkapkan, HIMKI juga meminta aturan soal Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) di hilir dicabut karena di hulu audah diberlakukan. Sebab, pengusaha sudah membeli bahan baku dari industri hulu.

HIMKI juga berharap adanya kebijakan pemerintah yang mampu mendorong tranformasi proses produki industri yang saat ini hampir sepenuhnya dikerjakan secara manual menuju penggunaan teknologi yang jauh lebih efisien seperti Computer Numerical Control  (CNC) Carving Machine. Teknologi ini merupakan sistem otomasi mesin perkakas yang dioperasikan oleh perintah yang diprogram secara digital.

Sejak tahun 1940, di dunia otomotif teknologi ini sudah dikenal dan sekarang dikembangkan pada industri mebel dam kerajinan oleh China dan sejumlah negara lain.

“Dengan menggunakan teknologi CNC, China mampu melakukan lompatan besar karena produktivitas naiknya naik tajam dan kini menguasai sekitar 39 persen nilai pasar global mebel yang kini sekitar 450 miliar dolar AS per tahun,” jelas Heru.

Bahkan, Heru mengakui, dengan menggunakan teknologi CNC, perusahaan mebel China mampu menyelesaikan pengerjaan satu pintu hanya dalam 4 jam-5 jam, sementara di Indonesia yang mengandalkan teknologi manual membutuhkan waktu 3-4 hari.

“Dengan tidak menggunakan teknologi ini selama ini telah menjadi salah satu penyebab utama rendahnya daya saing industri mebel nasional. Akibatnya, sumber daya alam yang melimpah seperti kayu dan rotan sebagai bahan baku utama industri mebel tidak bisa menjadi andalan keunggulan industri ini di pentas global. Padahal, dari sisi bahan baku Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan China dan Vietnam,” ungkap Heru.

Sehingga, kata Heru, untuk meningkatkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar global, para pengurus baru HIMKI akan lebih intensif bermitra dengan pemerintah dan seluruh stakeholder yang terdiri dari para pelaku industri mebel sekala besar, menengah dan kecil, para pelaku industri kerajinan nasional, para desainer, media, organisasi kemasyarakatan, institusi desain serta institusi terkait untuk mengawal pertumbuhan industri mebel dan kerajinan nasional agar menjadi yang terbesar di Kawasan Regional dan yang terdepan di dunia. 

 

BERITA TERKAIT

Pertamina Perkuat Transparansi

NERACA Jakarta - PT Pertamina (Persero) mencatat per September 2020, total volume penyaluran BBM jenis Solar telah mencapai 67,5% dari…

PEN Mendongkrak Kinerja Manufaktur

NERACA Jakarta - Kinerja industri manufaktur mulai merangkak naik pada kuartal III tahun 2020 meskipun masih dalam tekanan berat karena…

Antisipasi Bencana, KKP Ajak Pembudidaya Ikan Ikut Asuransi

Garut - Memang tidak ada yang menginginkan adanya bencana, namun begitu, bencana alam kerap melanda di negeri kita. Oleh karena…

BERITA LAINNYA DI Industri

Pertamina Perkuat Transparansi

NERACA Jakarta - PT Pertamina (Persero) mencatat per September 2020, total volume penyaluran BBM jenis Solar telah mencapai 67,5% dari…

PEN Mendongkrak Kinerja Manufaktur

NERACA Jakarta - Kinerja industri manufaktur mulai merangkak naik pada kuartal III tahun 2020 meskipun masih dalam tekanan berat karena…

Antisipasi Bencana, KKP Ajak Pembudidaya Ikan Ikut Asuransi

Garut - Memang tidak ada yang menginginkan adanya bencana, namun begitu, bencana alam kerap melanda di negeri kita. Oleh karena…