Transformasi UMKM Pasca Pandemik Sudah Harus Dipersiapkan

NERACA

Jakarta - Kesulitan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19 diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun depan. Oleh sebab itu, pada fase ini saat yang tepat merumuskan transformasi UMKM di masa depan. 

“Kita perlu menyiapkan UMKM bisa melakukan transformasi secara baik karena kekuatan ekonomi kita sangat tergantung pada UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Ada 99 persen pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM sehingga pemulihan ekonomi nasional tidak bisa dilakukan tanpa memulihkan UMKM. Pengangguran akan semakin tajam, kemiskinan akan semakin meningkat apabila UMKM gagal melakukan transformasi,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat acara Penghargaan Natamukti 2020 yang diselenggarakan International Council for Small Busines (ICSB).  

Lebih lanjut, Teten menegaskan Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) menyiapkan transformasi UMKM agar mampu beradaptasi terhadap berbagai perkembangan termasuk tranformasi digital dalam produksi dan pemasaran. “Transformasi untuk menumbuhkan ekosistem pembiayaan, ekosistem perijinan yang lebih mudah, ekosistem kewirausahaan dan akses kepada pasar yang lebih luas seperti ekspor,” jelas Teten.

Sehingga, Teten mengakui, pentingnya kolaborasi empat pilar yang diusung oleh ICSB, yaitu Pilar Pemerintah, pilar Akademisi, pilar Peneliti dan pilar Pelaku Usaha untuk melakukan transformasi.

Sehingga dalam hal ini sangat diharapkan terjadi integrasi antara UMKM dan usaha besar untuk melahirkan suatu kekuatan ekonomi dan memberikan kesejahteraan kepada pelaku UMKM. 

“KemenkopUKM sekarang ditugaskan oleh Bapak Presiden melakukan transformasi, termasuk koperasi. Kita juga diminta evaluasi seluruh pembiayaan UMKM agar betul-betul diberikan kemudahan akses yang bukan saja modal kerja tapi modal investasi. Selain itu, mengevaluasi seluruh kebijakan perijinan yang mempersulit UMKM,” papar Teten.

Mendorong Potensi Lokal

Lebih dari itu, Teten pun minta agar para kepala daerah mempersiapkan produk UMKM unggulan di daerah-daerah yang dapat bersaing hingga pasar global dan masuk prioritas belanja pemerintah ataupun BUMN.

Sebab, Staf Khusus MenkopUKM bidang pemberdayaan ekonomi kreatif, Fiki Satari membenarkan bahwa mayoritas pelaku usaha di Indonesia, lebih dari 99,6 persennya adalah UMKM.

Namun demikian, dari 64 juta pelaku UMKM, mereka memiliki kontribusi relatif kecil terhadap perekonomian Indonesia. Hal tersebut dikarenakan tidak mengandalkan keunggulan lokal yang dimiliki. Untuk itu, KemenkopUKM mendorong potensi lokal dioptimalkan, agar tidak menjadi "tamu di daerah sendiri."

Sehingga diharapkan, UMKM bisa mengambil peranan untuk bangkit dan memanfaatkan peluang tersebut.

“Spiritnya, UMKM harus jadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Sudah banyak daerah yang berhasil," Fiki.

Menurut Fiki, agar dapat menguasai perekonomian, UMKM harus masuk ke supply chain sektor industri, dengan mengandalkan produk lokal yang unggul. Selain itu, diperlukan penguatan ekosistem melalui koperasi untuk bisa membina UMKM yang dikategorikan kecil menjadi “local hero” di setiap daerah. Ia mengakui, yang terjadi saat ini, banyak di wilayah strategis pemasaran; termasuk di platform online yang penjualannya sedang meningkat, dikuasai oleh reseller produk impor dan pengusaha besar.

"Kita perlu cari kapal-kapal tongkang untuk bisa menarik sekoci pelaku UMKM masuk ke supply chain dari industri, karena banyak kapal induk yang sudah menunggu. Misalnya terkait digitalisasi UMKM, hari ini e-commerce itu kapal induk, traffic-nya sudah jutaan per hari,” terang Fiki.

Artinya Fiki mengakui adanya permintaan pasar, tapi sekarang banyak diisi reseller produk-produk impor dan industri besar. UMKM-nya di mana? “Nah, untuk ini kita perlu bangun ekosistem, agar bisa menarik UMKM yang jumlahnya banyak sekali tapi kecil-kecil, berserakan, belum terkordinasi. Tarik di local hero di setiap daerah, untuk masuk ke supply chain industri. Ini yang kita sebut ‘kapal tongkang’ untuk masuk ke ‘kapal induk’ tadi," himbau Fiki.

Sehingga, menurut Fiki, pemerintah mudah melakukan intervensi, agar UMKM ke depannya dapat meningkat dan naik kelas.

"Pemerintah intervensinya lebih mudah, karena tidak perlu memegang semuanya, tapi beberapa dari koordinator koperasi, untuk menjadi penarik pelaku UMKM agar bisa naik kelas ke depan," pungkas Fiki.

 

 

BERITA TERKAIT

Pemerintah Menggandeng Pengusaha Jerman Dukung Pemulihan dan Transformasi Ekonomi

NERACA Jakarta - Pemerintah menekankan pentingnya penanganan dampak Pandemi Covid-19 dari aspek kesehatan, di samping secara simultan mendorong upaya pemulihan…

Bersinergi Mendongkrak Daya Saing UMKM

NERACA Semarang - Kementerian Perdagangan menggandeng grup perhotelan Accor PT AAPC Indonesia, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan Pemerintah…

Mendorong Petani Bawang Merah Berkoperasi

NERACA Kulonprogo – Harus diakui, Kulonprogo bisa dibilang sukses sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah di Provinsi Daerah Istimewa…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Pemerintah Menggandeng Pengusaha Jerman Dukung Pemulihan dan Transformasi Ekonomi

NERACA Jakarta - Pemerintah menekankan pentingnya penanganan dampak Pandemi Covid-19 dari aspek kesehatan, di samping secara simultan mendorong upaya pemulihan…

Bersinergi Mendongkrak Daya Saing UMKM

NERACA Semarang - Kementerian Perdagangan menggandeng grup perhotelan Accor PT AAPC Indonesia, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan Pemerintah…

Mendorong Petani Bawang Merah Berkoperasi

NERACA Kulonprogo – Harus diakui, Kulonprogo bisa dibilang sukses sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah di Provinsi Daerah Istimewa…