AMMDes Dorong Sektor Pertanian Hingga Kesehatan

NERACA

Jakarta - Keberadaan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di berbagai daerah. Hal ini menjadi salah satu wujud nyata implementasi pada program Nawacita dalam upaya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa.

“Kami bertekad untuk semakin memacu pengembangan inovasi AMMDes dengan berbagai aplikasi yang dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Yang pada akhirnya bertujuan untuk menciptakan ketahanan ekonomi dan mendukung kemajuan di desa,” kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika.

Bukti konkret manfaat AMMDes, misalnya tercermin dari hasil proyek percontohan AMMDes ambulance feeder yang telah dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak, Banten. Melalui penggunaan AMMDes jenis tersebut, ibu hamil mendapat kemudahan untuk menjangkau ke fasilitas kesehatan sehingga segera mendapatkan pelayanan yang baik.

 “Jadi, pilot project di Kabupaten Lebak tersebut merupakan satu dari berbagai pilot project yang kami laksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, manfaat yang dihasilkan AMMDes ambulance feeder juga merupakan hasil kolaborasi dari berbagai pihak, meliputi pemerintah pusat, daerah, pihak swasta dan lainnya yang ikut serta dalam pilot project ini,” tambah Putu.

Bahkan, menurut Putu, melalui fugsinya, AMMDes pengumpan ambulans turut berperan menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Lebak. Hal ini berdasarkan data dari Puskesmas Bojongmanik, hingga Juli 2020 tidak ada kasus AKI, dan untuk AKB berhasil diturunkan dari enam kasus pada 2019 menjadi satu kasus hingga Juli 2020. 

“Pada awalnya, AMMDes dirancang untuk membantu masyarakat di sektor pertanian, tetapi seiring hasil pilot project yang kami lakukan di Kabupaten Lebak, maka terlihat bahwa AMMDes bisa juga difungsikan untuk membantu masyarakat di bidang kesehatan,” ujar Putu.

 Selain di Kabupaten Lebak, kata Putu, AMMDes juga sukses dimanfaatkan di daerah lain seperti Jawa Barat dan Riau, yang digunakan untuk pengolahan serabut kelapa. Berikutnya, di Kabupaten Tanggamus, Lampung, AMMDes dioptimalkan di kawasan perkebunan pisang yang berorientasi pasar ekspor.

 “Untuk pilot project di Tanggamus tersebut, telah mampu menurunkan 25% kerusakan pisang yang akan diekspor, dan ini tentu membantu untuk meningkatkan penghasilan petani setempat,” ungkap Putu.

Putu menambahkan, ketika terjadi gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu, AMMDes juga diterjunkan untuk dijadikan mesin penjernih air guna memenuhi kebutuhan air bersih. “Melalui fungsinya ini, AMMDes mampu melayani kebutuhan air bersih untuk 9.000 orang dan menjual air minum dalam galon untuk 1.850 kepala keluarga (KK),” imbuh Putu.

 Sejalan dengan hal ini, Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), Yusra menyampaikan, keberadaan AMMDes bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat desa, terutama di bidang pertanian dan kesehatan. “Sembilan desa di Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak mengalokasikan dana desa untuk pelayanan publik bidang kesehatan dan pencegahan stunting melalui AMMDES pengumpan ambulans,” ujar Yusra.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) Reiza Treistanto menyampaikan, proses produksi AMMDes KMWI melibatkan 63 vendor lokal yang 50% merupakan Industri Kecil Menengah (IKM). Selain itu, sebanyak 70% komponen dipenuhi secara lokal.

 Lebih lanjut, penggunaan AMMDes sebagai ambulance feeder di Kabupaten Lebak Banten juga memiliki keunggulan karena mampu menjangkau wilayah pedesaan terpencil yang sulit dijangkau oleh kendaraan konvensional, seperti ambulans yang dimiliki puskesmas. “AMMDes memiliki daya jelajah yang tinggi di berbagai medan serta dimensi yang kompak dan bobot ringan. Dengan satu liter solar, AMMDes ini mampu menempuh jarak 20 km dengan kondisi jalan yang mixed,” ungkap Rieza.

Saat ini, Rieza mengungkapkan, KMWI sudah memproduksi ambulance feeder Mark IV dengan berbagai fasilitas medis dan teknis seperti tabung oksigen, boks bayi, sirene, winch, dan lainnya. KMWI juga melakukan pelatihan operator AMMDes serta pelatihan medis untuk mendukung pemanfaatannya di lapangan.

“Ambulance feeder Mark IV ini merupakan hasil penyempurnaan dari tahapan monitoring, evaluation, learning, and adaptable (MELA) yang melibatkan dokter spesialis kebidanan dan kandungan serta spesialis anak. Kami juga rutin berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk membantu masyarakat di Kabupaten Lebak dalam menjangkau fasilitas kesehatan,” jelas Rieza.

 

BERITA TERKAIT

Menjaga Produksi Industri Semen

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya secara maksimal untuk menjaga iklim dan keberlangsungan usaha…

Pertamina Gandeng Disperindag Pantau Ketersediaan dan Penyaluran LPG

NERACA OKU Timur – PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel,  memastikan ketersediaan dan penyaluran LPG 3 kilogram…

Pengembangan Industri Kimia Berbasis Methanol Sudah Sangat Mendesak

Jakarta - Saat ini Indonesia perlu mengembalikan peran industri sebagai fondasi ekonomi nasional dengan lebih memperhatikan lagi struktur industri yang…

BERITA LAINNYA DI Industri

Menjaga Produksi Industri Semen

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya secara maksimal untuk menjaga iklim dan keberlangsungan usaha…

Pertamina Gandeng Disperindag Pantau Ketersediaan dan Penyaluran LPG

NERACA OKU Timur – PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel,  memastikan ketersediaan dan penyaluran LPG 3 kilogram…

Pengembangan Industri Kimia Berbasis Methanol Sudah Sangat Mendesak

Jakarta - Saat ini Indonesia perlu mengembalikan peran industri sebagai fondasi ekonomi nasional dengan lebih memperhatikan lagi struktur industri yang…