Permintaan CPO Naik Paruh Kedua - Eagle High Plantations Yakin Kinerja Tumbuh Positif

NERACA

Jakarta – Meski dihantui sentimen negatif dampak dari pandemi Covid-19, emiten perkebunan sawit PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menaruh asa di tahun ini mampu membukukan kinerja positif. Dimana untuk memenuhi target tersebut, perseroan menerapkan strategi peningkatan kualitas produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan pelunasan kembali utang (refinancing).

Kata Direktur Eagle High Plantation, Henderi Djunaidi, perseroan telah melakukan refinancing sejak akhir tahun lalu. Perseroan mengambil kebijakan mengkonversi utang dalam dolar Amerika Serikat (AS) ke rupiah guna mengantisipasi fluktuasi nilai tukar. “Kami tidak ada loan baru, kalau ada hanya untuk refinancing. Saat Desember 2019, rupiah pernah di Rp 13.000-an per dolar AS. Lalu sempat menyentuh Rp 16.000 di tahun ini, dan sekarang di level Rp 14.000-an,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sebagai informasi, perseroan tercatat meraih sindikasi senilai US$ 383,06 juta dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada Desember 2019. Kedua bank BUMN tersebut masing-masing mengucurkan sekitar US$ 191,53 juta. Sementara itu, kas bersih dari aktivitas operasi Eagle High mengalami negatif Rp 31,29 miliar hingga semester I-2020, membaik dibanding periode sama tahun lalu yang negatif Rp 601,69 miliar.

Menurut Henderi, secara industri terjadi kentungan yang rendah pada bisnis CPO selama semester pertama tahun ini. Sebab, banyak perusahaan CPO fokus melakukan pemeliharaan tanaman semaksimal mungkin supaya siap dipanen pada semester II-2020. Alhasil, perseroan lebih optimistis pada kondisi di semester II tahun ini.

Dia menambahkan, faktor kenaikan harga CPO juga diharapkan menjadi momentum perbaikan kinerja perseroan. Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya permintaan CPO, utamanya dari pasar Tiongkok. Hal ini ditambah lagi dengan menurunnya stok produksi khususnya di Malaysia. Selain itu, himbauan pemerintah dalam memanfaatkan CPO sebagai alternatif bahan bakar melalui kebijakan B30 dan dipercepat dengan B100 dinilai menjadi sentimen positif. Pasalnya, kebijakan tersebut mampu memberikan prospek jangka panjang terhadap industri CPO.

Selain itu, lanjutnya, perseroan bakal lebih selektif dalam mengembangkan kegiatan usaha atau ekspansi seiring dengan dampak pandemi Covid-19 yang menerpa sektor perkebunan kelapa sawit. Disampaikan Henderi, saat ini perseroan cenderung lebih wait and see terhadap penggunaan belanja modal atau capital expenditure (capex) seiring dengan banyaknya tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19.

Henderi menjelaskan bahwa perseroan hanya akan merealisasikan capex yang berhubungan dengan peremajaan dan operasional produksi pada tahun ini.“Total capex yang sudah kami gunakan sebesar Rp50 miliar dan itu hanya untuk yang sifatnya peremajaan saja, dan terhadap alat berat, angkut, perbaikan pabrik, dan perumahan karyawan,” ujarnya.

Perseroan mengaku terpaksa menunda rencana ekspansi pembangunan pabrik kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Berdasarkan catatan Bisnis, BWPT berencana membangun dua pabrik baru dengan kapasitas 60 ton per jam dan 90 ton per jam dari sebelumnya hanya sebesar 45 ton per jam. Sepanjang paruh pertama tahun ini perseroan berhasil membukukan kenaikan pendapatan 1% menjadi sebesar Rp1,21 triliun dibandingkan dengan semester I/2019 sebesar Rp1,2 triliun. Selain itu, BWPT berhasil menyusutkan rugi bersih menjadi sebesar Rp416 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp491 miliar.

 

BERITA TERKAIT

Pemilik Apartemen Essence Darmawangsa Tolak Proposal Perdamaian

Pemilik apartemen Essence Darmawangsa mengajukan penolakan terhadap proposal perdamaian yang telah diberikan oleh pihak PT. Prakarsa Semesta Alam (PSA). Sikap…

Tender TPPI Berjalan Secara Transparan dan Bersih

Kabar baik muncul dari rencana pembangunan pusat produksi olefin dan aromatik di kompleks PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Impian…

PT Timah Siap Lunasi Obligasi Rp 600 Miliar

NERACA Jakarta –Pangkas beban utang dan juga menunjukkan eksistensi bahwa PT Timah Tbk (TINS) masih menjalankan keberlangsungan usaha yang positif…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Pemilik Apartemen Essence Darmawangsa Tolak Proposal Perdamaian

Pemilik apartemen Essence Darmawangsa mengajukan penolakan terhadap proposal perdamaian yang telah diberikan oleh pihak PT. Prakarsa Semesta Alam (PSA). Sikap…

Tender TPPI Berjalan Secara Transparan dan Bersih

Kabar baik muncul dari rencana pembangunan pusat produksi olefin dan aromatik di kompleks PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Impian…

PT Timah Siap Lunasi Obligasi Rp 600 Miliar

NERACA Jakarta –Pangkas beban utang dan juga menunjukkan eksistensi bahwa PT Timah Tbk (TINS) masih menjalankan keberlangsungan usaha yang positif…