Tingkatkan Kiprah Politik Kaum Perempuan

NERACA

Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak seluruh elemen untuk terus mendukung peningkatan kiprah politik kaum perempuan di Tanah Air.

 

"Walaupun secara konstitusi sudah baik, bukan berarti pelaksanaan kesetaraan gender tak mendapatkan hambatan," kata Bamsoet dalam rilisnya yang diterima di Jakarta, Senin (10/8).

 

Berdasarkan laporan Indeks Kesetaraan Gender Dunia (Global Gender Gap Index) Tahun 2020 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) menempatkan Indonesia di urutan ke-85 dari 153 negara.

 

Indeks Indonesia itu, kata Bamsoet, masih jauh di bawah Filipina yang berada di urutan 16, Laos urutan 43, maupun Amerika Serikat di urutan 53.

 

Namun, lanjut dia, dalam laporan tersebut juga terdapat capaian positif yang telah diraih Indonesia. Subindeks kesetaraan gender di bidang pendidikan dan kesehatan meningkat tajam, mencapai 96,1 persen dan 95,7 persen.

 

Ia berharap peningkatan di kedua bidang tersebut mampu membawa perempuan Indonesia berkiprah lebih jauh lagi.

 

Di sisi lain, Bamsoet juga merasa bangga atas capaian bangsa Indonesia soal kesetaraan gender. Tidak seperti di Amerika Serikat, negeri yang dikenal leluhur demokrasi dan pejuang emansipasi wanita tetapi masih terjebak dalam permasalahan kesetaraan gender.

 

Sejak diusulkan pertama kali pada bulan Desember 1923 oleh pemimpin Partai Wanita Nasional Alice Paul dan diberi tenggat waktu ratifikasi hingga tahun 1982, hingga kini usulan amendemen kesetaraan hak untuk mengesahkan prinsip kesetaraan gender, termasuk hak perempuan dalam konstitusi Amerika Serikat, masih mengalami stagnasi.

 

"Konstitusi Indonesia sejak awal disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, selalu merujuk individu subjek hukum dengan sebutan 'setiap orang' atau 'setiap warga negara'. Tidak ada satu pasal pun yang merujuk pada status gender pria atau wanita," kata Bamsoet.

 

Banyak tokoh perempuan terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Setidaknya ada 14 tokoh perempuan yang telah diangkat menjadi pahlawan nasional.

 

Bamsoet saat mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI lantas menyebutkan nama pahlawan nasional itu, yakni R.A. Kartini, Tjoet Njak Dhien, Tjoet Njak Meutia, Dewi Sartika, hingga Malahayati.

 

Di bidang politik dan kepemimpinan, kata mantan Ketua DPR RI ini, perempuan Indonesia juga sudah mampu mendapatkan kepercayaan rakyat.

 

Pada usia kemerdekaannya yang baru memasuki 56 tahun, Indonesia sudah mampu memiliki presiden perempuan, Megawati Soekarnoputri yang memimpin pada 23 Juli 2001—20 Oktober 2004.

Sementara itu, Amerika Serikat yang kini sudah memasuki usia ke-244 kemerdekaannya, belum mampu memiliki pemimpin perempuan. Ant

 

 

 

BERITA TERKAIT

Pasar TI Indonesia Akan Tumbuh Cepat

NERACA Jakarta - Tibco Software Inc, perusahaan perangkat lunak dan solusi teknologi Amerika Serikat, percaya bahwa pasar teknologi informasi akan…

Kiat Cegah Kejahatan Digital "Phising" Bagi UMKM

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada, Ir. Tony Seno Hartono, membagi sejumlah kiat bagi…

Butuh Terobosan Baru Atasi Karhutla

NERACA Jakarta - Indonesia butuh terobosan baru untuk mengatasi bencana berulang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah pandemi…

BERITA LAINNYA DI

Pasar TI Indonesia Akan Tumbuh Cepat

NERACA Jakarta - Tibco Software Inc, perusahaan perangkat lunak dan solusi teknologi Amerika Serikat, percaya bahwa pasar teknologi informasi akan…

Kiat Cegah Kejahatan Digital "Phising" Bagi UMKM

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada, Ir. Tony Seno Hartono, membagi sejumlah kiat bagi…

Butuh Terobosan Baru Atasi Karhutla

NERACA Jakarta - Indonesia butuh terobosan baru untuk mengatasi bencana berulang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah pandemi…