Pemerintah Yakin Ekonomi akan Tumbuh Positif

 

NERACA

Jakarta – Pemerintah masih meyakini ekonomi Indonesia akan tumbuh positif di tengah pandemi. Di kuartal I, ekonomi masih tumbuh sebesar 2,97% (year on year), akan tetapi di kuartal II ekonomi terkontraksi tajam hingga minus 5,3% (yoy). Presiden Jokowi meyakini laju ekonomi domistik berpeluang untuk kembali ke tren positif di kuartal III-2020. Caranya dengan mengakselerasi penyerapan belanja pemerintah untuk meningkatkan daya beli dan konsumsi masyarakat.

 “Realisasi anggaran disegerakan, sekali lagi, terutama di kuartal III- 2020 sangat menentukan. Begitu kita belanjakan sesegera mungkin, kemungkinan kita bisa kembali lagi ke positif, itu ada peluang,” kata Jokowi saat meninjau Pos Koordinasi Penanganan COVID-19 Jawa Barat, Bandung, Selasa (11/8).

Presiden mengingatkan jajaran kementerian/lembaga dan juga pemerintah daerah, termasuk Jawa Barat, untuk meningkatkan penyerapan anggaran. Presiden Jokowi juga menyoroti pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat yang terkontraksi hingga minus 5,9 persen pada kuartal II 2020. “Kita harapkan tumbuh positif, tapi perlu kerja keras. Oleh sebab itu saya minta bupati, walikota, agar belanja APBD disegerakan, direalisasikan,” ujar Jokowi.

Kepala Negara mengatakan saat ini secara nasional anggaran pemerintah daerah yang mengendap di perbankan mencapai Rp170 triliun. Jumlah anggaran yang belum terserap itu terlalu besar, katanya, padahal masyarakat membutuhkan stimulus dari pemerintah untuk segera memulihkan kegiatan ekonomi di masa pandemi COVID-19. “Artinya penggunaannya membutuhkan kecepatan,  erutama kuartal III, kunci di Juli, Agustus, September, supaya kita tidak masuk ke resesi ekonomi,” ujar Presiden.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kontraksi pada perekonomian Indonesia di kuartal II-2020 sebesar 5,32 persen (yoy) masih lebih baik dibandingkan berbagai negara lain. “Ekonomi Indonesia terakhir minus 5,32 persen. Kontraksi ini juga dialami negara lain tapi Indonesia relatif masih lebih baik karena negara lain jatuh lebih dalam,” katanya.

Airlangga menyebutkan negara lain mengalami kontraksi lebih dalam seperti Inggris yang sudah dua kali resesi minus 1,7 persen sampai minus 19,9 persen, Hong Kong minus 12 persen, Singapura minus 12,6 persen, India minus 18 persen, serta Brazil. Meski demikian, ia menekankan bahwa pada kuartal III-2020 menjadi momen yang sangat penting untuk dapat menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.

Airlangga menyatakan realisasi belanja pemerintah harus mampu menopang kuartal III dan IV tahun ini sehingga pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan dapat sesuai dengan target. “Kita harus melihat kuartal III sangat penting sehingga belanja pemerintah bisa menopang dan sebagai pengungkit di kuartal III dan IV,” tegasnya.

Selain itu, dia menuturkan konsumsi rumah tangga yang pada kuartal II-2020 terkontraksi hingga 5,51 persen juga harus didorong karena berkontribusi besar terhadap perekonomian. “Kita ketahui konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu market confident dan market aman menjadi yang utama dalam periode seperti ini,” katanya.

Airlangga menyebutkan masih ada sektor yang tumbuh positif dan harus dipertahankan seperti pertanian 2,19 persen, informasi dan komunikasi 10,88 persen, serta jasa keuangan 1,03 persen. Tak hanya itu, menurutnya, terdapat beberapa hal yang telah menunjukkan sinyal perbaikan sejak Juni 2020 yaitu PMI manufaktur mencapai 46,9 persen dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 83,8 meningkat dari bulan sebelumnya yaitu 77. “Kita juga melihat beberapa sektor emiten membukukan positif,” ujarnya.

Kemudian, dari sisi penjualan kendaraan bermotor naik dari minus 82 persen menjadi minus 54 persen dan sektor perdagangan internasional yang untuk ekspor meningkat 12 miliar dolar AS. “Dari segi inflasi inti ini turut mencerminkan agregat demand sudah mengalami kenaikan pada Juli. Di sektor perdagangan internasional ekspor pada Juli meningkat 12 miliar dolar AS,” jelasnya. bari

BERITA TERKAIT

INDEF NILAI PELAKU EKONOMI BELUM SIAP ERA DIGITAL - Menkeu: Tantangan Besar Hadapi Teknologi Digital

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyadari masih terdapat tantangan yang harus diselesaikan pemerintah agar teknologi digital bisa dimanfaatkan oleh semua…

Ekspor Benih Tanaman Hias Tembus US$12 Juta

NERACA Jakarta – Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mendorong ekspor di berbagai komoditas, salah satunya komoditas hortikultura seperti…

SETAHUN PEMERINTAHAN JOKOWI-MA'RUF AMIN - Ekonomi Diklaim Lebih Baik dan Ketidakpuasan Rakyat

  NERACA Jakarta – Setahun sudah kabinet Indonesia Maju Jilid II menjalankan amanat dari rakyat. Berbagai klaim pencapaian postif dilontarkan…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

INDEF NILAI PELAKU EKONOMI BELUM SIAP ERA DIGITAL - Menkeu: Tantangan Besar Hadapi Teknologi Digital

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyadari masih terdapat tantangan yang harus diselesaikan pemerintah agar teknologi digital bisa dimanfaatkan oleh semua…

Ekspor Benih Tanaman Hias Tembus US$12 Juta

NERACA Jakarta – Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mendorong ekspor di berbagai komoditas, salah satunya komoditas hortikultura seperti…

SETAHUN PEMERINTAHAN JOKOWI-MA'RUF AMIN - Ekonomi Diklaim Lebih Baik dan Ketidakpuasan Rakyat

  NERACA Jakarta – Setahun sudah kabinet Indonesia Maju Jilid II menjalankan amanat dari rakyat. Berbagai klaim pencapaian postif dilontarkan…