Sektor Jasa di Era Covid-19 dan Sistem Pembayaran

Sektor Jasa di Era Covid-19 dan Sistem Pembayaran

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

 

Secara umum, Covid-19 menyebabkan penurunan dalam nilai tambah sektor jasa yang lebih dalam ketimbang sektor manufaktur. Negara yang kontribusi sektor jasanya di dalam produk domestik bruto paling dominan akan memerlukan sistem pembayaran yang lebih handal agar kebijakan moneter dan fiskal mampu mengeliminasi dampak negatif yang ditimbulkannya dan bukan hanya itu tetapi juga menciptakan kebangkitan dari sektor jasa yang lebih pesat.

Sistem pembayaran dengan pendekatan on-line (daring) akan mampu mempercepat kebangkitan sektor jasa dari keterpurukan akibat Covid-19. Sektor jasa bersifat non tradable namun tetap berlaku teori Stolper Samuelson dan Hechser Ohlin. Selain itu juga opportunity cost dari sektor jasa adalah dalam bentuk harga ekonomi domestik. Krisis Covid-19 membuat opportunity cost dari sektor jasa menjadi semakin rendah. Beruntung saat ini adalah era e-commerce sehingga penurunan opportunity cost dapat di netralisir.

Untuk itu pembangunan infrastruktur teknologi informasi harus segera diperkuat. Sistem pembayaran e-commerce menjadi semakin populer karena meluasnya penggunaan belanja dan perbankan berbasis internet. Kartu kredit menjadi bentuk pembayaran yang paling umum untuk transaksi e-commerce. Pada 2019, di Amerika Utara hampir 90 persen transaksi ritel online dilakukan dengan jenis pembayaran ini.  Untuk sebagian besar sistem pembayaran yang dapat diakses di Internet publik, otentikasi dasar (dari lembaga keuangan di pihak penerima), integritas data, dan kerahasiaan informasi elektronik yang dipertukarkan melalui jaringan publik melibatkan sertifikat dari otoritas sertifikasi yang berwenang yang menyediakan infrastruktur publik yang penting.

 Ada perusahaan yang berspesialisasi dalam transaksi keuangan melalui Internet, seperti Stripe untuk pemrosesan kartu kredit, Smartpay untuk pembayaran bank online langsung dan PayPal untuk metode pembayaran alternatif saat checkout. Banyak perantara yang mengizinkan konsumen untuk membuat akun dengan cepat, dan untuk mentransfer dana antara rekening online dan rekening bank tradisional, biasanya melalui transaksi clearing house otomatis (ACH). Era Covid-19 memperlihatkan keunggulan internet banking ketimbang kartu kredit.  

Ini adalah sistem yang tidak melibatkan kartu fisik apa pun. Ini digunakan oleh pelanggan yang memiliki akun yang diaktifkan dengan Internet banking. Alih-alih memasukkan detail kartu di situs pembeli, dalam sistem ini gateway pembayaran memungkinkan seseorang untuk menentukan bank mana yang ingin mereka bayar. Kemudian pengguna diarahkan ke situs web bank, di mana orang dapat mengotentikasi diri sendiri dan kemudian menyetujui pembayaran. Biasanya juga akan ada beberapa bentuk otentikasi dua faktor. Biasanya dianggap lebih aman daripada menggunakan kartu kredit, karena jauh lebih sulit bagi peretas untuk mendapatkan kredensial masuk dibandingkan dengan nomor kartu kredit. Bagi banyak pedagang e-Commerce, menawarkan opsi bagi pelanggan untuk membayar dengan uang tunai di rekening bank mereka memungkinkan cara untuk menyelesaikan transaksi tanpa kartu kredit. Dengan dukungan teknologi pembayaran maka kinerja sektor jasa di era Covid-19 dapat di arahkan menjadi bentuk huruf V dan bukan lagi huruf L.

India misalnya berupaya membangkitkan sektor jasa mereka dengan meingkatkan inklusi keuangan. Mengambil contoh di India yang juga terpukul oleh Covid-19, dimana ada lebih banyak pengguna ponsel daripada orang yang memiliki rekening bank aktif. Operator telekomunikasi, di lokasi seperti India, telah mulai menawarkan dompet uang seluler yang memungkinkan penambahan dana dengan mudah melalui nomor langganan seluler yang ada, dengan mengunjungi titik-titik isi ulang fisik dekat dengan rumah dan kantor mereka dan mengubah uang tunai mereka menjadi mata uang dompet seluler. Ini dapat digunakan untuk transaksi online dan pembelian eCommerce.

Sistem pembayaran harus dibuka seluas-luasnya agar dampak negative Covid-19 terhadap sektor jasa dapat diminimisasi. Untuk itu sistem pembayaran ACH (penyelesaian secara otomatis) harus terus dikembangkan karena sistem ACH dirancang untuk memproses batch pembayaran yang berisi berbagai transaksi dan membebankan biaya yang cukup rendah untuk mendorong penggunaannya untuk pembayaran bernilai rendah. Pembayaran ACH kontras dengan pembayaran RTGS real-time yang diproses segera oleh sistem RTGS pusat dan tidak dikenakan masa tunggu.

Sistem RTGS biasanya digunakan untuk transaksi mendesak bernilai tinggi. Sangatlah rasional bahwa sangat penting untuk menjaga infrastruktur system pembayaran agar kebijakan moneter dan fiscal yang efektif untuk membangkitkan kembali sector jasa dari keterpurukan akibat krisis Covid-19.

BERITA TERKAIT

Suku Bunga Tinggi Hambat Pemulihan Ekonomi Nasional

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Indonesia panik menghadapi pandemi Corona. Ekonomi terkontraksi tajam. PDB…

Omnibus Law Ciptaker Tidak Hilangkan Mekanisme Pesangon

  Oleh : Raavi Ramadhan, Pemerhati Ketenagakerjaan Pemerintah telah menginisiasi  Omnibus Law Ciptaker sebagai terobosan di bidang regulasi. Peraturan tersebut…

Kalangan Media dan Milenial Harus Aktif Dukung Penanganan Covid-19

  Oleh : Rahmat Soleh, Pemerhati Media Massa Pemerintah saat ini sedang fokus menangani Covid-19 yang masih terus terjadi. Kendati…

BERITA LAINNYA DI Opini

Suku Bunga Tinggi Hambat Pemulihan Ekonomi Nasional

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Indonesia panik menghadapi pandemi Corona. Ekonomi terkontraksi tajam. PDB…

Omnibus Law Ciptaker Tidak Hilangkan Mekanisme Pesangon

  Oleh : Raavi Ramadhan, Pemerhati Ketenagakerjaan Pemerintah telah menginisiasi  Omnibus Law Ciptaker sebagai terobosan di bidang regulasi. Peraturan tersebut…

Kalangan Media dan Milenial Harus Aktif Dukung Penanganan Covid-19

  Oleh : Rahmat Soleh, Pemerhati Media Massa Pemerintah saat ini sedang fokus menangani Covid-19 yang masih terus terjadi. Kendati…