Pertumbuhan Ekonomi Minus

Bank Dunia kembali memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini minus 5,2%, tak jauh berbeda dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 yang tercatat 5,3%. Bank Dunia memprediksi akan menjadi resesi ekonomi global terburuk dalam 80 tahun terakhir atau sejak perang dunia II pada 1940. Ini setidaknya akan mengindikasikan sebuah fase baru bagi upaya reduksi risiko terhadap kesehatan dan perekonomian global. Pasalnya, kondisi demikian hebatnya virus tersebut mengguncang dunia tampaknya dapat dikategorikan sebagai pandemi ekonomi terdahsyat.

Apalagi situasi China yang memiliki kontribusi cukup besar sekitar 20% PDB global, akselerasi sebaran virus Covid-19 di luar China dikhawatirkan mempengaruhi rantai pasok global. Ini disebabkan pengaruh dampak karantina dan pemberhentian operasi sejumlah perusahaan manufaktur, yang tidak semata menghantam internal perusahaan di negeri Panda itu, namun jtelah merambah pada jaring perdagangan internasional.

Seperti berdasarkan analisis data lembaga perdagangan global Dun and Bradstreet, memperkirakan ada 56 ribu perusahaan di seluruh dunia ikut terdampak perlambatan akibat terganggungnya pasokan dari China baik secara langsung maupun tidak. Lima sektor utama yang bakal terdampak mencakup perdagangan, industri jasa, jasa finansial, pengolahan, dan penjualan eceran.

Nah, apabila sebaran virus tidak kunjung tertangani hingga musim panas mendatang, pertumbuhan ekonomi global diprediksi bakal mengalami penurunan hingga 1%. Tentunya bagi Indonesia, menurut kajian Kemenko Bidang Perekonomian, penyebaran virus corona berdampak terhadap perekonomian Indonesia melalui tiga alur, yakni pergerakan orang, barang, dan uang. Perekonomian nasional diperkirakan terkontraksi sekitar 0,1-0,3% bila situasi seperti sekarang berlangsung hingga lebih dari enam bulan ke depan.

Menurut data perdagangan, impor produk Indonesia dari China mencapai 32,11%. Besarnya persentase impor dari China tersebut menambah faktor risiko terhadap industri manufaktur domestik. Partisipasi Indonesia dalam rantai pasok perdagangan global terutama backward linkage yakni proporsi produk impor yang memiliki nilai tambah untuk diekspor kembali mencapai 10,1% pada 2017 (ADB dan IDB, 2019). Jelas, kondisi ini bisa berdampak pada aktivitas perekonomian domestik karena salah satu keunggulan komparatif Indonesia pada sektor manufaktur.

Kita ingat beberapa waktu lalu, kalangan ekonom sudah mewanti-wanti bahwa dampak wabah dapat menyamai kehancuran akibat perang, krisis keuangan, dan bencana lingkungan. Krisis penyakit menular bisa menyebabkan disrupsi ekonomi dan kemanusiaan yang luar biasa. Oleh karena itu upaya mencegah sentimen negatif penyebaran virus corona dan perlambatan ekonomi global perlu menjadi perhatian serius bersama.

Untuk menjaga stabilitas pertumbuhan nasional, pemerintah telah memberikan insentif dengan cara menerbitkan Paket Kebijakan Fiskal senilai Rp 10,3 triliun. Anggaran itu diambil dari dana cadangan di APBN 2020, yang akan disalurkan antara lain melalui tambahan manfaat Kartu Sembako dari sebelumnya Rp 150.000 menjadi Rp 200.000, diskon liburan, serta insentif bagi maskapai dan agen perjalanan yang bisa mendatangkan wisatawan mancanegara dan lokal.

Bagaimanapun, imbas terdekat akibat wabah ini adalah di sektor pariwisata. Karantina dan larangan perjalanan lintas negara berdampak pada jumlah kunjungan turis ke Indonesia. Data BPS  mencatat ada 16,107 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2019. Kini sudah saatnya faktor non-ekonomi seperti risiko kesehatan, terorisme, dan perubahan iklim perlu diakomodasi dalam analisis ekonomi makro secara komprehensif. Karena pengalaman sejarah, bahwa krisis penyakit menular merupakan salah satu risiko terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi global.

BERITA TERKAIT

Kesadaran Kebiasaan Baru

Pandemi Covid-19 di Indonesia hingga kini belum juga kunjung mereda. Terhitung sejak 2 Maret 2020 hingga kini, berarti lebih dari…

Disiplin Protokol Kesehatan

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi telah memerintahkan TNI dan Polri untuk mengawal disiplin protokol kesehatan terhadap segala aktivitas masyarakat, agar…

Menyiasati Resesi Ekonomi

Indonesia mau tidak mau harus menghadapi risiko pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 dipastikan resesi. Pasalnya, sudah banyak negara terlebih dulu…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Kesadaran Kebiasaan Baru

Pandemi Covid-19 di Indonesia hingga kini belum juga kunjung mereda. Terhitung sejak 2 Maret 2020 hingga kini, berarti lebih dari…

Disiplin Protokol Kesehatan

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi telah memerintahkan TNI dan Polri untuk mengawal disiplin protokol kesehatan terhadap segala aktivitas masyarakat, agar…

Menyiasati Resesi Ekonomi

Indonesia mau tidak mau harus menghadapi risiko pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 dipastikan resesi. Pasalnya, sudah banyak negara terlebih dulu…