DAYA BELI MASYARAKAT TURUN HINGGA MINUS 5,5% - BPS: Pertumbuhan Kuartal II-2020 Minus 5,3%

Jakarta-Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 minus 5,3% secara year on year (yoy). Kalau dibandingkan dengan triwulan I-2020 (q to q) tercatat minus 4,9%. Pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi yang terendah sejak triwulan I-1999 yang saat itu mencapai minus 6,13%.

NERACA

Menurut data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 sebesar minus 4,9%. Dengan demikian, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi semester I tahun ini tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,26% dibandingkan semester I tahun lalu.

"Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 secara yoy mengalami kontraksi 5,32%. Kalau dibandingkan secara Q to Q dengan triwulan I maka pertumbuhan ekonomi sebesar minus 4,19%,” ujar Suhariyanto dalam keterangan pers secara virtual di Jakarta, Rabu (5/8).

Dia mengatakan, pandemi virus Covid-19 membawa dampak yang luar biasa bagi perekonomian. Beberapa negara di dunia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. "Catatan peristiwa mengenai apa yang terjadi di triwulan II-2020, Covid-19 membawa dampak yang luar biasa buruk dan membawa efek domino masalah kesehatan ke masalah ekonomi dan sosial," ujarnya.

Menurut Suhariyanto, pihaknya belum akan melakukan revisi data pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini. Hal tersebut nantinya akan dilakukan pada akhir tahun sebagaimana biasanya. "Tidak ada revisi pada triwulan II. Kalau ada revisi biasanya dilakukan pada akhir tahun," ujarnya.

Dia berharap pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun ini akan membaik seiring dilakukannya pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota. Namun, pertumbuhan ekonomi akan membaik apabila penanganan penyebaran pandemi virus Corona dilakukan dengan optimal.

"Saya ajak semua membangun optimisme. Sejak adanya relaksasi PSBB di Juni sudah ada geliat dibandingkan apa yang terjadi di Mei meskipun belum normal. Jadi di triwulan III ini kita harus bergandeng tangan dan optimis sehingga ekonomi bergerak dan yang paling penting gerakan protokol kesehatan supaya Covid- nya betul betul tidak menyebar kemana-mana," tutur dia.

Negara negara di dunia, menurut dia, berupaya menyelamatkan ekonomi dengan mengutamakan kesehatan rakyatnya. Hal tersebut juga dilakukan oleh Indonesia. "Virus Corona juga menghantam UMKM hingga korporasi. Banyak kebijakan yang dilakukan oleh berbagai negara semuanya mengutamakan kesehatan," ujarnya.

Suhariyanto mengakui, pandemi Covid-19 menyebabkan hampir seluruh negara mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. Berbagai kebijakan untuk menekan penyebaran Covid-19 seperti penutupan sekolah, bisnis, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga lockdown mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi. “Pandemi Covid-19 telah menciptakan efek domino dari masalah sosial dan ekonomi, dan dampaknya menghantam seluruh lapisan masyarakat mulai dari rumah tangga, UMKM hingga korporasi," ujarnya.

Daya Beli Merosot

Tidak hanya itu. BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2020 turun hingga minus 5,51%.  Angka tersebut jauh merosot di bawah konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2020 sebesar 2,83%.

Menurut Suhariyanto, pelemahan terdapat pada seluruh komponen konsumsi rumah tangga. Hanya dua yang tumbuh melambat yaitu komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga serta komponen kesehatan dan pendidikan. "Apa yang terjadi pada konsumsi rumah tangga sehingga mengalami kontraksi yang dalam sebesar 5,51%. Seluruh komponen rumah tangga mengalami kontraksi," ujarnya.

Pertumbuhan negatif paling dalam terlihat pada restoran dan hotel. Penjualan eceran juga mengalami kontraksi pada seluruh kelompok penjualan antara lain makanan, minuman dan tembakau. "Penjualan wholesale mobil penumpang dan sepeda motor juga mengalami kontraksi. Jumlah penumpang angkutan rel, laut dan udara terkontraksi. Nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kartu kredit terkontraksi," ujarnya.

Dua komponen rumah tangga yang masih tumbuh tetapi melambat adalah perumahan dan perlengkapan rumah tangga. Hal tersebut terlihat dari konsumsi listrik yang meningkat dibanding biasanya. "Di sana bisa terlihat bahwa volume penjualan listrik PLN ke rumah tangga itu masih tumbuh 11,99 persen. Sementara kesehatan dan pendidikan indikatornya adanya klaim bruto BPJS Kesehatan dan ketenagakerjaan," tutur dia.

Pandemi ini membuat harga komoditas anjlok. Misalnya, harga minyak Indonesia atau ICP (Indonesia Crude Price) anjlok 57,9% secara yoy. Harga komoditas hasil tambang di pasar internasional seperti timah, aluminium, tembaga juga mengalami penurunan baik quartal to quartal (q to q) dan yoy. "Sementara harga komoditas makanan seperti gandum, minyak kelapa sawit dan kedelai mengalami penurunan q to q, tetapi meningkat secara yoy," ujar Suhariyanto.

Kemudian, penjualan mobil turun 85,02% (yoy), sepeda motor secara wholesale juga turun 79,70%, produksi semen minus 9,08% dan pengadaan semen turun 7,69%. "Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia juga turun 81,49% q to q dan 87,81% yoy," ujar Suhariyanto.

Lalu, negara-negara mitra dagang Indonesia juga mengalami kontraksi ekonomi di kuartal II-2020, seperti Amerika Serikat yang minus 9,5% (yoy), Singapura minus 12,6%, Korea Selatan minus 2,9%, Hong Kong minus 9% dan Uni Eropa minus 14,4%.

BPS juga mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi negatif terjadi hampir seluruh provinsi di Indonesia kecuali Maluku dan Papua. "Pertumbuhan ekonomi di seluruh pulau mengalami pertumbuhan negatif kecuali Maluku dan Papua," ujar Suhariyanto.

Dia merinci pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa terkontraksi sebesar minus 6,69%, Sumatera tumbuh negatif 3,01%, Kalimantan kontraksi minus 4,35% dan Sulawesi kontraksi minus 2,76%. "Kenapa di Maluku dan Papua masih positif 2,36%? Karena pertumbuhan ekonomi khusus untuk Papua dan Papua Barat masih tumbuh positif karena basenya pada tahun lalu pada dua provinsi ini tumbuhnya adalah negatif," tutur dia.

Pertumbuhan positif di Papua dan Maluku salah satunya juga disumbang oleh adanya peningkatan produksi tembaga dan emas di Papua. Sementara itu, di Papua Barat juga ada peningkatan produksi gas alam atau LNG (Liquefied natural gas). "Pada triwulan ini ada peningkatan produksi tembaga dan emas sehingga pertumbuhan ekonominya di Papua tumbuh. Hal yang sama juga terjadi di Papua Barat karena adanya peningkatan produksi LNG," ujarnya.

Meskipun mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan lalu, Jawa dan Sumatera masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kedua pulau tersebut menyumbang hampir 80% perekonomian Indonesia.

"Secara spasial Pulau Jawa dan Sumatera masih memberikan kontribusi besar pada perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020. Sumbangan dari Jawa dan Sumatera itu adalah sebesar 80,04%,” ujarnya.  bari/mohar/fba

 

BERITA TERKAIT

DALAM MENJALANKAN PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN - Presiden Minta K/L Bekerja Solid dan Terintegrasi

Jakarta-Presiden Jokowi meminta kementerian dan lembaga (K/L) tidak menjalankan program sektoral yang terkesan jalan sendiri dan melengkapi satu sama lain.…

Industri Manufaktur Berpeluang Bangkit Saat Pandemi

NERACA Jakarta - Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Mukhaer Pakkana, mengatakan sektor industri manufaktur nasional memiliki kesempatan bangkit…

REALISASI ANGGARAN PEN BARU 21,1% - Ekonomi RI Diprediksi Kembali Normal pada 2023

  Jakarta-Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) melaporkan hingga 16 September 2020, realisasi anggaran kesehatan dalam PEN baru…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

DALAM MENJALANKAN PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN - Presiden Minta K/L Bekerja Solid dan Terintegrasi

Jakarta-Presiden Jokowi meminta kementerian dan lembaga (K/L) tidak menjalankan program sektoral yang terkesan jalan sendiri dan melengkapi satu sama lain.…

Industri Manufaktur Berpeluang Bangkit Saat Pandemi

NERACA Jakarta - Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Mukhaer Pakkana, mengatakan sektor industri manufaktur nasional memiliki kesempatan bangkit…

REALISASI ANGGARAN PEN BARU 21,1% - Ekonomi RI Diprediksi Kembali Normal pada 2023

  Jakarta-Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) melaporkan hingga 16 September 2020, realisasi anggaran kesehatan dalam PEN baru…