Hari Hepatitis Sedunia: Jenis, Gejala, Pencegahan Penyakit

Setiap tanggal 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Hari ini ditetapkan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap penyakit hepatitis B dan C. Pasalnya, mengutip berbagai sumber, banyak orang di seluruh dunia menderita hepatitis B atau C. Namun penyakit ini masih tak terlalu dapat perhatian dibanding AIDS. Sementara jika dibiarkan, hepatitis B dan C bisa menyebabkan berbagai penyakit lain seperti sirosis hati, kanker hati, atau gagal hati.

Di Indonesia sendiri, angka hepatitis juga meningkat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2013, prevalensi pengidap hepatitis di Indonesia adalah 1,2 persen, dua kali lebih tinggi dibandingkan tahun 2007. Jenis hepatitis yang paling banyak menginfeksi adalah hepatitis B (21, 8 persen) dan hepatitis A (19,3 persen).

Lima provinsi dengan prevalensi tertinggi hepatitis adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku. Sedangkan berdasar Riskesdas 2018, prevalensi ini meningkat dari 0,2 (pada 2007) menjadi 0,4 (pada 2018) di seluruh Indonesia. Ini merupakan prevalensi berdasarkan diagnosis dokter spesialis dan umum di seluruh provinsi Indonesia. Sayangnya tidak disebutkan berapa jumlahnya.

Namun provinsi tertinggi yang hidup dengan hepatitis adalah Papua, NTB, Sulteng, Gorontalo, dan Sulbar. Sedangkan yang mengalami penurunan jumlah adalah Aceh.

Mengenal Gejala Hepatitis B

Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat penyakit ini masih jadi masalah global.

Pada 2018 lalu, setidaknya ada 300 juta orang di dunia yang tercatat menderita hepatitis B (HBV) mematikan. Hanya saja, menurut studi yang dipublikasikan jurnal Lancet Gastroenterology and Hepatology, Selasa (27/3), hanya 1 dari 20 orang terjangkit HBV yang menerima penanganan medis yang layak. Hepatitis B bisa terjadi melalui dua cara, yakni transmisi vertikal dan transmisi horizontal.

Penularan atau transmisi vertikal hanya terjadi pada ibu yang terinfeksi virus HBV pada bayinya. Melansir dari laman resmi WHO, di wilayah yang tinggi kasus hepatitis B, transmisi vertikal adalah transmisi yang paling umum terjadi. penularan dari ibu ke bayi yang dikandung melalui dua cara. Pertama, HBV mencapai janin dengan menembus plasenta. Selama perjalanannya, virus bisa menginfeksi dan mereplikasi semua jenis sel plasenta sebelum mencapai janin.

Kedua, saat persalinan. Ini paling sering ditemukan pada transmisi vertikal. Penularan hepatitis B terjadi saat bayi baru lahir mengalami kontak dengan sekresi atau darah ibu yang terinfeksi saat proses persalinan.

Pencegahan bisa dilakukan dengan cara melakukan identifikasi ibu hamil yang terinfeksi HBV dengan cara memberikan vaksin immunoglobulin Hepatitis B dan vaksin hepatitis B pada bayi mereka dalam kurun waktu 12 jam setelah lahir.

Sedangkan penularan melalui transmisi horisontal berarti penularan dari penderita ke orang lainnya. Misalnya dengan menggunakan jarum suntik tidak steril, tato, tindik, penggunaan pisau cukur bergantian atau hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi.  hubungan seksual bisa jadi media penularan karena kontak dengan air mani, air liur, darah atau cairan vagina pasangan.

Gejala Hepatitis B

Setelah terinfeksi virus, gejala hepatitis B tak akan langsung timbul. Butuh waktu sekitar 1-6 bulan setelah infeksi. Gejala hepatitis B bisa berupa jaundice (penyakit kuning) di mana kulit dan mata jadi menguning, air kencing berubah menjadi oranye atau cokelat, begitu pula dengan feses. Selain itu terjadi demam, lemah, juga masalah pada pencernaan misalnya mual, muntah, hilang nafsu makan, dan terasa sakit.

Mengenal Hepatitis C

Penyakit ini termasuk yang sulit dideteksi. Sama seperti Hepatitis B, gejala penyakitnya tak muncul di awal infeksi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C, HCV. Sampai saat ini belum ada vaksin tersedia untuk mencegah penyakit ini.

Hepatitis C terbagi ke dalam dua jenis, di antaranya akut dan kronis. Hepatitis C akut umumnya berlangsung dalam waktu yang lebih pendek sekitar enam bulan. Sementara hepatitis C kronis dimungkinkan akan 'menetap' dalam tubuh seumur hidup.

Gejala Hepatitis C

Seperti diungkapkan sebelumnya, gejala hepatitis C sulit dideteksi. Gejala awal biasanya terjadi 6-7 pekan setelah terkena virus. Beberapa di antaranya adalah demam, lelah, nafsu makan menurun.

Dalam tingkat lebih parah, penderita bisa mengalami mengalami mual atau muntah, sakit perut, nyeri sendi, kelainan pada urine atau tinja, serta mata dan kulit yang menguning.

 

BERITA TERKAIT

Herbalife Nutrition Rayakan Anniversary ke-22 dengan Konser Virtual

Herbalife Nutrition menggelar konser virtual dalam rangka merayakan Anniversary yang ke-22 di Indonesia. Kegiatan ini sebagai awal dari rangkaian kegiatan…

Mencari Setetes Darah di Tengah Pandemi Covid-19

Ni Ken Ritchie, Kepala Unit Transfusi Darah PMI DKI Jakarta, terus memutar otak demi memenuhi stok darah. Tak dimungkiri semenjak…

Menu Diet Golongan Darah B untuk Turunkan Berat Badan

Golongan darah B dikenal sebagai golongan darah yang paling fleksibel dalam mengonsumsi makanan. Terlebih jika makanan yang dikonsumsi mengandung nutrisi…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Herbalife Nutrition Rayakan Anniversary ke-22 dengan Konser Virtual

Herbalife Nutrition menggelar konser virtual dalam rangka merayakan Anniversary yang ke-22 di Indonesia. Kegiatan ini sebagai awal dari rangkaian kegiatan…

Mencari Setetes Darah di Tengah Pandemi Covid-19

Ni Ken Ritchie, Kepala Unit Transfusi Darah PMI DKI Jakarta, terus memutar otak demi memenuhi stok darah. Tak dimungkiri semenjak…

Menu Diet Golongan Darah B untuk Turunkan Berat Badan

Golongan darah B dikenal sebagai golongan darah yang paling fleksibel dalam mengonsumsi makanan. Terlebih jika makanan yang dikonsumsi mengandung nutrisi…