Pasang Target Konservatif - Intiland Putuskan Tunda Bagikan Dividen

NERACA

Jakarta – Tahun 2020 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi industri properti, termasuk PT Intiland Development Tbk (DILD). Pasalnya, dampak pandemi Covid-19 membuat perseroan tunda ekspansi bisnis dan bahkan menargetkan bisnis lebih konservatif demi menjaga kelangsungan usaha. Maka tidak heran, hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) menyepakati untuk tidak membagikan dividen.

Direktur Intiland Development, Archied Noto Pradono mengatakan, perseroan memutuskan untuk tidak membagikan dividen atas laba yang diperoleh tahun 2019. Seluruh laba bersih yang diperoleh perseroan akan digunakan sebagai laba ditahan sebesar Rp249,4 miliar.”Sementara sisa Rp2 miliar akan kami gunakan sebagai cadangan wajib," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Archied mengakui, industri properti menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi virus Corona. Banyak konsumen dan investor properti cenderung bersikap menunggu kondisi membaik dan memilih untuk menunda dulu pembelian. “Hampir semua developer menghadapi tantangan yang cukup berat, termasuk dampak dari pandemi Covid-19. Meskipun daya beli pasar tetap ada, konsumen memilih untuk menunda pembelian atau investasi. Penjualan properti masih didominasi pasar end user, terutama di segmen menegah ke bawah,” kata Archied.

Sampai akhir kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp830,6 miliar atau turun 6,4% dibandingkan priode yang sama tahun lalu senilai Rp887,6 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya pengakuan pendapatan dari segmen mixed-use dan high rise, serta kawasan perumahan. Pendapatan pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi terbesar, yakni mencapai Rp546,8 miliar atau 82,3% dari keseluruhan.

Disebutkan, perolehan tersebut bersumber dari segmen pengembangan mixed-use dan high rise senilai Rp455,1 miliar dan kawasan perumahan sebesar Rp91,7 miliar.“Di kuartal pertama tahun ini, kami juga melakukan penjualan lahan seluas 3,2 hektar di Surabaya senilai Rp58,3 miliar. Lahan ini masuk kategori inventori dan bukan termasuk aset utama yang akan dikembangkan dalam waktu dekat,” ungkap Archied.

Perseroan juga memperoleh pendapatan usaha yang bersumber dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) sebesar Rp159,6 miliar atau 17,7% dari keseluruhan. Pendapatan usaha dari segmen ini meningkat 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp157,1 miliar. Sebagai tambahan, DILD juga memperoleh pendapatan derivatif senilai Rp124,1 miliar. Pendapatan atas bunga ini merupakan dampak atas penerapan pernyataan standar akutansi keuangan baru yang berlaku mulai awal tahun 2020.

Perseroan tercatat membukukan laba usaha sebesar Rp234,9 miliar atau meningkat 27,6% dibandingkan perolehan kuartal I/2019. Peningkatan ini mendorong perolehan laba bersih sebesar Rp84,4 miliar atau melonjak 74,4% dibandingkan kuartal I tahun lalu senilai Rp48,4 miliar.

BERITA TERKAIT

Tender TPPI Berjalan Secara Transparan dan Bersih

Kabar baik muncul dari rencana pembangunan pusat produksi olefin dan aromatik di kompleks PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Impian…

PT Timah Siap Lunasi Obligasi Rp 600 Miliar

NERACA Jakarta –Pangkas beban utang dan juga menunjukkan eksistensi bahwa PT Timah Tbk (TINS) masih menjalankan keberlangsungan usaha yang positif…

Minim Sentimen Positif - Aksi Profit Taking Investor Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (24/9) sore ditutup melemah seiring tekanan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Tender TPPI Berjalan Secara Transparan dan Bersih

Kabar baik muncul dari rencana pembangunan pusat produksi olefin dan aromatik di kompleks PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Impian…

PT Timah Siap Lunasi Obligasi Rp 600 Miliar

NERACA Jakarta –Pangkas beban utang dan juga menunjukkan eksistensi bahwa PT Timah Tbk (TINS) masih menjalankan keberlangsungan usaha yang positif…

Minim Sentimen Positif - Aksi Profit Taking Investor Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (24/9) sore ditutup melemah seiring tekanan…