Prakarsa: Sekitar 21 juta Penduduk Miskin Rentan Covid-19

NERACA

Jakarta-Lembaga riset Prakarsa mengungkapkan 21,43 juta penduduk miskin multidimensi masuk dalam kelompok berisiko terinfeksi virus corona atau Covid-19. Jumlah tersebut setara 99% dari total penduduk miskin multidimensi Indonesia yang pada 2018 mencapai 21,58 juta orang.

Direktur Eksekutif Prakarsa AH Maftuchan mengatakan hanya sekitar 150 ribu orang miskin multidimensi di Indonesia yang relatif tahan terhadap risiko infeksi Covid-19. "Jadi, kelompok miskin multidimensi itu nyaris semuanya rentan Covid-19," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/7).

Dia menambahkan dari jumlah 21,43 juta orang tersebut, sekitar 1,27 juta di antaranya berada dalam tingkat risiko tinggi. Pasalnya, mereka hidup dengan kualitas air minum yang buruk, malnutrisi pada balita, dan memasak dengan bahan bakar yang berpolusi tinggi secara bersamaan.

Dia mengatakan korelasi positif antara jumlah orang berisiko terinfeksi Covid-19 dengan penduduk yang hidup dalam kondisi miskin multidimensi mengimplikasikan semakin banyak jumlah orang yang berisiko terinfeksi Covid-19 di suatu provinsi, semakin besar pula jumlah orang miskin multidimensi yang memiliki risiko tinggi terinfeksi Covid-19. "Kemudian, bisa saja Covid-19 menyebabkan kemiskinan multidimensi bertambah," katanya.

Untuk diketahui, perhitungan kemiskinan multidimensi dalam studi ini berbasis pada Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM) Indonesia yang disusun oleh Prakarsa. Penyusun IKM Indonesia terdiri dari tiga dimensi, meliputi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Prakarsa mengidentifikasi kemiskinan multidimensi dari data penduduk miskin di 2018.

Dimensi kesehatan disusun dari tiga indikator, yakni sanitasi, air minum, dan gizi balita. Lalu, dimensi pendidikan dari dua indikator, yaitu pendidikan anak usia dini dan keberlanjutan sekola.

Sedangkan dimensi standar hidup terdiri dari tiga indikator, yakni sumber penerangan, bahan bakar memasak, dan kondisi atap, lantai, dan dinding rumah. Penduduk yang masuk kategori kemiskinan multidimensi itu, terdeprivasi (memiliki kekurangan) setidaknya sepertiga dari indikator-indikator di dalam dimensi IKM.

Selain itu, hasil riset mengungkapkan sebanyak 176,04 juta orang masuk dalam kelompok berisiko terinfeksi virus corona. Jumlah itu mewakili 66,62% dari total penduduk Indonesia sebanyak 264 juta orang.

Menariknya, Prakarsa menemukan jika 176,04 juta orang tersebut terdeprivasi salah satu dari tiga indikator IKM. Meliputi, air minum, asupan gizi balita, dan bahan bakar memasak. Ia menuturkan dari ketiga indikator tersebut, deprivasi di indikator air minum merupakan penyebab utama mereka masuk ke dalam kelompok berisiko virus corona. "Deprivasi di air minum berkontribusi sebesar 70%,  asupan gizi balita 5%, dan bahan bakar memasak 25% terhadap kelompok berisiko," ujarnya seperti dikutip cnnindonesia.com.

Secara terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 26,42 juta pada Maret 2020. Dengan jumlah tersebut, tingkat kemiskinan sebesar 9,78% dari total populasi nasional.

Jumlah tersebut meningkat dari 24,79 juta orang atau 9,22% dari total populasi pada September 2019. Lebih tinggi pula dari 25,14 juta orang atau 9,41% dari total populasi pada Maret 2019. "Jumlah penduduk miskin naik 1,63 juta orang dari September 2019 dan naik 1,28 juta dari Maret 2019," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, kemarin.

Dia mengatakan peningkatan jumlah penduduk miskin terjadi karena pengaruh menurunkan pendapatan masyarakat sejak pandemi virus corona atau covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020.

"Hasil survei pendapatan seluruh masyarakat menurun, khususnya masyarakat berpendapatan rendah, di mana 7 dari 10 masyarakat pendapatan rendah di bawah Rp1,8 juta terpengaruh. Masyarakat pendapat tinggi di atas Rp2,7 juta juga turun pendapatannya," ujarnya.

Secara rinci, jumlah penduduk miskin di desa meningkat jadi 12,82% dari 12,6% pada September 2019. Sementara di kota naik dari 6,56% menjadi 7,38% dari total populasi. “Peningkatan kemiskinan di perkotaan jauh lebih tinggi dari desa," tutur dia. groho/mohar

 

BERITA TERKAIT

PEMERINTAH TEBAR SUBSIDI BUNGA DAN DISKON LISTRIK - Airlangga: Realisasi Stimulus UMKM Baru 26,4%

Jakarta-Di tengah upaya pemerintah meningkatkan daya beli masyarakat melalui berbagai stimulus termasuk diskon biaya listrik, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat…

Pemerintah Yakin Ekonomi akan Tumbuh Positif

  NERACA Jakarta – Pemerintah masih meyakini ekonomi Indonesia akan tumbuh positif di tengah pandemi. Di kuartal I, ekonomi masih…

KALANGAN AKADEMISI DAN PENELITI SEPAKAT - RUU Ciptaker Berdampak Positif bagi Ekonomi RI

Jakarta-Kalangan akademisi dan peneliti sepakat, penyederhanaan perizinan dalam Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) kelak berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

PEMERINTAH TEBAR SUBSIDI BUNGA DAN DISKON LISTRIK - Airlangga: Realisasi Stimulus UMKM Baru 26,4%

Jakarta-Di tengah upaya pemerintah meningkatkan daya beli masyarakat melalui berbagai stimulus termasuk diskon biaya listrik, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat…

Pemerintah Yakin Ekonomi akan Tumbuh Positif

  NERACA Jakarta – Pemerintah masih meyakini ekonomi Indonesia akan tumbuh positif di tengah pandemi. Di kuartal I, ekonomi masih…

KALANGAN AKADEMISI DAN PENELITI SEPAKAT - RUU Ciptaker Berdampak Positif bagi Ekonomi RI

Jakarta-Kalangan akademisi dan peneliti sepakat, penyederhanaan perizinan dalam Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) kelak berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.…