Upaya Cegah Resesi Ekonomi

Untuk mencegah perekonomian tidak tenggelam dalam resesi, Indonesia harus mengambil langkah cepat dan efektif di era pandemi Covid-19. Pasalnya, pandemi covid-19 memberikan guncangan besar terhadap perekomian dunia, termasuk negeri ini. Karena persoalan Covid-19 semakin memberikan tekanan pada sisi supply yang memang sudah bermasalah, bahkan sejak beberapa tahun terakhir.

Patut diketahui, stimulus dari sisi supply akan memberikan efek pengganda bagi perekonomian. Karena itu, tekanan pada sisi supply ini juga bisa menghadirkan fenomena yang disebut 'keynesian supply shocks'. Fenomena itu cukup memberi masalah karena tekanan berlebihan pada sisi supply ini kemudian memberikan tekanan lintas sektor sebagai akibat dari sisi demand yang juga ikut terdampak.

Akibatnya, menurut dosen FEB-UI Fithra Faisal Hastiadi, efek domino akan terjadi. Semua sektor ekonomi, tanpa terkecuali, akan terdampak cukup signifikan. Rangkaian simulasi yang dilakukan Next Policy menghasilkan skenario pertumbuhan ekonomi terberat mungkin saja terjadi jika mitigasi pandemi tidak bisa dilakukan secara optimal. Dalam simulasi ini, skenario pertumbuhan minus 0.8% berimplikasi pada peningkatan angka pengangguran hingga 20 juta orang.

Tidak hanya itu. Kondisi terberat sempat kita alami sepanjang Maret ketika rupiah sempat mencapai Rp17.000 per US$, dimana kondisi fundamental rupiah sebenarnya pada level yang cukup baik karena moncernya neraca dagang dan juga ekspansi moneter yang cukup agresif di Amerika Serikat dan Eropa. Akan tetapi, rupiah lebih banyak ditarik oleh ketakutan pasar akibat melawan musuh yang tidak terlihat. Untungnya pasar sudah relatif normal menjelang April karena kebijakan pemerintah mulai kelihatan arahnya dan pengumuman paket stimulus yang disambut baik.

Namun, fenomena market fear ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dikontrol. Karena itu, bisa saja mendorong rupiah kembali tertekan ke level yang berisiko. Rupiah menjadi salah satu indikator yang patut dicermati mengingat hasil stress test OJK menunjukkan perbankan akan terpapar risiko sistemis apabila kurs rupiah terhadap dolar AS tembus di level Rp20.000.

Sejak 2018, setidaknya ada 15 bank memiliki risiko sistemik jika terdorong gejolak eksternal. Jika bank tersebut gagal, risiko krisis keuangan akan semakin besar karena akan menimbulkan perilaku herd behaviour yang dapat memicu rush money. Skenario itu tentu memiliki implikasi sosial-ekonomi yang cukup besar. Dengan angka pengangguran yang diperkirakan melonjak hingga 20 juta orang (skenario berat) dan juga ada kelompok rentan miskin yang cukup besar, skenario rush money akan menjalar ke permasalahan social unrest.

Untuk mencegah ini, pemerintah perlu melakukan beberapa hal. Pertama, mitigasi pandemi dengan baik sehingga kepercayaan pasar bisa lebih terkelola. Kedua, mempercepat eksekusi stimulus, terutama pada kelompok rentan miskin. Untungnya Menkeu Sri Mulyani Indrawati sudah cukup waspada terhadap potensi negatif dari pandemi ini. Menkeu sudah serius melakukan langkah-langkah mitigasi demi menangkis dampak dari Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia, mengingat dampak ekonomi dari virus ini memang cukup serius.

Salah satunya dengan memperluas cakupan jaring pengaman sosial serta penambahan dana stimulus hingga Rp677,2 triliun yang mencakup program Pemulihan Ekonomi Nasional. Anggaran tersebut terinci menjadi dua bagian yaitu dari sisi demand dan supply. Dari sisi demand, pemerintah menganggarkan dana Rp205,20 triliun yang akan digunakan untuk perlindungan sosial. Dari sisi supply, anggaran yang dialokasikan ialah sebesar Rp384,45 triliun untuk menolong sektor usaha serta para pelaku industri agar bisa tetap beroperasi dan bertahan.

Meski demikian menurut kami, idealnya stimulus tersebut bisa ditingkatkan hingga Rp1.000 triliun dengan mempertimbangkan kebutuhan perluasan jaring pengaman sosial, kebutuhan modal kerja UMKM. Bagaimanapun, berkaca pada Australia, Singapura, Malaysia dan AS yang menggelontorkan stimulus rata-rata 10% dari PDB, Indonesia seharusnya masih dapat menggelontorkan stimulus ekonomi hingga 10% dari PDB. Ini untuk mencegah negara kita terjebak dalam jurang resesi. Semoga.

 

BERITA TERKAIT

Daya Beli Kunci Pemulihan Ekonomi

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda hingga saat ini, pemerintah perlu berupaya mengangkat daya beli masyarakat yang sekarang dalam…

Mitigasi OTG Perlu Ketat

Peningkatan kasus positif Covid-19 di dalam negeri bekalangan ini cenderung meningkat. Kasus terbaru adalah terjadinya peningkatan kasus positif di klaster…

Bahaya Belajar Tatap Muka

Meski Kebijakan Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan pendidikan tatap muka di sekolah zona kuning Covid-19, kalangan epidemiologi meragukannya, salah satunya karena…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Daya Beli Kunci Pemulihan Ekonomi

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda hingga saat ini, pemerintah perlu berupaya mengangkat daya beli masyarakat yang sekarang dalam…

Mitigasi OTG Perlu Ketat

Peningkatan kasus positif Covid-19 di dalam negeri bekalangan ini cenderung meningkat. Kasus terbaru adalah terjadinya peningkatan kasus positif di klaster…

Bahaya Belajar Tatap Muka

Meski Kebijakan Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan pendidikan tatap muka di sekolah zona kuning Covid-19, kalangan epidemiologi meragukannya, salah satunya karena…