Pentingnya Sistem Pembayaran di Era Covid-19

 

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

 

Perekonomian dunia diperkirakan akan mengalami kebangkitan pesat pada tahun 2021 setelah dihantam oleh krisis ekonomi akibat Covid-19. Hal ini dapat terjadi karena sistem pembayaran memungkinkan kebijakan moneter dan fiskal dapat berjalan dengan baik. Unit-unit penting dalam sistem pembayaran seperti perbankan juga kokoh dalam menjalankan fungsinya sebagai instrumen dari sistem pembayaran. Namun demikian juga tidak boleh dilupakan adalah ancaman terhadap sistem pembayaran itu sendiri juga ada.

Untuk mengungkapkan keterkaitan ini diperlukan pendekatan analisis secara sistem karena kompleksnya permasalahan yang ditimbulkan oleh Covid-19. Pemikiran sistem berkontribusi secara signifikan terhadap penciptaan konsepsi baru realitas fenomenologis, sebagai sintesis pendekatan filosofis, sosiologis, matematis, fisik dan biologis, memengaruhi budaya dan nilai-nilai lazimnya yang didasarkan pada korpus aksiomatik pemikiran Cartesian, telah menetapkan dari revolusi paradigma, beralih dari pendekatan reduksionis-mekanistik ke realitas, dan memodifikasi model penyelidikan tradisional.

Setelah menyebar dengan cepat ke semua bidang studi, pendekatan sistem telah menjadi hasil refleksi, kontribusi teoretis, dan formalisasi, menciptakan pendekatan epistemologis untuk penelitian dan studi tentang realitas yang kompleks. Skenario kebangkitan ekonomi dari Covid-19 menuntut pendekatan sistem. Sayangnya semua skenario yang dibuat selama ini kurang memasukkan unsur analisis pendekatan sistem.

Lembaga yang menjamin sistem pembayaran global seperti Dana Moneter Internasional sepertinya ragu menerapkan skenario dari terjadinya infeksi Covid-19 gelombang kedua apalgi ketiga terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Lembaga OECD lebih berani mengeluarkan skenario pertumbuhan ekonomi dengan membuat kemungkinan akan terjadinya infeksi Covid-19 gelombang kedua namun juga tidak memasukkan kemungkinan terjadinya gelombang ketiga apalgi keempat.

Implikasinya bagi sistem pembayaran sangatlah berbeda, sehingga memang terkesan Dana Moneter Internasional tidak melihat terlalu banyak masalah terhadap sistem pembayaran. Sementara itu, Lembaga OECD membuka peluang adanya ancaman akan sistem pembayaran jika pertumbuhan ekonomi terkoreksi dua kali secara negatif. Namun demikian kedua lembaga ini belum melakukan analisis secara sistem yang lebih detail misalnya mengabaikan dampak negatif dari utang publik dunia yang terus meningkat yang seiring dengan meningkatnya neraca dari bank sentral.

Padahal di dunia ini hanya beberapa bank sentral yang berpengalaman dengan kebijakan moneter yang mengandalkan pembesaran neraca bank yaitu bank sentral Amerika Serikat, Eropa, Inggris, Kanada dan Jepang. Bank sentral lainnya hanya ikut-ikutan saja mengikuti pengalaman kepada bank sentral tersebut. Kebijakan moneter yang tidak tradisional ini merupakan refleksi dari semangat akan pentingnya sistem pembayaran di era krisis ekonomi modern. Pertanyaannya, mengapa kebijakan moneter yang berorientasi sistem pembayaran ini semakin popular?

Pada prinsipnya, ahli moneter telah mengembangkan teorinya di sekitar beberapa konsep utama yang diturunkan oleh disiplin ilmu lain, dari pemikiran sistem (aspek sistem terbuka), dari ilmu alam dan ekologi (khususnya aspek organik homeostasis dan kesetaraan  (Hannan dan Freeman, 1977)), dari disiplin kimia dan biologi (konsep pendalaman seperti autopoiesis (Maturana dan Varela, 1975)), dari sosiologi dan psikologi (teori pencerahan adalah kognitivisme (Clark, 1993)), dan dari teknologi informasi (khususnya merujuk pada akar-akar dasar dari Teknologi Informasi yaitu berdasarkan studi sibernetika (Beer, 1975).

Sudah ada penelitian mengenai hal tersebut (kebijakan moneter tidak tradisional), hanya saja memang belum menjadi pengetahuan umum. Adalah bank sentral Jepang yang pertama kali berani melakukan eksperimen. Langkah-langkah kebijakan non-tradisional dapat diklasifikasikan ke dalam mengelola ekspektasi suku bunga, pembelian aset yang ditargetkan dan pelonggaran kuantitatif, yang semuanya digunakan oleh Bank Sentral Jepang semenjak 1998 hingga 2006.

Apa yang disebut pelonggaran kredit dapat dianggap sebagai bagian dari pembelian aset yang ditargetkan. Dalam episode saat ini, pembelian aset yang ditargetkan atau pelonggaran kredit telah digunakan oleh sebagian besar bank sentral, sementara manajemen ekspektasi dan pelonggaran kuantitatif belum banyak digunakan. Kebijakan yang semakin mengandalkan kepada sistem pembayaran ini pada akhirnya digunakan di era Covid-19 oleh banyak sentral bank di dunia sehingga sistem pembayaran akan semakin memainkan peran yang sangat penting dalam mengatasi krisis-krisis perekonomian di masa depan.

BERITA TERKAIT

Peran Milenial dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Ethan Narendra, Ketua Forum Pegiat Medsos Independen Riau   Generasi milenial punya peranan penting sebagai agent of change…

Pemerintah Siapkan Bantuan bagi Pekerja

  Oleh : Sthira Yudistira, Mahasiswa PTS Bogor Kalangan pekerja akan mendapat bantuan langsung tunai sebesar 600.000 rupiah per bulan.…

Dana Abadi Pariwisata

    Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *)   Sebelum terjadinya bencana wabah pandemi Covid-19, pernah…

BERITA LAINNYA DI Opini

Peran Milenial dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Ethan Narendra, Ketua Forum Pegiat Medsos Independen Riau   Generasi milenial punya peranan penting sebagai agent of change…

Pemerintah Siapkan Bantuan bagi Pekerja

  Oleh : Sthira Yudistira, Mahasiswa PTS Bogor Kalangan pekerja akan mendapat bantuan langsung tunai sebesar 600.000 rupiah per bulan.…

Dana Abadi Pariwisata

    Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *)   Sebelum terjadinya bencana wabah pandemi Covid-19, pernah…