Indonesia Bergandengan India Hadapi Covid-19

Jakarta - Indonesia dan India sepakat memperkuat sinergi di bidang ekonomi untuk menghadapi tantangan pascapandemi Covid-19. Salah satunya, melalui penjajakan peluang kerja sama perdagangan serta investasi di bidang pengembangan farmasi untuk penanggulangan wabah Covid-19.

NERACA

Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto saat bertemu secara virtual dengan Menteri Perkeretaapian, Perdagangan, dan Industri India, Piyush Goyal, dalam Pertemuan ke-3 Biennial Trade Ministers’ Forum (BTMF) Indonesia-India membahas isu-isu perdagangan kedua negara.

“Pertemuan BMTF kali ini sangat penting mengingat kedua negara tengah dilanda pandemi Covid-19 dan menghadapi dampak penurunan pertumbuhan ekonomi global akibat Covid-19. Dengan pertemuan ini, kedua negara dapat terus melanjutkan dialog dan kerja sama dagang, serta mencari peluang yang dapat dikerjasamakan di tengah pandemi saat ini,” kata Agus.

Kedua menteri membahas berbagai isu ekonomi agar target perdagangan bilateral yang ditetapkan pemimpin kedua negara sebesar USD 50 miliar pada 2025 dapat tercapai, termasuk akses pasar di masing-masing negara yang selalu menjadi bahasan BTMF.

Selain itu, kedua menteri juga membahas berbagai upaya terobosan dalam menangani situasi ekonomi pascapandemi Covid-19. Kedua menteri menyambut baik perkembangan perdagangan bilateral tahun 2019 yang tercatat positif dan memahami tantangan berat yang akan dihadapi tahun ini dan tahun depan.

Menurut Agus, sebagai dua negara dengan penduduk terbesar di kawasan, Indonesia dan India sepakat membangun kolaborasi perdagangan.

Pada pertamuan tersebut, Kementerian Perdagangan selaku instansi pemerintah dibidang perdagangan meminta India agar dapat membantu membukakan akses produk Indonesia seperti minyak sawit dan produk turunannya (refined palm oil). Kemudian, perhiasan emas ban kendaraan dan produk pertanian khususnya pinang, gambir, teh karena tengah mengalami tekanan tarif dan nontarif.

Di bidang farmasi untuk penanggulangan wabah Covid-19, Agus mengajak Menteri Piyush memfasilitasi kerja sama antara pelaku usaha obat-obatan dan alat kesehatan. “India merupakan salah satu produsen utama obat-obatan dunia yang sangat berdaya saing. Untuk itu, saya mengajak Menteri Piyush untuk mendorong kerja sama antara pelaku usaha obat-obatan dan alat kesehatan, termasuk melalui investasi, sinergi produksi bahan baku obat, maupun pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia. Hal ini sejalan dengan fokus dan program pemerintah untuk memanfaatkan momentum pandemi guna membangun industri obat-obatan dan alat kesehatan di Indonesia,“ ungkap Mendag.

Indonesia, lanjut Agus, juga berkomitmen memberikan berkontribusi dalam upaya global penanganan Covid-19 dengan penghapusan larangan ekspor bahan baku masker, produk antiseptik, dan alat pelindung diri (APD); serta mengharapkan India dapat memberikan relaksasi atas sejumlah restriksi ekspor untuk produk alat kesehatan yang dibutuhkan Indonesia.

“Diharapkan momentum Covid-19 dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain global dalam industri alat-alat kesehatan,” ungkap Agus.

Dalam pertemuan BTMF ke-3 ini juga diadakan pertemuan virtual antar pelaku usaha Indonesia dan India untuk berdialog dengan kedua menteri. Delegasi bisnis Indonesia dipimpin Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional, Shinta Kamdani, dengan anggota delegasi dari perwakilan sejumlah perusahaan dan asosiasi yang secara intensif melakukan kontak dagang dengan India, antara lain dari sektor obat-obatan, energi, tekstil dan produk tekstil dan garmen, sepatu, makanan dan minuman, serta otomotif. Dalam sesi tersebut, perwakilan dunia usaha dari kedua negara turut memberi masukan agar hubungan perdagangan Indonesia-India tetap tumbuh positif di tengah pandemi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo mengungkapkan, salah satu hasil konkret dari pertemuan ini adalah terkait kesepakatan kedua negara untuk melakukan penjajakan perundingan dagang bilateral.

“Kedua menteri telah sepakat agar Indonesia dan India segera bertemu dan membahas isu-isu perdagangan secara lebih intensif. Kami di level teknis akan membahas tindak lanjut pertemuan

bilateral kedua menteri agar hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara berjalan lebih lancar,” ujar Iman.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Perdagangan, nilai total perdagangan kedua negara di tahun 2019 mencapai USD 16,1 miliar. India merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia terbesar ke-4 dengan nilai ekspor senilai USD 13,7 miliar dan sumber impor nonmigas ke-9 bagi Indonesia untuk tahun 2019 dengan nilai impor dari India senilai USD 5,0 miliar.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan 54,9 Ton Ikan Patin

NERACA Jakarta - Penyelundupan 54,97 ton ikan patin fillet, senilai Rp2,7 miliar berhasil digagalkan. Hal tersebut bermula dari pemantauan jajaran…

Buah Lokal Menggerakkan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta - Sebagai salah satu langkah extraordinary untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah meluncurkan Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-5. Gelaran ini…

PEN Harus Efektif dan Tepat Sasaran

NERACA Yogyakarta - Dampak dari wabah Covid-19 memang begitu dahsyat menerpa para pelaku usaha. Tak terkecuali, bagi para pedagang Pasar…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan 54,9 Ton Ikan Patin

NERACA Jakarta - Penyelundupan 54,97 ton ikan patin fillet, senilai Rp2,7 miliar berhasil digagalkan. Hal tersebut bermula dari pemantauan jajaran…

Buah Lokal Menggerakkan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta - Sebagai salah satu langkah extraordinary untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah meluncurkan Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-5. Gelaran ini…

PEN Harus Efektif dan Tepat Sasaran

NERACA Yogyakarta - Dampak dari wabah Covid-19 memang begitu dahsyat menerpa para pelaku usaha. Tak terkecuali, bagi para pedagang Pasar…