Ekonomi Rawan Sampai Kapan?

Kondisi perekonomian global sekarang berubah total setelah pandemi Covid-19 menjalar ke hampir seluruh negara. Sehingga, perekonomian global mengalami kejatuhan yang luar biasa, termasuk Indonesia terkena dampaknya.

Salah satu dampak berantai dari kejatuhan ekonomi dunia, adalah melemahnya sektor investasi, yang sebelumnya menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan investasi di era globalisasi telah berhasil mendukung pembangunan dan kemakmuran ekonomi di hampir semua negara. Khususnya, di negara-negara miskin dan sedang berkembang.

Kini yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah laju pertumbuhan investasi global akan tetap sama setelah munculnya krisis ekonomi yang disebabkan karena pandemi Covid-19? Salah satu aspek penting dalam investasi ialah ketersediaan dana atau modal. Namun, sayangnya setelah pandemi muncul, hampir semua negara mengalokasikan anggaran yang dimiliki untuk menangani krisis kemanusiaan.

Upaya untuk menyelamatkan nyawa manusia dari penularan virus Covid-19 menjadi agenda utama dari semua negara. Sehingga, kegiatan pembangunan lainnya dan investasi bukan lagi menjadi prioritas penting. Apabila kegiatan investasi tetap harus dijalankan, perlu dicermati mengenai sumber pembiayaannya dari mana, khususnya untuk investasi yang memerlukan biaya besar.

Tidak hanya itu. Bank sebagai salah satu sumber dana untuk membiayai kegiatan investasi tentunya akan sangat selektif dan sangat berhati-hati sekali. Mengingat, tingginya potensi kredit macet akibat pandemi. Tidak semua bank memiliki kemampuan yang sama dalam menyalurkan pinjaman, karena sebagian mungkin harus berkonsentrasi melakukan restrukturisasi kredit, ataupun berkurangnya sumber dana masyarakat. Sehingga, membuat mereka rentan sekali dalam menyalurkan pinjaman baru.

Fakta di lapangan memperlihatkan, dua pertiga pembiayaan investasi di Eropa masih bersumber dari bank. Namun, saat ini bank-bank tersebut lagi sibuk menghadapi potensi kredit macet dan berkurangnya likuiditas. Sehingga, kemampuan memberikan kredit baru menurun drastis. Sejumlah bank di negara maju maupun di negara sedang berkembang mengisyaratkan kemungkinan bail-out, sehingga bank tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya sebagai sumber utama untuk membiayai investasi.

Bank Dunia sendiri, yang biasanya memberikan pinjaman lunak untuk berbagai kegiatan investasi pembangunan infrastruktur di negara-negara sedang berkembang, telah memfokuskan dananya untuk bantuan darurat menangani penyebaran Covid-19. Kita berharap kondisi ini tidak menimbulkan credit crunch yang semakin mendalam dan mengganggu sumber pembiayaan untuk investasi. Turunnya credit rating Selain perbankan, pasar modal juga menjadi alternatif lain dalam pembiayaan investasi global. Sepertiga dari korporasi di Amerika Serikat masih mendapatkan sumber dana bank guna membiayai investasi mereka. Namun, dua pertiganya sudah mengandalkan pasar modal.

Peran pasar modal sebagai sumber dana untuk pembiayaan dan investasi melalui penerbitan saham dan obligasi oleh korporasi belum sepenuhnya optimal di saat selama pandemi berlangsung. Permasalahan utama ialah belum tentu sepenuhnya terserap pasar dan faktor credit rating dari korporasi tersebut. Era kebangkrutan korporasi sudah menunggu di depan mata akibat pandemi, sehingga credit rating dari korporasi mengalami degradasi. Lembaga rating S&P sudah menurunkan credit rating sekitar 500 perusahaan multinasional (MNCs) di seluruh dunia selama pandemi ini. Antara lain, raksasa mobil Ford dan Renault, Delta Air Lines, serta Kraft Heinz.  

S&P juga sudah menurunkan peringkat Indonesia dari stable menjadi negatif sebagai akibat pandemi ini. Sebagian negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin juga sudah mengalami penurunan investment grade semenjak pandemi ini terjadi. Dengan melihat fakta-fakta di atas, upaya pemulihan ekonomi global melalui pembiayaan dari jalur investasi tampaknya sulit diwujudkan dalam waktu yang cepat. Kesulitan likuiditas global telah menghantui semua negara, tidak terkecuali negara-negara maju. Sehingga, perlu dicarikan alternatif terobosan baru yang cerdas dan ekonomis.

BERITA TERKAIT

Daya Beli Kunci Pemulihan Ekonomi

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda hingga saat ini, pemerintah perlu berupaya mengangkat daya beli masyarakat yang sekarang dalam…

Mitigasi OTG Perlu Ketat

Peningkatan kasus positif Covid-19 di dalam negeri bekalangan ini cenderung meningkat. Kasus terbaru adalah terjadinya peningkatan kasus positif di klaster…

Bahaya Belajar Tatap Muka

Meski Kebijakan Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan pendidikan tatap muka di sekolah zona kuning Covid-19, kalangan epidemiologi meragukannya, salah satunya karena…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Daya Beli Kunci Pemulihan Ekonomi

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda hingga saat ini, pemerintah perlu berupaya mengangkat daya beli masyarakat yang sekarang dalam…

Mitigasi OTG Perlu Ketat

Peningkatan kasus positif Covid-19 di dalam negeri bekalangan ini cenderung meningkat. Kasus terbaru adalah terjadinya peningkatan kasus positif di klaster…

Bahaya Belajar Tatap Muka

Meski Kebijakan Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan pendidikan tatap muka di sekolah zona kuning Covid-19, kalangan epidemiologi meragukannya, salah satunya karena…