Antisipasi Ancaman Teror Saat Pandemi Covid-19

 

Oleh : Nur Sabariah, Mahasiswa IISIP Jakarta

Pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya mengancam sektor kesehatan dan perekonomian. Ancaman teroris saat pandemi ternyata masih sangat dimungkinkan, sehingga patut untuk diantisipasi bersama.

Diketahui selama akhir bulan April kemarin, Tim Detasemen Khusus (DENSUS) 88 Antiteror berhasil menangkap para terduga teroris di berbagai daerah, mulai dari Sidoarjo, Surabaya hingga Serang.

            Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridwan Habib mengatakan, ancaman terorisme tidak mengenal waktu. Tidak terkecuali dalam pandemi covid-19.

            Ridwan menyebutkan, ada 3 sikap kelompok teroris selama pandemi covid-19. Kelompok pertama memahami bahwa virus ini tidak mengenal calon korbannya. Oleh sebab itu, mereka cenderung tidak melancarkan aksinya.

            Kelompok kedua, menganggap pandemi covid-19 sebagai cobaan dari Tuhan, Menurut Ridwan, mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk merekrut kader-kader baru melalui daring. Selain itu, kelompok ini juga memanfaatkan situasi covid-19 untuk mendidik kader yang sudah direkrut sebelumnya.

            Sementara itu, kelompok ketiga meyakini bahwa pandemi covid-19 merupakan momentum untuk melakukan serangan terorisme. Hal tersebut dipilih karena kelompok ini menganggap bahwa aparat kepolisian sedang fokus menjalankan tugas yang berkaitan dengan covid-19.

            Bahkan mereka juga mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menyerang perusahaan yang memiliki karyawan dari China.

            Informasi yang salah mengenai asal-usul covid-19 menjadi pemicu mereka untuk menyerang perusahaan-perusahaan milik China. Selain itu, Ridwan mengatakan ada kelompok teroris yang berpikir menggunakan covid-19 itu sendiri untuk menyerang.

            Sebelumnya, densus 88 juga menangkap seorang berinisial AH di Surabaya. AH diketahui merupakan residivis yang telah menjalani masa hukuman di LP Madura. Tiga hari berikutnya, giliran MH, salah seorang terduga teroris yang ditangkap di Sidoarjo.

            Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adisaputra menyebut, MH berprofesi sebagai pegawai swasta. Saat ditangkap, Polisi menyita barang bukti berupa ponsel, buku catantan dan tiga buku lainnya.

            Pelaku yang telah ditangkap diduga bergabung dengan jaringan Jemaah Ansharut Daulah. Ridwan mengatakan di antara kegita sikap kelompok yang telah dipaparkannya. JAD cenderung memiliki sikap yang ketiga.

            Selain itu para teroris berpeluang menjadi penumpang gelap covid-19 yaitu penyebaran disinformasi alias hoaks atau serangan fisik pada simbol atau fasilitas publik vital.

            Situasi ini menuntut kewaspadaan terhadap aksi jaringan JAD menyusul seruan ISIS melalui majalahnya terkait dengan penyebaran corona.

            Meski ISIS telah kehilangan wilayahnya pada tahun 2019, namun hal tersebut tidak menghentikan aksi propaganda dunia maya yang menyasar sel-sel jaringan di berbagai wilayah dunia.

            Seruan ISIS spesifik pada masa pandemi bagi jaringannya ialah untuk melancarkan aksi-aksi serangan pada fasilitas kesehatan yang menganani pasien terjangkit corona dimanapun berada.

            Hal tersebut bertujuan untuk membuktikan eksistensi dan mendelegitimasi otoritas keamanan serta pemerintah dalam menangani covid-19.

            Potensi disinformasi juga semakin nyata tatkala dihadapkan pada masyarakat kita yang memiliki bibit-bibit kerentanan pada disinformasi. Misalnya seperti bibit ketidakpercayaan pada pemerintah, rendahnya literasi, ketimpangan ekonomi dan meningkatnya individualisme.

            Berbagai operasi JAD telah bereaksi dengan cara yang berbeda sejak awal pendemi Covid-19, beberapa dari mereka yakin hal yang paling penting adalah menghindari penyebaran virus, mereka bahkan menerapkan rencana darurat dalam beberapa hal.

            Beberapa anggota yang ingin mati syahid ingin menggunakan kesempatan ini untuk melakukan serangan teror.

            Selain itu, dalam doktrin JAD, Ramadhan saat ini sedang berlangsung, diyakini sebagai waktu yang paling tepat untuk melakukan amaliyah atau tindakan terorisme.

            Tentu saja narasi-narasi  negatif tentang penanganan corona akan terus digembar-gemborkan untuk mendapatkan simpati masyarakat. Hal tersebut nantinya akan menjadi pintu masuk bagi upaya perekrutan kader.

            JAD juga memunculkan narasi  bahwa Covid-19 merupakan hukuman dari Tuhan yang ditimpakan kepada China dan dunia karena membiarkan kaum Uyghur ditindas di Xianjing.

            Akibatnya, kelompok-kelompok teror di Indonesia lebih cenderung memproyeksikan setiap simbol China, termasuk orang Indonesia-Tionghia sebagai target potensialnya.

            Di tengah pandemi ini tentu sangat penting bagi agen keamanan Indonesia, terutama untuk Densus 88 yang bertugas untuk membasmi terorisme sampai akar-akarnya.

            Kewaspadaan terhadap penyebaran covid tentu jangan sampai melewatkan kita untuk waspada terhadap ancaman aksi terorisme.

BERITA TERKAIT

New Normal Wujud Kepastian Pemulihan Ekonomi

  Oleh : Zakaria, Pengamat Sosial Ekonomi New normal, tatanan baru sebuah kehidupan di era pandemi Covid-19. Tetap menjaga disiplin…

Ketegasan Jokowi Demi Rakyat Indonesia

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara,…

Transformasi Dana Pelayanan Publik

  Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *)   Di era desentralisasi fiskal, pemerintah menyerahkan sejumlah kewenangan…

BERITA LAINNYA DI Opini

New Normal Wujud Kepastian Pemulihan Ekonomi

  Oleh : Zakaria, Pengamat Sosial Ekonomi New normal, tatanan baru sebuah kehidupan di era pandemi Covid-19. Tetap menjaga disiplin…

Ketegasan Jokowi Demi Rakyat Indonesia

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara,…

Transformasi Dana Pelayanan Publik

  Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *)   Di era desentralisasi fiskal, pemerintah menyerahkan sejumlah kewenangan…