Perlu Test Massal Covid-19

Perlu Test Massal Covid-19
Pemerintah Indonesia diprediksi akan membuka kembali ekonomi dengan merelaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sekitar awal Juni 2020 melalui era New Normal. Penerbitan protokol New Normal untuk pembukaan pusat perbelanjaan di beberapa kota pada Juni 2020, sebagai upaya meminimalisasi dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menjadi masif belakangan ini akibat lumpuhnya ekonomi. 
Namun, hal ini menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat, apakah kurva penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia benar-benar sudah melandai? Apakah Indonesia sudah melewati masa puncak pandemi sehingga akan segera pulih?  Keraguan patut ada mengingat bahkan jumlah pengambilan spesimen yang akan dicek untuk deteksi kasus secara masif, masih jauh di bawah target yang ditetapkan. 
Menurut data yang dilansir Achmad Yurianto, juru bicara Penanganan Covid-19, hingga 25 Mei 2020 pemeriksaan sudah dilaksanakan pada 256.946 spesimen.  Kemampuan tes yang semula sangat terbatas jumlahnya saat ini dilaporkan di kisaran 6.000-8.000 per hari, masih di bawah target Presiden Jokowi yaitu 10 ribu tes per hari. Padahal sudah sejak Maret 2020, Pemerintah menjanjikan untuk menggelar tes massal yang terstruktur dan menyeluruh, agar laju penyebaran kasus dapat ditahan. 
Sayangnya tes massal ini tak kunjung tiba. Hingga saat ini, tes massal cenderung dilakukan secara sporadis, baik oleh pemerintah daerah (Pemda), maupun oleh perusahaan-perusahaan ataupun organisasi nirlaba.    Sebagai solusi Untuk mendeteksi virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19, ada tiga jenis tes yang saat ini bisa digunakan. Jenis tes pertama adalah tes PCR (polymerase chain reaction), yaitu tes berupa pengambilan sampel cairan pada tenggorokan dan hidung untuk mendeteksi keberadaan material genetik virus SARS-Cov-2. Tes PCR merupakan standar utama dalam mengkonfirmasi apakah seseorang positif tertular virus SARS-Cov-2 atau tidak.  
Jenis tes kedua adalah tes serologi atau antibodi. Tes tersebut mengecek antibodi pasien yang dilakukan untuk mencari bukti respon kekebalan tubuh (berupa antibodi IgM dan IgG) terhadap virus SARS-Cov-2. Jenis tes terakhir adalah tes antigen. Tes ini bekerja dengan cara mengenali protein yang ditemukan pada suatu virus. Umumnya, tes ini memeriksa sampel yang diambil dari rongga hidung dengan menggunakan metode swab.   Meski PCR merupakan standar utama untuk menentukan seseorang benar telah terinfeksi covid-19 atau tidak, pemberian tes ini secara massal cenderung lebih sulit mengingat ketersediaan laboratorium dan alat PCR, reagen, dan tenaga terlatih yang mampu melakukan tes ini secara akurat dan konsisten. 
Selain itu, menurut Dono Widiatmoko, ahli kesehatan masyarakat, tes PCR memerlukan waktu yang relatif lama dan biaya cukup besar.  Di sisi lain, tes antibodi atau yang lebih sering dikenal sebagai Rapid Test adalah jenis tes yang mudah digunakan dan harganya relatif tidak mahal, sehingga tes massal sangat memungkinkan. 
Selain itu, Rapid Test dengan tingkat akurasi tinggi dapat membantu mengidentifikasi orang-orang yang telah membentuk daya tahan tubuh, sehingga orang-orang tersebut bisa segera kembali ke kegiatan-kegiatan yang membutuhkan interaksi antar manusia dalam jarak dekat. Bagaimanapun, saat banyak OTG berkeliaran dimana-mana baik di lingkungan RW, Kelurahan, Keluarga dan lain-lain. OTG ini mirip seperti orang sehat pada umumnya, tetapi yang bersangkutan pembawa virus (carrier) yang setiap saat dapat menularkan kapan dan dimana saja. Waspadalah! 

Pemerintah Indonesia diprediksi akan membuka kembali kegiatan ekonomi dengan merelaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sekitar awal Juni 2020 melalui era New Normal. Penerbitan protokol New Normal untuk pembukaan pusat perbelanjaan di beberapa kota pada Juni 2020, sebagai upaya meminimalisasi dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menjadi masif belakangan ini akibat lumpuhnya ekonomi.

Namun, hal ini menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat, apakah kurva penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia benar-benar sudah melandai? Apakah Indonesia sudah melewati masa puncak pandemi sehingga akan segera pulih?  Keraguan patut ada mengingat bahkan jumlah pengambilan spesimen yang akan dicek untuk deteksi kasus secara masif, masih jauh di bawah target yang ditetapkan.

Menurut data yang diumumkan Achmad Yurianto, juru bicara Penanganan Covid-19, hingga 25 Mei 2020 pemeriksaan sudah dilaksanakan pada 256.946 spesimen.  Kemampuan tes yang semula sangat terbatas jumlahnya saat ini dilaporkan di kisaran 6.000-8.000 per hari, masih di bawah target Presiden Jokowi yaitu 10 ribu tes per hari. Padahal sudah sejak Maret 2020, Pemerintah menjanjikan untuk menggelar tes massal yang terstruktur dan menyeluruh, agar laju penyebaran kasus dapat ditahan.

Sayangnya tes massal ini tak kunjung tiba. Hingga saat ini, tes massal cenderung dilakukan secara sporadis, baik oleh pemerintah daerah (Pemda), maupun oleh perusahaan-perusahaan ataupun organisasi nirlaba.    Sebagai solusi Untuk mendeteksi virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19, ada tiga jenis tes yang saat ini bisa digunakan. Jenis tes pertama adalah tes PCR (polymerase chain reaction), yaitu tes berupa pengambilan sampel cairan pada tenggorokan dan hidung untuk mendeteksi keberadaan material genetik virus SARS-Cov-2. Tes PCR merupakan standar utama dalam mengkonfirmasi apakah seseorang positif tertular virus SARS-Cov-2 atau tidak. 

Jenis tes kedua adalah tes serologi atau antibodi. Tes tersebut mengecek antibodi pasien yang dilakukan untuk mencari bukti respon kekebalan tubuh (berupa antibodi IgM dan IgG) terhadap virus SARS-Cov-2. Jenis tes terakhir adalah tes antigen. Tes ini bekerja dengan cara mengenali protein yang ditemukan pada suatu virus. Umumnya, tes ini memeriksa sampel yang diambil dari rongga hidung dengan menggunakan metode swab.   Meski PCR merupakan standar utama untuk menentukan seseorang benar telah terinfeksi covid-19 atau tidak, pemberian tes ini secara massal cenderung lebih sulit mengingat keterbatasan laboratorium dan alat PCR, reagen, dan tenaga terlatih yang mampu melakukan tes ini secara akurat dan konsisten.

Selain itu, menurut Dono Widiatmoko, ahli kesehatan masyarakat, tes PCR memerlukan waktu yang relatif lama dan biaya cukup besar.  Di sisi lain, tes antibodi atau yang lebih sering dikenal sebagai Rapid Test adalah jenis tes yang mudah digunakan dan harganya relatif tidak mahal, sehingga tes massal sangat memungkinkan dilakukan.

Selain itu, Rapid Test dengan tingkat akurasi tinggi dapat membantu mengidentifikasi orang-orang yang telah membentuk daya tahan tubuh, sehingga orang-orang tersebut bisa segera kembali ke kegiatan-kegiatan yang membutuhkan interaksi antar manusia dalam jarak dekat. Bagaimanapun, saat ini banyak OTG berkeliaran dimana-mana baik di lingkungan RW, kantor, keluarga, pasar, mal dan lain-lain. OTG ini mirip seperti orang sehat pada umumnya, tetapi yang bersangkutan pembawa virus (carrier) yang setiap saat dapat menularkan kapan dan dimana saja. Waspadalah!

BERITA TERKAIT

Standar Protokol Kesehatan

Di tengah masa pemberlakuan PSBB Transisi, semua peraturan protokol kesehatan sejatinya wajib mengacu pada surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan…

Transportasi Publik di Era Baru

Sebelum pandemi virus Covid-19 benar-benar hilang dari Indonesia, pemerintah sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka kembali kegiatan sosial ekonomi. Hal ini…

Presiden Kecewa Kinerja Menteri

Syahdan, Presiden Jokowi merasa kecewa dan marah besar kepada para pembantunya. Dia gemas bukan kepalang karena kinerja penanganan pandemi Covid-19…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Standar Protokol Kesehatan

Di tengah masa pemberlakuan PSBB Transisi, semua peraturan protokol kesehatan sejatinya wajib mengacu pada surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan…

Transportasi Publik di Era Baru

Sebelum pandemi virus Covid-19 benar-benar hilang dari Indonesia, pemerintah sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka kembali kegiatan sosial ekonomi. Hal ini…

Presiden Kecewa Kinerja Menteri

Syahdan, Presiden Jokowi merasa kecewa dan marah besar kepada para pembantunya. Dia gemas bukan kepalang karena kinerja penanganan pandemi Covid-19…