Perang Melawan Corona: Nyawa, Data, Dana

Oleh: Ninasapti Triaswati, Ph.D., Staf Pengajar UI

Penyebab resesi global tahun ini telah nyata, akibat dunia berperang melawan pandemi Corona. Kini wabah Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) telah menyebar merata ke seluruh belahan dunia. Pemimpin tiap negara dapat dinilai keberhasilannya dari jumlah korban jiwa yang minimal dan kemampuan mengalokasikan dana secara efektif untuk menjaga kestabilitan sosial-ekonomi.

Agar jumlah korban jiwa minimal, maka diperlukan data serangan Covid-19 kepada siapa saja dan juga pergerakannya, disertai data jumlah tenaga medis, paramedis dan fasilitas kesehatan masyarakat di suatu wilayah.  Kecepatan pengambilan keputusan agar suatu wilayah dibatasi pergerakan penduduknya maupun ditutup (lockdown) arus penduduknya, diharapkan akan mampu menurunkan laju penyebaran Covid-19. 

Untuk menjaga kestabilan sosial ekonomi, diperlukan alokasi subsidi untuk penduduk yang rentan akibat dampak Covid-19 karena kegiatan ekonomi menurun, baik bagi pekerja kelompok menengah bawah maupun bagi pengusaha mikro dan UMKM. Kebijakan ini juga membutuhkan data yang tepat agar alokasi subsidi efektif dan efisien

Pemimpin negara yang cerdas akan mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat dalam situasi ketidakpastian akibat keterbatasan informasi. Namun keputusan politik bisa menjadi lambat  akibat kepentingan berbagai kelompok pemburu rente, yang ingin memperoleh keuntungan saat ini maupun di masa depan.

Data terkini membuktikan  RRT dan Jerman merupakan dua negara berpenduduk besar yang sukses menangani Covid-19. Kuncinya, peran negara yang efektif dalam kesehatan masyarakat agar korban jiwa minimal, disertai alokasi dana dan peran institusi yang tepat untuk stabilitas sosial-ekonomi

Republik Rakyat Tiongkok (RRT), merupakan negara pertama yang diserang wabah tersebut secara resmi sejak Januari 2020. Sampai 22 April yang lalu, 4.636 orang meninggal dari 83.864 kasus positif Covid-19. Pemerintah RRT menutup wilayah  kota Wuhan pada 22 Januari setelah 17 orang meninggal karena Covid19, dan kemudian menutup provinsi Hubei pada 23 Januari.

Hal ini terbukti efektif menahan penyebaran wabah ke seluruh negeri. Dengan bermodal teknologi informasi yang kuat – yaitu penggunaan data pergerakan individu dan kemampuan testing yang tepat, dan disertai kekuatan militer serta tenaga medis yang cukup, RRT segera membangun rumah sakit di kota Wuhan. Selain itu jaminan sosial-ekonomi bagi penduduk tetap terjamin. Hasilnya, RRT telah menyatakan status lockdown dicabut pada 24 Maret bagi provinsi Hubei dan 8 April bagi kota Wuhan.

RRT tidak hanya merupakan pemasok dunia untuk berbagai APD (alat pelindung diri) namun juga berbagai peralatan kesehatan termasuk ventilator, serta telah melakukan uji klinis untuk vaksin Covid-19. RRT telah menunjukkan pada dunia bahwa kemenangan perang Covid-19 memerlukan peran negara yang kuat secara politik, ekonomi dan teknologi.

Jerman juga contoh negara sukses menangani Covid-19 karena jumlah korban jiwa yang relatif kecil yaitu data terkini 5.094 meninggal dan 148.046 orang positif Covid-19, serta didukung kemampuan test Covid-19 yang sangat besar.  Negara itu menerapkan kebijakan menutup wilayahnya sejak 22 Maret untuk menahan laju wabah Covid-19.

Saat ini perusahaan BioNTech di Jerman juga sudah mulai dengan uji klinis vaksin Covid-19. Bukti keberhasilan Jerman ditunjukan pada 20 April dengan beberapa negara bagian melonggarkan kebijakannya membolehkan toko kecil dibuka kembali. Kunci keberhasilan Jerman menang perang melawan Covid-19, karena negara berperan kuat dalam menjamin kesehatan masyarakat dan menegakkan disiplin masyarakat, sedangkan swasta berperan kuat dalam kemajuan ekonomi dan teknologi penemuan vaksin.

Banyak negara masih berjuang keras untuk sukses perang melawan Covid-19. Negara berkembang pada umumnya menghadapi kendala memperoleh data faktual mengenai jumlah korban Covid-19. Ekuador, contoh negara yang kewalahan diserang Covid-19.

Walaupun hanya melaporkan 9.468 kasus positif Covid-19 dan 474 meninggal sampai dengan 20 April yang lalu, berita BBC News World (17/4/2020) menunjukkan laporan pemerintah Ekuador bahwa 6.700 orang meninggal dengan berbagai sebab di provinsi Guayas pada dua minggu pertama April, dibandingkan rata-rata  sekitar 1000 orang meninggal pada periode yang sama sebelumnya. Hal ini merupakan indikasi kemungkinan kasus Covid-19 yang tidak tercatat atau tidak mampu dicatat karena belum ditest.

Indonesia belum sampai di puncak serangan Covid-19, yang diperkirakan terjadi pada akhir Mei sampai Juni. Data terkini 23 April, BNPB melaporkan sampai saat ini jumlah pasien telah diperiksa 48.647,  dan 7.775 orang positif Covid-19 serta 647 pasien meninggal.

Namun data tersebut belum mampu menggambarkan jumlah sebenarnya yang terinfeksi Covid-19 karena kurangnya kemampuan untuk melakukan test PCR akibat bahan bakunya yang terkendala impor, disertai terbatasnya fasilitas kesehatan masyarakat. Alokasi dana untuk kesehatan menjadi tak efisien akibat kendala impor, diperburuk pula dengan adanya mafia impor.

Keterbatasan daya tampung rumah sakit dan kurangnya peralatan kesehatan serta APD (alat pelindung diri) di Indonesia, khususnya Jabodetabek telah mengakibatkan tingkat kematian akibat Covid19 termasuk tertinggi di dunia -- mencapai 8,3 persen. Bahkan lebih dari 30 orang dokter, dokter gigi dan tenaga medis/paramedis telah menjadi korban Covid-19, serta puluhan lainnya sudah pula positif Covid-19.

Setelah terlaksananya kebijakan social distance di awal Maret, penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar mulai dilaksanakan sekitar awal April di Jabodetabek dan beberapa daerah lainnya, bahkan Presiden baru saja mengumumkan pelarangan mudik, namun tampak belum efektif mengurangi arus migrasi/pergerakan individu antar daerah sampai saat ini karena sempat tak konsisten  di tingkat pelaksanaan.

Jelas bahwa Pemerintah dan kita rakyat Indonesia, harus lebih waspada dan bersiap diri menghadapi situasi penuh ketidakpastian ini. (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Disiplin Protokol Kesehatan Kunci Masuki New Normal

  Oleh : Ade Hapsari, Mahasiswa IISIP Jakarta Beberapa waktu lalu, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan new normal di mana segala…

Mendorong Pariwisata di Era New Normal

    Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti di BKF Kemenkeu *)   Awalnya pemerintah berkeyakinan bahwa pembangunan infrastruktur wisata harus…

Pengawasan Perbankan dan Resesi Ekonomi

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Romer pada tahun 1990 menerbitkan tulisan dengan judul…

BERITA LAINNYA DI Opini

Disiplin Protokol Kesehatan Kunci Masuki New Normal

  Oleh : Ade Hapsari, Mahasiswa IISIP Jakarta Beberapa waktu lalu, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan new normal di mana segala…

Mendorong Pariwisata di Era New Normal

    Oleh: Joko Tri Haryanto, Peneliti di BKF Kemenkeu *)   Awalnya pemerintah berkeyakinan bahwa pembangunan infrastruktur wisata harus…

Pengawasan Perbankan dan Resesi Ekonomi

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Romer pada tahun 1990 menerbitkan tulisan dengan judul…