Kondisi Covid-19 Belum Melandai - AirAsia Perpanjang Penghentian Sementara Penerbangan

NERACA

Jakarta – Kendati ada relaksasi untuk pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan syarat yang ditentukan, namun PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) terus memperpanjang masa penghentian sementara penerbangan reguler maskapai AirAsia Indonesia.

Indah Permatasari Saugi, Sekretaris Perusahaan AirAsia Indonesia dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, perseroan berencana memperpanjang masa penghentian sementara penerbangan reguler AirAsia Indonesia karena alasan operasional dan perpanjangan masa pembatasan sosial di beberapa wilayah.

Lebih lanjut dia menjelaskan, layanan penerbangan reguler AirAsia Indonesia akan menyesuaikan pengoperasian penerbangan berjadwal rute internasional dan domestik secara bertahap, dan akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2020 pada rute tertentu.”Perseroan dapat kembali mengoperasikan penerbangan secara terbatas jika dinilai memungkinkan,"ujarnya.

Disampaikan Indah, calon penumpang yang terdampak oleh perubahan ini telah menerima pemberitahuan pembatalan beserta informasi pilihan kompensasi melalui email dan SMS yang terdaftar saat pembelian tiket. Meski demikian, sambungnya, perusahaan ini tetap berkomitmen untuk melayani penerbangan charter penumpang dan kargo baik untuk kebutuhan perjalanan pemerintah, swasta, organisasi, maupun komunitas masyarakat ke berbagai destinasi domestik dan internasional dengan persetujuan dari otoritas terkait.

Selain itu, CMPP juga terus memantau perkembangan situasi dan akan melakukan langkah antisipasi yang diperlukan untuk mempersiapkan layanan mulainya penerbangan sesegera mungkin setelah situasinya memungkinkan. "Keadaan saat ini (COVID-19, lock down dan PSBB) sangat berdampak signifikan terhadap keuangan perusahaan terutama arus kas,"ungkapnya.

Tahun lalu, perseroan mencatat kerugian bersih sebanyak Rp185,42 miliar, turun 60% dibandingkan dengan kerugian pada 2018. Perseroan masih menanggung kerugian karena beban bahan bakar melonjak. AirAsia Indonesia mencetak pendapatan sebanyak Rp6,73 triliun sepanjang 2019 atau naik 79% secara tahunan. Namun, di sisi lain beban operasional juga meningkat tajam. Misalnya, beban bahan bakar pesawat naik 107 persen menjadi Rp2,52 triliun. Konsumsi bahan bakar pesawat memang meningkat 7% menjadi 2,04 juta barel. Adapun harga bahan bakar turun 10% menjadi US$77 per barel.

Kenaikan konsumsi bahan bakar tidak terlepas dari pertumbuhan jumlah penerbangan sebesar 49%, dari 35.627 penerbangan pada 2018 menjadi 52.947 penerbangan pada 2019. Beban operasional dari bahan bakar bisa diimbangi peniadaaan beban penyewaan pesawat sebesar Rp571,41 miliar. Sebelum dipotong bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, pendapatan AirAsia Indonesia masih minus Rp105,39 miliar, turun sekitar 130% secara tahunan.

Namun, berkat penurunan beban pajak dan pajak tangguhan, rugi bersih perseroan setelah pajak tercatat sebesar Rp185,42 miliar, menyusut 60% dari posisi pada 2018 sebesar Rp465,58 miliar. Sepanjang tahun lalu, jumlah penumpang yang diterbangkan Air Asia mencapai 7,96 juta, naik 52% secara tahunan. Kapasitas penumpang AirAsia Indonesia meningkat 49% menjadi 9,53 juta penumpang, seiring dengan penambahan 4 pesawat baru. Peningkatan aktivitas tersebut membuat seat load factor atau tingkat keterisian AirAsia Indonesia meningkat dari 82% menjadi 84%.

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…