Berwisata ke Stasiun Balapan, Kebanggaan Belanda & Zona Galau Didi Kempot

Ning Stasiun Balapan Rasane Koyo Wong Kelangan Kowe Ninggal Aku Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku Da... Dada Sayang. Da... Slamat Jalan Potongan lirik tersebut berasal dari Lagu ini terdapat dalam album studio debut Didi Kempot yang juga bertajuk sama dan dirilis pada 1999.

'Stasiun Balapan' yang memiliki nada sendu di awal namun kemudian diiringi tabuhan gendang disebut Didi memang memiliki lirik berbahasa Jawa yang menyayat hati, seperti lagunya sendiri.

Lagu itu, kata Didi, terinspirasi dari kisah nyata yang ia lihat secara langsung. Saat masih mengamen di Stasiun Balapan di tengah era 1984-1986, ia melihat banyak orang yang berpelukan hingga menangis karena akan berpisah dikutip dari CNNIndonesia.com.

Lagunya memang bernada sendu, namun karier pria asal Solo kelahiran tahun 1966 ini berhasil meroket karenanya. Terbukti dengan sering diputarnya lagu tersebut di radio-radio campursari Indonesia pada sekitar tahun 1990an, jauh sebelum eksistensi para Sobat Ambyar. Jika mencari kata 'Stasiun Balapan' di internet, maka banyak tautan artikel yang disisipi kata 'bersejarah'. Stasiun kereta yang berada di Solo ini memang menyimpan banyak sejarah sejak dibangun dan beroperasi ketika zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada 10 Februari 1870.

Stasiun dengan kode SLO ini merupakan stasiun utama di kota Solo dan tertua ke-dua di Indonesia setelah Stasiun Samarang - yang kini sudah digantikan oleh Stasiun Semarang Tawang. Stasiun Balapan juga merupakan stasiun ke-dua yang menggunakan sistem persinyalan elektrik setelah Stasiun Bandung. Sistem tersebut dibuat oleh Siemens.

Modernisasi Pulau Jawa menjadi semangat pembangunan stasiun ini, yang dilakukan oleh perusahaan Hindia-Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan dikelola oleh perusahaan kereta api negara saat itu, Staatssporwegen. Arsiteknya Herman Thomas Karsten.

Karsten merancang stasiun dengan gaya arsitektur campuran Belanda-Jawa. Istilahnya Nieuwe Bouwen atau bangunan baru, sehingga fungsi bangunannya bisa mengadaptasi lingkungan sekitarnya. Terbukti dengan keberadaan atap-atap yang tinggi sebagai lubang udara. Jalur stasiun kereta ini menghubungkan kota Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Ada dua terminal di sini, yang ke arah selatan dan utara. Terminal ke selatan memiliki lima jalur, terminal ke utara memiliki tujuh jalur.

Dikutip dari Surakarta.go.id, nama 'balapan' berasal dari pemakaian lahan stasiun yang merupakan Alun-Alun Utara milik Keraton Mangkunegaran di bawah kepemimpinan Mangkunegoro IV. Di dalam alun-alun terdapat lintasan pacuan kuda atau yang disebut balapan.

Sebagai gantinya, Keraton Mangkunegaran mendapat lahan di Manahan untuk dibangun sarana pacuan kuda dan aktivitas olahraga lainnya. Selain dekat dengan pusat pemerintahan, stasiun ini juga dekat dengan Pasar Legi dan pemukiman orang kaya Eropa pada zaman itu, Villa Park. Tak heran jika harga tanah di stasiun sangatlah mahal saat itu.

Setelah Stasiun Balapan berdiri, Belanda menghubungkan rel kereta dengan stasiun-stasiun yang berada di titik-titik strategis, yakni di Purwosari, Sriwedari, dan Jebres. Stasiun-stasiun itu terhubungkan oleh rel-rel yang melewati tengah kota. Salah satu buktinya adalah jalur rel yang ada di tepi jalan Slamet Riyadi dan masih digunakan hingga sekarang.

Saat ini, kereta dari arah timur yang menuju ke jalur utara (Semarang) maupun sebaliknya dilayani di Stasiun Solo Jebres, sedangkan kereta kelas ekonomi jalur selatan (Yogyakarta, Bandung, Purwokerto, dan Jakarta) dan lokal/komuter (Yogyakarta dan Kutoarjo) dilayani di Stasiun Purwosari.

Stasiun Balapan menjadi saksi bisu beragam sejarah di Indonesia. Mengutip Kemendikbud.go.id, Pakubuwono X menggunakan stasiun ini saat hendak berangkat menikahi putri Hamengku Buwono VII pada tahun 1915. Lalu momen pengangkutan massa Sarikat Islam yang akan melaksanakan Kongres Sarikat Islam di Solo. Stasiun Balapan masuk dalam daftar Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2013. Atas karya populernya tentang Stasiun Balapan, PT Kereta Api Indonesia resmi menetapkan Didi Kempot sebagai Duta Kereta Api Indonesia.

BERITA TERKAIT

Legenda di Pantai Majene yang Bikin Cemas

Kabupaten Majene di Sulawesi Barat sedang berduka setelah diguncang gempa bumi Bencana alam yang sama turut merusak bangunan dan menelan…

Bertemu Patung Purba Raksasa di Lembah Bada

Patung atau arca raksasa seperti menanti kehadiran manusia di Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Ada arca berukir wajah tersenyum,…

The Mandalika Siap Jadi Destinasi Pariwisata Olahraga

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno bersama jajaran Kemenparekraf meninjau kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) The…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Legenda di Pantai Majene yang Bikin Cemas

Kabupaten Majene di Sulawesi Barat sedang berduka setelah diguncang gempa bumi Bencana alam yang sama turut merusak bangunan dan menelan…

Bertemu Patung Purba Raksasa di Lembah Bada

Patung atau arca raksasa seperti menanti kehadiran manusia di Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Ada arca berukir wajah tersenyum,…

The Mandalika Siap Jadi Destinasi Pariwisata Olahraga

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno bersama jajaran Kemenparekraf meninjau kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) The…