Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 65,65 poin atau 1,47% ke posisi 4.531,69. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 9,81 poin atau 1,45% menjadi 688,11.”Sentimen dari domestik masih berkaitan dengan berbagai stimulus pemerintah serta adanya faktor inflasi yang masih cenderung stabil serta kondisi daya beli yang masih kuat di tengah-tengah pandemi COVID-19,”kata analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta Utama di Jakarta, kemarin.

Secara eksternal, para pelaku pasar mengapresiasi harapan Trump bahwa perang tarif minyak antara Arab Saudi maupun Rusia harus diakhiri yang memberikan dorongan bagi kenaikan harga minyak dunia saat ini. Secara sektoral, delapan sektor meningkat pada akhir perdagangan Kamis sore dengan sektor industri dasar naik paling tinggi yaitu 4,27%, diikuti sektor konsumer dan sektor manufaktur masing-masing 3,95% dan 3,92%.

Sedangkan dua sektor naik yaitu sektor properti dan sektor keuangan masing-masing 0,77% dan 0,8%. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp384,28 miliar. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 506.722 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 5,93 miliar lembar saham senilai Rp6,61 triliun. Sebanyak 217 saham naik, 182 saham menurun, dan 122 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei ditutup melemah 246,7 poin atau 1,37% ke 17.818,7, Indeks Hang Seng menguat 194,3 poin atau 0,84% ke 23.280,1, dan Indeks Straits Times menguat 10,86 poin atau 0,45% ke 2.451,13. Sementara pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka melemah 17,92 poin atau 0,4% ke posisi 4.448,12. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 5,5 poin atau 0,81% menjadi 672,8. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, tekanan negatif dari bursa global diperkirakan akan memicu pelemahan IHSG.

Selain itu, rilis data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia yang menunjukkan penurunan dari sebelumnya 51,9 menjadi 45,3, juga berpotensi menekan pergerakan IHSG. Penurunan PMI Manufaktur memberikan indikasi perlambatan sektor manufaktur di Indonesia. Merespons potensi sektor manufaktur, pemerintah Indonesia berupaya untuk mempercepat realisasi penurunan pajak korporasi menjadi 22% dari sebelumnya 25%.

IHSG diperkirakan bergerak melemah dan diperdagangkan dalam rentang level tahanan bawah (support) 4.350 dan level tahanan atas (resistance) 4.500. Investor sebaiknya tidak terlalu agresif dalam melakukan akumulasi beli pada hari ini. Menguatnya IHSG dalam sepekan terakhir diperkirakan akan memicu koreksi sejumlah saham, terutama di sektor barang konsumsi.

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…