Legitnya Penjualan Es Krim - Diamond Food Raih Penjualan Rp 6,91 Triliun

NERACA

Jakarta – Berkah masih terjaganya daya beli masyarakat memberikan dampak positif terhadap pencapaian kinerja keuangan PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND). Emiten produsen es krim merek Diamond ini berhasil membukukan kinerja cukup apik sepanjang tahun 2019 kemarin. Dimana perseroan membukukan pendapatan Rp 6.91 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 6.32 triliun

Perseroan dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta, kemarin menjelaskan, perolehan penjualan terdiri atas pendapatan dari penjualan barang ke pasar domestik senilai Rp 6,90 triliun dan penjualan barang ke pasar ekspor senilai Rp 9,5 miliar. Alhasil, laba bersih emiten barang konsumsi ini juga ikut naik. Tercatat, DMND membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 364,33 miliar. Realisasi ini naik 15,44% dari laba bersih 2018 yang sebesar Rp 315,59 miliar.

Meski demikian, DMND mencatatkan kenaikan beban sepanjang tahun 2019. Beban pokok penjualan misalnya, naik 11,03% menjadi Rp 5,46 triliun. Beban penjualan dan distribusi juga naik 12,23% menjadi Rp 724,11 miliar. Beban lainnya juga tercatat naik menjadi Rp 17,30 miliar. Namun, laba dari selisih kurs yang didapat DMND tahun lalu juga naik menjadi Rp 8,81 miliar dari yang sebelumnya hanya Rp 1,04 miliar. Per 31 Desember 2019, jumlah aset DMND mencapai Rp 5,57 triliun. Liabilitas Diamond Food di akhir tahun lalu mencapai Rp 2,28 triliun dan ekuitas senilai Rp 3,28 triliun.

Perseroan tahun ini menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 25%. Hal tersebut didorong oleh kondisi industri makanan dan minuman domestik yang cenderung positif. Direktur Utama PT Diamond Food Indonesia Tbk, Chen Tsen Nan mengatakan, perseroan akan lebih agresif lagi setelah melaksanakan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/ IPO). Disampaikannya, target tersebut dapat tercapai karena secara historikal pertumbuhan pendapatan perseroan tiap tahunnya terus meningkat. “Tahun 2019 kami bertumbuh sekitar 12%, meski belum di audit tapi sudah jelas kita bertumbuh,” katanya.

Sementara itu, perseroan menargetkan dapat membukukan laba diatas 25% untuk tahun kerja 2020. Guna mengejar pertumbuhan bisnis, perseoran akan menambah fasilitas cold storage, namun nanti realisasinya akan mengikuti kondisi pasar. “Kapasitas, harapannya akan bertambah tapi kan itu tergantung pasar, jadi saya belum bisa untuk prediksi,” kata Chen Tsen.

Perseroan dalam gelaran IPOnya menawarkan 100 juta unit sahamnya kepada publik dengan harga penawaran senilai Rp 915. Dengan demikian, perseroan menghimpun dana sebesar Rp 91,5 miliar dari aksi korporasi ini. Rencananya, sekitar 20% dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja guna mendukung kegiatan operasional dan sekitar 80% akan digunakan perseroan untuk penyetoran modal kepada salah satu perusahaan anak perseroan yaitu PT Sukanda Djaya untuk modal kerja pembelian persediaan. Hal ini mengingat kontribusi PT Sukanda Djaya untuk periode 7 bulan yang berakhir pada 31 Juli 2019 memberikan kontribusi sebesar 77,1% dari pendapatan konsolidasian Grup Diamond.

 

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…