Perolehan Laba Bersih Phapros Turun 22,89%

NERACA

Jakarta – Penjualan bersih PT Phapros Tbk (PEHA) sepanjang tahun 2019 kemarin tumbuh 7,84% menjadi Rp 1,1 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,02 triliun. Hanya saja, penjualan yang positif tidak seirama dengan perolehan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang justru turun 22,89% menjadi Rp 102,03 miliar dari tahun sebelumnya Rp 132,31 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta, kemarin.

Perseroan menjelaskan, pertumbuhan penjualan mayoritas diserap oleh pihak berelasi hingga Rp 1,03 triliun naik 2,7% secara year on year (yoy). Sementara penjualan pihak ketiga naik 217,89%, menjadi Rp 79,98 miliar. Penjualan Phapros paling besar diserap oleh PT Rajawali Nusindo sebesar Rp 752,48 miliar. Selain itu, ada penjalan ke PT Kimia Farma Trading dan Distribution yang naik signifikan menjadi Rp 257,62 miliar dari sebelumnya Rp 17,84 miliar saja.

Melihat dari segmennya, penjualan obat generik berlogo (OGB) masih mendominasi pasar. Sepanjang tahun 2019 OGB terjual hingga Rp 582,83 miliar naik 8,43% dari tahun sebelumnya Rp 537,48 miliar. Setelahnya, disusul oleh penjualan ethical hingga Rp 289,88 miliar yang naik 12,27%. Dari segmen over the counter (OTC) penjualan mencapai Rp 212,57 miliar, tumbuh 17,11%. Kontribusi paling mini dari segmen toll sebesar Rp 20,13 miliar, turun 56% dari tahun sebelumnya.

Asal tahu saja, obat yang dijual secara bebas termasuk dalam kelompok segmen OTC. Sementara obat yang perlu menggunakan resep tergolong dalam segmen ethical dan obat-obatan generik yang termasuk dalam OGB. Di sisi lain, Phapros juga memiliki kerjasama toll manufacturing. Kemudian melorotnya laba bersih dari anak usaha dari PT Kimia Farma Tbk ini disebabkan karena beban pokok penjualan yang meningkat 12,72% menjadi Rp 495,94 miliar.

Hanya saja, beban yang membengkak belum menekan laba bruto perseroan yang masih naik 4,53% dibanding periode sebelumnya yang sebesar Rp 583,02 miliar. Akan tetapi beban-beban yang membengkak menekan laba tahun berjalannya. Misalnya, saja beban penjualan yang naik 14,62% dari sebelumnya Rp 269,03 miliar menjadi Rp 315,13 miliar. Lalu, beban umum dan administrsi naik tipis 2,3% menjadi Rp 123,07 miliar. Beban keuangan naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 62,6 miliar dari sebelumnya Rp 39,93 miliar.

Tercatat hanya beban lainnya yang menurun 57,38% menjadi Rp 3,06 miliar dari sebelumnya Rp 7,18 miliar. Sementara itu, total aset yang dimiliki Phapros tahun lalu sebesar Rp 2,1 triliun bertumbuh dari tahun sebelumnya Rp 1,87 triliun. Total liablitas PEHA juga terkerek 18,51% menjadi Rp 1,28 triliun dari sebelumnya Rp 1,08 triliun. Ekuitas Phapros mencapai Rp 821,61 miliar, naik 4,03% dari sebelumnya Rp 789,8 miliar.

Sebagai informasi, PT Phapros Tbk tengah memperluas pasar ekspor untuk menggenjot kontribusi ekspor sebesar 5% terhadap total penjualan dalam 3 tahun mendatang. Setelah merealisasikan pengiriman perdana produk Tuberkolosis ke Peru pada Oktober 2019, perusahaan farmasi ini tengah mengincar pasar Nigeria.

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…