Sistem Pembayaran dan Modal Ventura

 

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

 

Perusahan yang mampu memproduksi vaksin coronavirus adalah perusahaan bio teknologi besar yang diperkirakan percobaan kepada manusia baru akan dapat terlaksana pada awal musim panas tahun ini. Perusahaan itu berasal dari perusahaan Amerika Serikat. Jika Indonesia ingin memiliki perusahaan seperti itu maka model pembiyaan public private partnership harus segera dilakukan. Gasiorowski dan Moszoro membuktikan bahwa public private partnership merupakan model pembiayan yang paling efisien dalam pembangunan. Dalam model tersebut dapat saja digunakan modal ventura.

Di pihak lain, jumlah Unicorn Indonesia kalah jauh dibandingkan Amerika Serikat dan RRC. Wajar saja sebab modal ventura dan sistem permbayaran tidak terkoneksi selain juga model struktur permodalan yang efisien tidak berusaha ditemukan. Kombinasi antara biaya modal yang paling murah dan harga output yang paling murah tidaklah mudah. Padahal modal ventura (venture capital) dapat diarahkan pada pembiayaan dengan biaya modal yang paling murah.

Di Indonesia, bukan hanya itu permasalahannya (memetakan peran venture capital dalam menghasilkan biaya modal yang murah), modal ventura juga tidak berkembang dengan baik. Hal utama yang menyebabkan modal ventura tidak berkembang dengan baik adalah crowding out yang dilakukan oleh perbankan dalam membiayai sektor usaha mikro kecil dan menengah. Peraturan Bank Indonesia yang memaksa bank untuk menyalurkan kredit sebasar 20 persen kepada sektor UMKM telah mematikan perkembangan modal ventura di Indonesia.

Selanjutnya, koneksi sistem pembayaran juga tidak menopang modal ventura yang merupakan suatu bentuk pembiayaan yang disediakan oleh perusahaan atau pemilik dana kepada perusahaan kecil, perusahaan tahap awal, atau perusahaan yang baru muncul yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan tinggi, atau yang telah menunjukkan pertumbuhan tinggi (dalam hal jumlah karyawan, pendapatan tahunan, atau keduanya). Perusahaan modal ventura atau dana berinvestasi di perusahaan tahap awal ini sebagai imbalan atas ekuitas, atau kepemilikan saham, di perusahaan tempat mereka berinvestasi.

Kapitalis ventura mengambil risiko membiayai perusahaan baru yang berisiko dengan harapan bahwa sebagian perusahaan yang didukung akan menjadi sukses. Mengingat startup menghadapi ketidakpastian yang tinggi. Modal ventura memang memiliki tingkat kegagalan yang tinggi. Startup biasanya didasarkan pada teknologi inovatif atau model bisnis dan mereka biasanya dari industri teknologi tinggi, seperti teknologi informasi (TI), teknologi hijau atau bioteknologi. Investasi modal ventura tipikal terjadi setelah putaran awal "pendanaan awal".

Babak pertama modal ventura institusional untuk mendanai pertumbuhan disebut putaran Seri A. Kapitalis ventura menyediakan pembiayaan ini untuk menghasilkan pengembalian melalui strategi "keluar" pada akhirnya, seperti perusahaan yang menjual saham kepada publik, untuk pertama kalinya dalam penawaran umum perdana (IPO) atau melakukan merger dan akuisisi (juga dikenal sebagai "penjualan dagang") perusahaan. Atau, jalan keluar dapat terjadi melalui pasar sekunder ekuitas swasta. Selain investasi malaikat, crowdfunding ekuitas dan opsi pendanaan awal lainnya, modal ventura menarik bagi perusahaan baru dengan sejarah operasi terbatas yang terlalu kecil untuk meningkatkan modal di pasar publik, dan belum mencapai titik di mana mereka dapat mengamankan bank untuk meminjamkan atau menyelesaikan penawaran hutang.

Sebagai imbalan atas risiko tinggi yang diasumsikan oleh pemodal ventura dengan berinvestasi di perusahaan yang lebih kecil dan tahap awal, pemodal ventura biasanya mendapatkan kontrol yang signifikan terhadap keputusan perusahaan, di samping sebagian besar kepemilikan perusahaan (dan akibatnya bernilai).  Startup seperti Uber, Airbnb, Flipkart, Xiaomi & Didi Chuxing adalah startup yang sangat dihargai, umumnya dikenal sebagai unicorn, di mana pemodal ventura berkontribusi lebih dari pembiayaan ke perusahaan-perusahaan tahap awal ini. Mereka juga sering memberikan saran strategis kepada eksekutif perusahaan mengenai model bisnis dan strategi pemasarannya.

Modal ventura juga merupakan cara di mana sektor swasta dan publik dapat membangun institusi yang secara sistematis menciptakan jaringan bisnis untuk perusahaan dan industri baru, sehingga mereka dapat maju dan berkembang. Lembaga ini membantu mengidentifikasi perusahaan-perusahaan baru yang menjanjikan dan memberi mereka keuangan, keahlian teknis, pendampingan, pemasaran "pengetahuan", dan model bisnis. Setelah terintegrasi ke dalam jaringan bisnis, perusahaan-perusahaan ini lebih cenderung berhasil, karena mereka menjadi "simpul" dalam jaringan pencarian untuk merancang dan membangun produk dalam domain mereka.

Hal inilah yang tidak dapat dilakukan oleh perbankan. Jelas Unicorn memerlukan habitat yang bukan domain dari perbankan. Upaya Bank Sentral dan pemerintah yang memaksakan perbankan untuk membiayai UMKM agar menjadi Unicorn adalah mimpi di siang bolong alias pikirannya terlalu dangkal. Ini merupakan masalah utama yang harus diperbaiki terlebih dahulu bahwa untuk menghasilkan Unicorn maka UMKM harus dibiayai oleh modal ventura dan bukan perbankan.

Langkah selanjutnya agar modal ventura berkembang maka modal ventura haruslah memiliki interkoneksi dan interopartibilitas dengan system pembayaran. Sistem pembayaran dapat diarahkan untuk memberikan insentif bagi modal ventura dalam menghadapi prospek startup yang memiliki return on investment yang negatif. Atau alternatif lainnya adalah membuat alternatif modal ventura dengan mengkombinasikan instrumen pembayaran melalui teknologi on line.  Penawaran online sekuritas perusahaan swasta kepada sekelompok orang untuk investasi dan oleh karena itu merupakan bagian dari pasar modal. Karena crowdfunding ekuitas melibatkan investasi ke perusahaan komersial, itu sering tunduk pada sekuritas dan peraturan keuangan.

Crowdfunding ekuitas juga disebut sebagai crowdfunding investasi, atau crowdfunding. Crowdfunding ekuitas adalah mekanisme yang memungkinkan kelompok besar investor untuk mendanai perusahaan pemula dan usaha kecil dengan imbalan ekuitas. Investor memberikan uang kepada bisnis dan menerima kepemilikan sepotong kecil bisnis itu. Jika bisnis berhasil, maka nilainya naik, serta nilai saham dalam bisnis itu — sebaliknya juga terjadi. Cakupan crowdfunding ekuitas menunjukkan bahwa potensinya paling besar dengan bisnis pemula yang mencari investasi lebih kecil untuk mencapai pendirian, sementara pendanaan lanjutan (diperlukan untuk pertumbuhan selanjutnya) dapat berasal dari sumber lain.

Di era dimana sistem pembayaran didukung oleh industri 4.0, maka kekuatan modal ventura dalam melakukan pembiayan bagi perusahaan startup semakin sulit ditandingi oleh perbankan. Pada gilirannnya jika terus dipaksakan maka sektor perbankan hanya dapat berfokus pada sektor UMKM yang statis yang dengan berjalannya waktu tidak dapat menjadi Unicorn! Seperti dalam penelitian Gasiorowski dan Moszoro, ketimbang memaksakan perbankan untuk masuk di sector UMKM, justru sebaiknya regulator perbankan dapat memaksa perbankan untuk melakukan pembiayaan berbentuk public-private partnership sehingga program pembangunan di Indonesia dapat berjalan mulus dan cepat termasuk untuk memproduksi vaksin corona virus.

BERITA TERKAIT

Indonesia Optimis Menang Lawan Covid-19

Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial Politik Virus covid-19 memang masih bercokol di Indonesia. Banyak aturan yang dikeluarkan untuk mencegah…

Suasana Pasca Pandemi Versi Futuris

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager Climate Reality Indonesia Melalui COVID-19, Planet Bumi memberikan pelajaran bahwa selama ini manusia hidup…

New Normal Solusi Pemulihan Ekonomi Indonesia

  Oleh: Deka Prawira, Pemerhati Ekonomi Harus diakui bahwa kebijakan PSBB dan himbauan untuk Work From Home memang berdampak signifikan…

BERITA LAINNYA DI Opini

Indonesia Optimis Menang Lawan Covid-19

Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial Politik Virus covid-19 memang masih bercokol di Indonesia. Banyak aturan yang dikeluarkan untuk mencegah…

Suasana Pasca Pandemi Versi Futuris

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager Climate Reality Indonesia Melalui COVID-19, Planet Bumi memberikan pelajaran bahwa selama ini manusia hidup…

New Normal Solusi Pemulihan Ekonomi Indonesia

  Oleh: Deka Prawira, Pemerhati Ekonomi Harus diakui bahwa kebijakan PSBB dan himbauan untuk Work From Home memang berdampak signifikan…