Rekomendasi Bank Dunia Atasi Dampak Covid-19

NERACA

Jakarta - Bank Dunia merekomendasikan enam langkah dalam mengatasi dampak wabah Virus Corona baru atau COVID-19 terhadap perekonomian, khususnya untuk berbagai negara berkembang yang ada di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Rekomendasi itu masuk dalam laporan Bank Dunia bertajuk East Asia and Pacific In The Time of COVID-19 yang menyatakan bahwa wabah Virus Corona telah menyebabkan guncangan pada ekonomi global, termasuk negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik.

“Negara di Asia Timur dan Pasifik sudah menghadapi ketegangan perdagangan internasional dan dampak penyebaran COVID-19. Sekarang dihadapkan dengan guncangan ekonomi global,” kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (31/3).

Rekomendasi pertama, adalah adanya kapasitas perawatan kesehatan yang cukup untuk memenuhi permintaan, sebab diproyeksikan pandemi ini akan berlangsung dalam jangka panjang.

Kedua, adalah harus terintegrasi antara kebijakan pada bidang kesehatan dan ekonomi makro dalam menanggulangi pandemi COVID-19, seperti adanya langkah fiskal yaitu berupa subsidi pembiayaan kesehatan dan perawatan bagi pasien.

“Itu akan membantu penanggulangan COVID-19 dan memastikan bahwa kerugian sementara dalam bidang ekonomi tidak berubah menjadi kerugian jangka panjang dalam bentuk modal manusia,” tulis laporan tersebut.

Ketiga, adalah kerja sama internasional maupun kemitraan lintas batas antara pemerintah dan swasta harus ditingkatkan untuk memenuhi produksi, pasokan, serta layanan medis dalam menghadapi pandemi.

“Kerja sama internasional yang kuat bisa menjadi cara paling efektif untuk melawan ancaman ini dan untuk memastikan stabilitas keuangan setelahnya,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo.

Keempat, adalah kebijakan perdagangan harus tetap terbuka sehingga pasokan medis dapat tersedia untuk semua negara sekaligus memfasilitasi pemulihan ekonomi secara cepat.

Kelima, adalah adanya pelonggaran kredit untuk memperlancar konsumsi rumah tangga dan membantu perusahaan agar bertahan dari goncangan yang sedang terjadi.

Keenam, menekankan perlu adanya penggabungan langkah-langkah di bawah pengawasan regulasi yang baik sebab banyak negara di kawasan telah menanggung beban utang perusahaan dan rumah tangga yang tinggi.

“Untuk negara-negara lebih miskin maka keringanan utang akan sangat penting sehingga sumber daya dapat difokuskan pada pengelolaan dampak ekonomi dan kesehatan dari pandemi,” tulis laporan itu.

Bank Dunia juga menyertakan skenario dasar (baseline) serta skenario alternatif yang lebih rendah (lower scenario) terhadap pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk 2020 dalam laporan itu.

Pertumbuhan negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2020 diproyeksikan melambat menjadi 2,1 persen pada skenario baseline dan menjadi negatif 0,5 untuk skenario lebih rendah dari perkiraan 5,8 persen pada 2019.

Pertumbuhan China untuk 2020 diproyeksikan turun menjadi 2,3 persen pada skenario baseline dan 0,1 persen dalam skenario lebih rendah dari 6,1 persen pada tahun 2019.

Tak hanya itu, laporan tersebut juga memperkirakan orang yang keluar dari kemiskinan di kawasan akan berkurang sebanyak 24 juta dibanding bila tidak ada pandemi (menggunakan garis kemiskinan 5,5 dolar AS/hari).

Kemudian jika situasi ekonomi memburuk maka skenario lebih rendah terjadi yaitu jumlah penduduk miskin bertambah 11 juta orang, sedangkan proyeksi sebelumnya adalah 35 juta orang akan keluar dari kemiskinan di Asia Timur dan Pasifik pada 2020.

“Kabar baiknya adalah kawasan ini memiliki ketahanan dan potensi kemampuan untuk melewati krisis tetapi negara-negara harus bertindak cepat dan pada skala yang sebelumnya tidak pernah dilakukan,” kata Victoria. bari

BERITA TERKAIT

GUBERNUR DKI IZINKAN OPERASIONAL MAL BEROPERASI 15 JUNI 2020 - Survei: Warga Jakarta Belum Siap Hadapi New Normal

Jakarta- Lembaga survei LaporCovid19.org berkolaborasi dengan Social Resilience Lab Nanyang Technological University (NTU), Singapura, melakukan survei sosial untuk mengukur tingkat…

Peneliti: Proses Impor Gula Dilakukan Lebih Sederhana

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menginginkan agar proses impor gula dapat lebih…

PEMERINTAH DIMINTA TEGAS DALAM SKENARIO NEW NORMAL - Mendag Siapkan 5 Fase di Bidang Perdagangan

Jakarta-Pengamat ekonomi Aviliani menegaskan, pemerintah harus benar-benar memperhatikan kesiapan pelaku usaha dalam bila new normal atau normal baru diterapkan setelah…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

GUBERNUR DKI IZINKAN OPERASIONAL MAL BEROPERASI 15 JUNI 2020 - Survei: Warga Jakarta Belum Siap Hadapi New Normal

Jakarta- Lembaga survei LaporCovid19.org berkolaborasi dengan Social Resilience Lab Nanyang Technological University (NTU), Singapura, melakukan survei sosial untuk mengukur tingkat…

Peneliti: Proses Impor Gula Dilakukan Lebih Sederhana

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menginginkan agar proses impor gula dapat lebih…

PEMERINTAH DIMINTA TEGAS DALAM SKENARIO NEW NORMAL - Mendag Siapkan 5 Fase di Bidang Perdagangan

Jakarta-Pengamat ekonomi Aviliani menegaskan, pemerintah harus benar-benar memperhatikan kesiapan pelaku usaha dalam bila new normal atau normal baru diterapkan setelah…