Berkah Melek Digital, Cuan Bisnis Kuliner Makin Berlipat

Ibu haji Abay, (65) masih disibukkan dengan pesanan pecak bandengnya oleh para pelanggan setianya yang sudah menunggu untuk makan siang. Ya, di saat jam makan siang, orderan antrian orang yang ingin makan siang cukup panjang dan ini belum termasuk pesanan yang lewat online. “Kalau jam makan siang adalah waktu yang paling sibuk. Apalagi kalau di hari weekend, penggunjung tidak hanya dari lokasi yang dekat dengan rumah makan tetapi dari mana-mana yang kebutulan lewat atau sengaja untuk datang kesini,”ceritanya.

Rumah makan khas sunda yang berlokasi di Rangkas Bitung, Banten ini sering dikunjungi para pecinta masakan sunda. Terlebih pecak bandengnya, cukup tersohor di area kota Rangkas Bitung. Keramaian usaha yang di jalani ibu haji Abay merupakan berkah dari inovasi digital marketing lewat aplikasi online. “Rumah makan pecak bandeng ini sudah masuk dalam daftar aplikasi gojek online setelah menjadi mitra, selain untuk marketing juga untuk memudahkan pelanggan beli agar tidak usah antri,”ungkapnya.

Dirinya menyakini, memasarkan rumah makan tidak hanya cukup dari promosi para pelanggan dari mulut ke mulut saja tetapi juga harus ditopang dengan inovasi pemanfaatan digital. Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah menjaga cita rasa dan harga yang cukup kompetitif. Maklum saja, target pasar rumah makan miliknya adalah ekonomi kelas menengah ke bawah. Kini berkat keuletan dan kejeliannya membaca peluang pasar bisnis kuliner, usaha yang dirintisnya sejak lima tahun ini udah mulai berkembang dengan rencana pembukaan salah satu cabang.

Menurutnya, bisnis kuliner yang dijalankannya saat ini berbeda jauh sebelum aktif memanfaatkan teknologi digital. Pasalnya, selain sulit melakukan promosi juga sulit berkembang karena minim informasi bagaimana melakukan inovasi produk, mengemas barang menjadi bernilai tambah dan melihat peluang pasar. Apalagi, di era digital saat ini dalam membangun sebuah bisnis terdapat banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar usaha berjalan dengan lancar. Salah satunya menggunakan tools atau aplikasi online yang bisa menunjang perkembangan bisnis sehingga cuan pun terkumpul dengan maksimal.

Syukur saja, berkat salah satu pendampingan dari mitra usaha aplikasi online, ibu haji Abay ini mulai terbuka pemahaman tentang perangkat atau tools di dunia teknologi sudah menjadi sebuah kebutuhan dalam menunjang bisnisnya. Pasalnya, melalui aplikasi online selain memudahkan digital marketing juga dimudahkan memetakan target pasar secara spesifik sehingga market dagangan gak salah sasaran.

 

 

Melek Digital

 

 

Pengalaman yang dialami ibu haji Abay pengusaha rumah makan pecak bandeng yang hanya lulusan sekolah dasar dan terbuka untuk memanfaatkan teknologi digital menjadi gambaran bahwa pemahaman akan pengetahuan bukan berarti lulus dari jenjang pendidikan formal. Pengetahuan bisa didapat dari saluran mana saja, termasuk informal. Apalagi, kini dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, peluang mendapatkan pengetahuan semakin mudah dan terbuka lebar. Bagaimanapun juga, pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang menjalankan bisnis dengan rajin belajar dari UKM lainnya akan berpeluang lebih cepat berkembang dan maju, ketimbang hanya model coba-coba atau ikutan tren.

Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya adalah mampu mengadopsi kemajuan teknologi dan informasi atau pemanfaatannya dalam proses produksi agar lebih efisien dan efektif, sehingga membuat sebuah UKM memiliki keunggulan dibanding pesaingnya. Hal ini sangat beralasan karena masa depan Indonesia adalah digital. Tak ayal, pengembangan bisnis UKM dengan industri digital seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Apa yang dilakukan ibu haji Abay juga dilakoni Aminah (38) warga jalan Sawo Sambikerep, Surabaya akhirnya banting setir berjualan makanan khas Surabaya seperti pecel semanggi, lontong balap, lontong kikil, tahu campur serta gado-gado, setelah sebelumnya usaha dari budidaya jamur yang tak kunjung sukses. Hebatnya, kesuksesan berjualan pecel semanggi dan lainnya karena berkat inovasinya berjualan lewat online di Bukalapak.com dan OLX.

Dirinya menceritakan, inovasi jualan pecel semanggi lewat dunia maya karena pertimbangan penjaja pecel semanggi gendong keliling kampung semakin jarang dan tidak lagi terlalu diminati, apalagi nenek dan ibu Aminah merupakan penjual pecel semanggi gendong turun temurun. Maka disaat Walikota Surabaya, Tri Rismaharini meluncurkan situs online Pahlawan Ekonomi pada 2010 yang merupakan wadah bagi para UKM di Surabaya memasarkan produknya, Aminah mencoba ikut memasarkan produk pecel semangginya. “Tidak saya duga ternyata respon yang saya dapatkan. sangat bagus," kata Aminah.

Besarnya order pemesanan pecel semanggi, memacu Aminah menekuni bisnis onlinenya dengan kemasan yang lebih menarik, ada yang bentuk daun semanggi kering di kemas dalam plastik. Jika hendak dimakan, daun semanggi kering tinggal dicelup dalam air panas. Bumbu pecelnya dibuat dalam wadah tertutup. Sekarang setelah menjual lewat online, Aminah dapat meraup omzet hingga Rp 3 juta per hari.

Strategi pemasaran sering kali diibaratkan sebagai jantung kehidupan sebuah usaha agar para pelaku UKM bisa jeli dan teliti untuk memenangkan persaingan bisnis. Maka memanfaatkan aplikasi digital menjadi pilihan tepat ditengah dinamisnya gaya hidup masyarakat. Menurut Deloitte Acces Economics, keterlibatan UKM secara digital bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 2%. Bahkan diprediksi, UKM yang mampu memanfaatkan IT di era digital saat ini atau online memiliki pertumbuhan pendapatan 23% hingga 80% dibandingkan UKM yang offline hanya memiliki pertumbuhan pendapatan 11%. Sayangnya, minimnya UKM memanfaatkan digital menjadi tantangan tersendiri, karena dari 50 juta pelaku UKM baru sekitar 8 juta yang sudah hijrah dari bisnis model tradisional ke digital untuk meningkatkan daya saingnya, apalagi Indonesia sudah memasuki pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Hal inipun diakui Co-Founder & Managing Partner, East Ventures, Willson Cuaca, daya saing digital Indonesia masih rendah. Berdasarkan East Ventures Digital Competitiveness Index 2020, indeks daya saing digital Indonesia masih berada di angka 27,9 (dengan skala 0-100). Dan 6 dari 10 provinsi dengan indeks digital tertinggi berada di pulau Jawa. Indonesia memiliki skor daya saing tinggi pada aspek penggunaan teknologi komunikasi dan informasi (TIK). Artinya, tingkat adopsi teknologi di negeri ini terbilang tinggi, terutama dalam hal kepemilikan ponsel pintar dan penggunaan internet. Skor tinggi juga diraih Indonesia pada aspek infrastruktur karena ketersediaan jaringan data seluler yang kian merata di seluruh tanah air.

Namun di sisi aspek sumber daya manusia dan kewirausahaan, Indonesia membukukan skor yang rendah. Hal tersebut merepresentasikan langkanya pasokan talenta digital dan keterbatasan institusi pendidikan untuk menghasilan teknaga kerja terampil di bidang TIK. Sementara skor yang rendah untuk aspek kewirausahaan menggambarkan pemanfaatan teknologi digital yang masih rendah oleh pelaku usaha.

Disampaikan Willson Cuaca, saat ini adanya kesenjangan daya saing digital antara provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa dengan wilayah lain di Indonesia. Ketimpangan itu terlihat dari dominasi provinsi-provinsi di Pulau Jawa dalam daftar 10 provinsi dengan daya saing digital tertinggi. Namun yang mengejutkan, menurut Willson, adalah masuknya Provinsi Kalimantan Timur di jajaran top 10.

Kata Wilson, pemetaan daya saing digital dari 34 provinsi yang ada di Indonesia ini dilakukan untuk memberikan semacam panduan untuk pengembangan ekonomi digital selanjutnya. “Kita akan sulit mengerjakan tanpa peta. Kita tidak bisa menembak dengan tepat sasaran,”ujarnya.

 

 

Peta Daya Saing Digital

 

 

 

Selain itu, lanjutnya, pemetaan daya saing digital juga dimaksudkan agar tiap daerah membuat startup. Tujuannya adalah bagaimana agar service-service digital yang sudah terjadi di kota besar bisa di bawa ke kota-kota dan provinsi-provinsi yang lebih kecil. Sehingga literasi digital pun akan lebih merata. Diharapkan nantinyakeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud lewat keadilan digital. Maka berdasarkan peta daya saing digital tersebut, Willson dapat menyarankan agar startup-startup pemula sebaiknya masuk ke daerah-daerah dengan indeks daya saing digital yang tinggi dan potensi adopsi digitalnya tinggi. Sebaliknya, startup yang sudah besar, seperti Gojek, Traveloka, dan Tokopedia disarankan untuk terus melebarkan sayap bisnisnya ke seluruh pelosok Nusantara.

Asal tahu saja, ekonomi digital menjanjikan inklusivitas, pemerataan peluang ekonomi bagi seluruh penduduk Indonesia. Akan tetapi, Indonesia seringkali hanya dilihat dari perkembangan area tertentu saja seperti Jakarta. Padahal, masih banyak daerah lain dari Sabang hingga Merauke yang masih belum mengecap manfaat dari ekonomi digital tersebut. “Maka dengan melibatkan mereka ke dalam perekonomian digital, Indonesia bisa mengubah bonus demografi menjadi dividen demografi. Mengubah potensi menjadi realisasi,” ujar Willson Cuaca.

Willson menuturkan bahwa East Ventures juga akan membawa indeks daya saing digital ini keluar agar potensi digital Indonesia diketahui masyarakat dunia. Dengan adanya data potensi digital ini, akan semakin banyak pula keputusan-keputusan investasi yang dapat dibuat dan semakin banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong perekonomian digital Indonesia.

Apa yang disampaikan Wilson, juga sependapat disampaikan CEO Diconding Indonesia, Narenda Wicaksono. Disampaikannya, Indonesia merupakan pasar sangat potensial bagi industri digital. Potensi ini antara lain disumbang oleh pesatnya pertumbuhan penetrasi smartphone. Saat ini, pengguna perangkat mobile Indonesia berada di angka 52,2 juta orang. Pada 2020, diperkirakan jumlahnya akan bertambah hingga lebih dari 100 juta orang. Disamping itu, pesatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah yang semakin akrab dengan teknologi gadget, internet, media daring dan media sosial juga menjadi pendorong semakin merebaknya penggunalikasi transportasi jemput dan antar yang berbasis layanan aplikasi online.

Tentu saja dengan pesatnya kemajuan digital dan dorongan pemerintah untuk mengajak masyarakat melek digital tanpa lagi ada kesenjangan bisa membawa perubahan ekonomi dan kesejahteraan lebih baik. Semoga.

 

 

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…