Konsultasikan Corona ke Dokter, Jangan Asal Minum Obat

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengimbau masyarakat agar tak sembrono mengonsumsi obat demi mengatasi virus penyebab Covid-19. Ia menyarankan, segala keluhan kesehatan terlebih dulu dikonsultasikan dengan dokter. Ia pun mewanti warga untuk mendiskusikan pelbagai penanganan juga langkah perawatan pasien Covid-19 dengan ahli ataupun tenaga profesional.

"Kami berharap, masyarakat bisa memahami manakala kemudian dirinya merasa sakit atau merasa tertular, maka disarankan untuk menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan manapun. Konsultasikan dengan dokter. Tidak perlu panik. Nanti dengan pemeriksaan yang teliti oleh dokter akan bisa ditentukan apakah mengarah ke Covid-19 atau tidak," kata Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta yang disiarkan langsung, Senin (23/3).

"Oleh karena itu, jangan membuat keputusan sendiri untuk meminum sesuatu obat, untuk melakukan kegiatan yang diyakini dapat menyembuhkan atau mencegah ini, padahal belum terbukti secara ilmiah," sambung dia lagi.

Di tengah upaya penanganan wabah ini, Yuri mengajak seluruh warga untuk berpikir rasional dan memanfaatkan segala fasilitas yang bisa diakses warga untuk mengonsultasikan setiap kebingungan. "Baik secara langsung mendatangi dokter maupun secara virtual melalui aplikasi untuk konsultasi. Hotline sudah disiapkan di 119. Beberapa unicorn seperti Sehatpedia, Halodoc dan sebagainya," lanjut dia.

Dalam konferensi pers rutin Yuri juga kembali mengingatkan masyarakat untuk menjaga jarak fisik atau social distancing demi mengurangi risiko penularan virus corona. Ia menjelaskan, penularan terjadi melalui droplet yakni percikan air liur yang kecil, dari orang yang positif virus ke orang yang sehat. Baik yang terpercik saat batuk, berbicara ataupun ketika bersin. "Maka dari itu, menjaga jarak adalah langkah paling bagus dalam mengurangi risiko penularan," kata dia.

"Namun disertai kegiatan cuci tangan dengan sabun. Bisa jadi percikan batuk itu jatuh ke benda di sekitar kita. Dan tidak mustahil itu kita sentuh, kemudian kita makan, memegang hidung, muka dan lain sebagainya," sambung Yuri.

Itu sebab pemerintah menekankan pentingnya menjaga jarak fisik dalam berkomunikasi dan, mempraktikkan kebiasaan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Bukan hanya itu, isolasi mandiri juga berperan dalam efektivitas mengerem laju penularan virus corona. "Tentunya akan diikuti dengan monitoring diri, manakala keluhan fisik seperti influenza semakin memberat, panas disertai batuk, segera menghubungi fasilitas kesehatan," saran Yuri.

Hingga Senin (23/3), Peneliti penyakit menular di The University of Texas menyatakan waktu antara kasus dalam rantai penularan virus corona Covid-19 cukup cepat, yakni kurang dari satu minggu. Peneliti juga menemukan bahwa lebih dari 10 persen pasien terinfeksi corona disebabkan oleh seseorang yang memiliki virus tetapi belum memiliki gejala.

Di sisi lain, peneliti mengatakan temuan itu dapat membantu petugas kesehatan masyarakat dalam upaya mereka mengendalikan penyebaran Covid-19. Temuan itu berdasarkan dari penghitungan interval serial virus.

Melansir Science Daily, para ilmuwan melihat waktu yang diperlukan bagi gejala Covid-19 muncul pada dua orang terinfeksi Covid-19, yakni orang yang menginfeksi orang lain dan orang kedua yang terinfeksi untuk menghitung interval serial.

 Para peneliti menemukan bahwa interval serial rata-rata untuk virus corona baru adalah sekitar empat hari. Hasil penelitian itu juga merupakan studi pertama yang memperkirakan tingkat penularan tanpa gejala.

Peneliti mengatakan kecepatan epidemi tergantung pada dua hal, yakni berapa banyak orang yang terinfeksi dari satu kasus dan berapa lama infeksi antar orang menyebar. Kuantitas pertama disebut nomor reproduksi. Sedangkan yang kedua adalah interval serial. Menurut peneliti, interval serial Covid-19 yang pendek berarti wabah yang muncul akan tumbuh dengan cepat dan bisa sulit untuk dihentikan.

"Data menunjukkan bahwa virus corona ini dapat menyebar seperti flu. Itu berarti kita perlu bergerak cepat dan agresif untuk mengekang ancaman yang muncul," ujar Lauren Ancel Meyers, seorang profesor biologi integratif di UT Austin.

 Dalam penelitian itu, Meyers dan timnya memeriksa lebih dari 450 laporan kasus infeksi yang terdapat di 93 kota di China. Hasilnya, mereka menemukan bukti terkuat bahwa orang tanpa gejala telah menularkan virus, yang dikenal sebagai penularan pra-gejala jumlah pasien positif Covid-19 bertambah 65 kasus dibanding hari sebelumnya yakni menjadi 579 orang. Korban yang meninggal pun meningkat menjadi 49 orang, dengan jumlah yang sembuh mencapai 30 pasien

BERITA TERKAIT

Pakar Kesehatan: Gerbong KRL dan MRT Bisa Lebih Rentan dari Ojol

Pakar Kesehatan Masyarakat, Hermawan Saputra, mengatakan transportasi umum tertutup seperti KRL, MRT, atau Bus Transjakarta bisa lebih rentan akan transmisi…

Cegah Masalah Kesehatan Kala Terlalu Lama Memakai Masker

Pemakaian masker dalam waktu yang lama berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan salah-salah memunculkan gangguan kesehatan. Apalagi menyongsong penerapan new normal…

Ini Tips Aman Membeli Obat dan Vitamin

Obat dan vitamin menjadi dua hal penting yang hampir selalu dimiliki setiap keluarga di tengah pandemi Covid-19. Keduanya dinilai mampu…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Pakar Kesehatan: Gerbong KRL dan MRT Bisa Lebih Rentan dari Ojol

Pakar Kesehatan Masyarakat, Hermawan Saputra, mengatakan transportasi umum tertutup seperti KRL, MRT, atau Bus Transjakarta bisa lebih rentan akan transmisi…

Cegah Masalah Kesehatan Kala Terlalu Lama Memakai Masker

Pemakaian masker dalam waktu yang lama berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan salah-salah memunculkan gangguan kesehatan. Apalagi menyongsong penerapan new normal…

Ini Tips Aman Membeli Obat dan Vitamin

Obat dan vitamin menjadi dua hal penting yang hampir selalu dimiliki setiap keluarga di tengah pandemi Covid-19. Keduanya dinilai mampu…