Masyarakat Bandung Antusias dengan Kepemilikan Rumah Berkonsep Syariah

Masyarakat Bandung Antusias dengan Kepemilikan Rumah Berkonsep Syariah   

NERACA

Bandung - Masyarakat Bandung antusias terhadap bisnis kepemilikan rumah dengan konsep kepemilikan tanpa bank, tanpa sita, tanpa denda, tanpa BI Checking, tanpa bunga, dan tanpa akad bathil, sesuai konsep syariah dan bahkan minat masyarakat untuk mendapatkan rumah dengan konsep itu semakin meningkat.

"Untuk menjawab antusiasme dan minat masyarakat yang tinggi akan kepemilikan rumah berkonsep syariah, kemarin kami menggelar agenda gathering akbar di Bandung kemarin," kata Founder Developer Property Syariah, Ustaz H Muhammad Rosyid Aziz, Senin (9/3).

Developer Property Syariah ialah penggagas pertama pengembang properti berbasis syariah di Indonesia.

Ustaz Rosyid mengatakan acara temu ramah tersebut juga digelar di 10 kota besar lainnya, termasuk Bandung. Dia mengatakan dalam acara tersebut Developer Property Syariah (DPS) wilayah Jawa Barat memperkenalkan kurang lebih 17 proyek anggota DPS, termasuk yang berlokasi di Bandung dan sekitarnya. Proyek tersebut telah diverifikasi dan lolos uji oleh tim DPS Pusat.

"Jadi mereka itu sudah lolos uji, ini sudah dicek sisi akad, keuangan, maupun manajemen proyek," ujar Ustaz Rosyid.

Dia menuturkan saat ini masyarakat makin mengenal konsep properti syariah yang aman dari sisi bisnisnya dan sisi akad-akadnya yang digunakan, sehingga masyarakat bisa memilih properti syariah atau bukan, layak, atau tidak layak.

"Jadi masyarakat sudah tidak perlu takut lagi akan oknum-oknum pengembang yang tidak bertanggung jawab seperti kabar yang beredar dan sedang ramai diberitakan, serta sedang beredar di media masa akhir-akhir ini," ujar dia. 

Menurut dia, bisnis properti yang dijalankan sama sekali tak bersinggungan dengan bank, tidak ada sistem denda, bahkan tidak ada asuransinya. Dia mengatakan tanpa adanya denda maka mayoritas kebanyakan developer takut tertipu oleh konsumen nakal.

Padahal, menurut Rosyid, meskipun sudah ada denda pun masih banyak developer yang tertipu oleh konsumen nakal tersebut. Sedangkan denda itu, kata dia, tidak ada dalam sepanjang sejarah kehidupan Islam mulai zaman Rasulullah SAW, sehingga denda dimasukkan ke dalam golongan riba.

"Sehingga kita harus melakukan verifikasi konsumen dengan dua poin yaitu mampu dan amanah," kata dia. Mohar/Ant

 

 

BERITA TERKAIT

Aktivitas Sewa Perkantoran Global Menurun 22%

NERACA Jakarta – Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik meninjau kembali strategi real estate komersial mereka di tengah kebijakan lockdown yang diberlakukan…

Normal Baru Akan Dorong Tercapainya Program Sejuta Rumah

NERACA Jakarta - Pelaksanaan Normal Baru dinilai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai suatu hal yang positif…

Pandemi COVID-19 Saatnya Beli Rumah Karena Banyak Kemudahan

NERACA Jakarta - Sejumlah pengamat properti menilai pandemi COVID-19 merupakan waktu tepat untuk membeli hunian karena kalangan perbankan dan pengembang…

BERITA LAINNYA DI Hunian

Aktivitas Sewa Perkantoran Global Menurun 22%

NERACA Jakarta – Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik meninjau kembali strategi real estate komersial mereka di tengah kebijakan lockdown yang diberlakukan…

Normal Baru Akan Dorong Tercapainya Program Sejuta Rumah

NERACA Jakarta - Pelaksanaan Normal Baru dinilai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai suatu hal yang positif…

Pandemi COVID-19 Saatnya Beli Rumah Karena Banyak Kemudahan

NERACA Jakarta - Sejumlah pengamat properti menilai pandemi COVID-19 merupakan waktu tepat untuk membeli hunian karena kalangan perbankan dan pengembang…