Cegah Virus Corona, Kenali Beda Antiseptik dan Desinfektan

Berbagai negara di seluruh dunia masih disibukkan dengan penanggulangan wabah virus corona jenis baru atau SARS CoV-2. Salah satu yang dikampanyekan dalam antisipasi penyebaran Covid-19 adalah memastikan tangan dan benda-benda di sekitar Anda bersih dari bakteri juga virus. Karena itu anjuran mencuci tangan dengan sabun dan membersihkan lingkungan sekitar dengan desinfektan jadi dua hal yang kerap didengar.

Panduan pencegahan tersebut beralasan mengingat tingkat penyebaran wabah yang terus meluas. Terhitung dua bulan, wabah virus corona atau SARS CoV-2 telah menginfeksi lebih dari 100 ribu orang di puluhan negara dunia. Termasuk Indonesia. Tangan yang terkontaminasi diyakini bisa membawa virus ke dalam tubuh atau menyebarkannya ke orang lain. Di sisi lain, virus juga bisa tinggal di permukaan benda-benda mati.

Untuk mencegah penularan, permukaan tangan harus dibersihkan menggunakan sabun yang mengandung antiseptik. Jika terpaksa tak ada akses air, Anda bisa menggantinya dengan cairan pembersih tangan atau hand sanitizer yang mengandung antiseptik. Sedangkan untuk benda mati, Anda bisa menggunakan desinfektan.

Meski sama-sama untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme, antiseptik dan desinfektan memiliki fungsi juga takaran kandungan zat kimia yang berbeda. Namun begitu sebagian orang memang kerap menggunakan dua istilah itu secara bergantian. Dan kebiasaan ini seringkali menambah kebingungan untuk membedakan keduanya dalam kehidupan sehari-hari.

Dikutip dari Health Line, perbedaan mendasar keduanya ada pada penggunaannya. Antiseptik dipakai untuk tubuh, sementara desinfektan pada benda tak hidup seperti pegangan pintu, komputer atau meja.

Baik antiseptik maupun desinfektan memiliki kandungan kimia yang sering dikenal dengan biosida. Hidrogen peroksida adalah contoh bahan umum dalam keduanya. Tapi antiseptik biasanya mengandung konsentrasi yang lebih rendah dibanding desinfektan.

Senada, Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan menjelaskan antiseptik merupakan senyawa kimia untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup, seperti permukaan kulit dan membran mukosa.

Penggunaan antiseptik sangat disarankan untuk membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tangan. Oleh karena itu antiseptik banyak terdapat pada sabun dan hand sanitizer.

"Penggunaan antiseptik sangat direkomendasikan ketika terjadi epidemi penyakit [termasuk virus corona] karena dapat memperlambat penyebaran penyakit," kata Erlina dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu.

Cara kerja antiseptik membunuh mikroorganisme, pertama melalui oksidasi dengan lemak dalam sel sehingga mikroorganisme langsung pecah dan mati. Atau dapat pula dengan langsung menyerang sitoplasma sehingga langsung merusak sel mikroorganisme.

Sedangkan desinfektan, kata Erlina, zat kimia yang digunakan membunuh mikroorganisme pada benda mati. Desinfektan biasanya disemprotkan langsung pada benda. Seperti yang dilakukan pada peralatan makan WNI dari Wuhan yang saat itu hendak diobservasi di Natuna. "Menggunakan sabun atau hand sanitizer mengandung antiseptik penting untuk membunuh mikroorganisme. Sementara desinfektan untuk benda mati," jelas Erlina lagi.

Aktivitas cuci tangan akhir-akhir ini jadi hal yang kerap dilakukan. Hampir di tempat-tempat umum selalu disediakan hand sanitizer. Wastafel di toilet pun kerap diantre orang-orang yang ingin mencuci tangannya. Bisa jadi dalam hitungan beberapa menit sekali Anda bisa mencuci tangan setidaknya 2 kali dengan 6-7 langkah cuci tangan yang tepat.

Barangkali ini bisa dianggap sebagai secuil dampak positif dari antara dampak negatif virus corona. Sebelum ramai Covid-19, cuci tangan bukan kegiatan yang lazim kecuali sebelum dan sesudah makan tanpa sendok. Kini aktivitas cuci tangan makin digalakkan. Kampanye cuci tangan ditemui baik di media massa maupun media sosial. Bahkan di toilet-toilet umum, terdapat poster petunjuk mencuci tangan dengan benar.

Meski demikian, cuci tangan tampaknya masih dianggap sepele. Psikolog Rena Masri pun mengamati ada pengunjung mal yang tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet. Ada pula yang mengajak anaknya mencuci tangan tetapi hanya ala kadarnya.

Tak dimungkiri mayoritas orang Indonesia belum mencuci tangannya dengan cara yang benar. Menurut laporan Riskesdas, kecenderungan proporsi anak di atas usia 10 tahun mencuci tangan dengan benar baru mencapai 47 persen. "Mungkin utamanya bagaimana disiplin keluarga [diterapkan]. Mungkin tidak konsisten menanamkannya," kata Rena

BERITA TERKAIT

Menghilangkan Bau Badan dengan Cepat dan Ampuh

Tak bisa dimungkiri, bau badan kerap jadi faktor yang dapat menurunkan rasa percaya diri. Sebuah penelitian teranyar mengungkap 'kambing hitam'…

Konsumsi Protein Nabati Bisa Turunkan Risiko Kematian

Studi terbaru peneliti dari Divisi Epidemiologi Kanker dan Genetik, National Cancer Institute menemukan keterkaitan antara konsumsi makanan berbasis protein tumbuhan…

Kemenkes: Tidak Ada Ramuan Jamu Obat Covid-19

Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kementerian Kesehatan, Akhmad Saikhu, mengatakan hingga saat ini tak ada ramuan…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Menghilangkan Bau Badan dengan Cepat dan Ampuh

Tak bisa dimungkiri, bau badan kerap jadi faktor yang dapat menurunkan rasa percaya diri. Sebuah penelitian teranyar mengungkap 'kambing hitam'…

Konsumsi Protein Nabati Bisa Turunkan Risiko Kematian

Studi terbaru peneliti dari Divisi Epidemiologi Kanker dan Genetik, National Cancer Institute menemukan keterkaitan antara konsumsi makanan berbasis protein tumbuhan…

Kemenkes: Tidak Ada Ramuan Jamu Obat Covid-19

Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kementerian Kesehatan, Akhmad Saikhu, mengatakan hingga saat ini tak ada ramuan…