Prospek & Optimisme

 

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Seperti biasanya perayaan imlek kali disertai hujan deras di sejumlah daerah dan tentu hal ini diyakini akan memberikan berkah yang melimpah. Bahkan sebagian pihak sangat berkeyakinan bahwa semakin deras hujannya maka akan semakin menjanjikan prospek di sepanjang tahun 2020. Terkait hal ini maka optimisme memang harus dipacu sebagai spirit untuk bekerja lebih baik lagi kedepannya. Setidaknya pencapaian ekonomi selama 2019 menjadi catatan untuk review dan evaluasi sehingga bisa dipetakan mana problem yang harus diselesaikan dan juga mana tantangan yang harus dipecahkan kedepannya.

Ironisnya persepsian makin deras hujan selama perayaan imlek berbanding terbalik jika dikaitkan dengan ancaman bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah lainnya. Hal ini tentu menjadi kontradiksi karena di satu sisi berharap ada keyakinan dengan nilai optimisme sementara di sisi lain ada ancaman bencana yang tentu harus diminimalisir. Oleh karena itu, perlu kajian dan pemetaan secara sistematis dan berkelanjutan sehingga diantara kedua kepentingan tersebut dapat bersinergi. Optimisme tentu sah saja sebab ini akan menjadi spirit untuk mengejar semua target yang telah ditetapkan sementara aspek lain yang tidak bisa diabaikan adalah bagaimana spirit itu selaras dengan sumber daya di internal dan eksternal yang dimiliki.

Memang tidak mudah untuk melihat kondisi makro ekonomi ke depan. Argumen dibalik keyakinan ini tidak terlepas dari sejumlah peristiwa ekonomi global yang terjadi selama tahun 2019 kemarin. Meski perang dagang AS-Tiongkok telah memasuki fase baru yaitu gencatan perang dagang tapi win-win solutions nampaknya belum dicapai sepakat. Fakta ini tentu masih bisa memicu sentimen negatif, apalagi keduanya kini merupakan raksasa ekonomi global. AS memang masih diyakini sebagai super power sementara Tiongkok di era kekinian juga tidak bisa diabaikan. Modal SDM-nya yang melimpah telah berhasil dimanfaatkan secara maksimal sehingga menurunkan biaya produksinya dan produknya berdaya saing di pasar global sehingga merajai di semua segmen pasar global.

Jika dicermati modal SDM sebenarnya juga dimiliki Indonesia, namun sayang modal ini justru lebih banyak berperan sebagai obyek saja yaitu pasar dari produk atau konsumen. Imbasnya adalah besaran produk domestik bruto lebih banyak berasal dari konsumsi dan bukan dari produksi. Padahal, situasi seperti ini sangat rentan terhadap masuknya produk impor dan tentu implikasinya terhadap neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Jadi ekspor bisa minus dibanding impor dan tentu penguasaan pasar dalam negeri rentan jika dibandingkan dengan daya saing produk luar yang leluasa masuk di pasar domestik.

Jika sudah demikian maka jangan salahkan produk luar yang berdaya saing sementara yang dari dalam negeri produk-nya kalah bersaing. Yang juga ironis dari kasus ini yaitu fakta ancaman terhadap produk bajakan berdalih made in asing. Jika sudah demikian runyam yang terjadi dan perekonomian tidak bisa menjanjikan prospek, meskipun pada perayaan imlek terjadi hujan deras dan ber-shio tikus logam yang katanya menjanjikan kecerdikan

BERITA TERKAIT

Pajak Nol, Mobil Baru Nongol

  Oleh: Sarwani Pengamat Kebijakan Publik Virus corona dan mobil akan berlomba bertebaran di ruang publik. Pasalnya, pemerintah tengah mengkaji…

Produk Jamu di Masa Pandemi

Oleh: Agus Suparmanto Menteri Perdagangan RI Benar, saat ini industri jamu untuk selalu meningkatkan daya saing produk-produk jamu dan mendukung…

Muhammadiyah dan Kemaritiman

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Persyarikatan Muhammadiyah semestinya bermuktamar pada Juli lalu. Namun, karena…

BERITA LAINNYA DI

Pajak Nol, Mobil Baru Nongol

  Oleh: Sarwani Pengamat Kebijakan Publik Virus corona dan mobil akan berlomba bertebaran di ruang publik. Pasalnya, pemerintah tengah mengkaji…

Produk Jamu di Masa Pandemi

Oleh: Agus Suparmanto Menteri Perdagangan RI Benar, saat ini industri jamu untuk selalu meningkatkan daya saing produk-produk jamu dan mendukung…

Muhammadiyah dan Kemaritiman

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Persyarikatan Muhammadiyah semestinya bermuktamar pada Juli lalu. Namun, karena…