Tambah Kapasitas Kamar - Royalindo Wijaya Bangun 400 Kamar Indekos

NERACA

Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) langsug tancap gas ekspansi bisnisnya. Dimana perseroan menargetkan akan membangun hingga 400 kamar indekos di dua tempat yang berbeda. “Rencananya pembangunan di daerah Tebet, Jakarta Selatan dan di daerah Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Kemungkinan bisa empat lantai,”kata Sekretaris Perusahaan Royalindo Investa, Wijaya Ko Sugiarto di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, pembangunan fasilitas indekos tersebut akan dimulai pada bulan Maret tahun ini dan diharapkan bisa selesai di akhir tahun. Menurut Sugiarto, hingga saat ini total kapasitas kamar yang dimiliki perseroan telah mencapai 150 kamar dari dua tempat fasilitas indekos yang berada di Cempaka Putih dan Pangeran Jayakarta.

Menurutnya, dengan adanya pembangunan di dua tempat tersebut diharapkan total kapasitas kamar mungkin akan mencapai sekitar 400-500 kamar. Dirinya menamnbahkan, dana hasil IPO sebesar Rp 94,8 miliar sepenuhnya akan diberikan kepada anak usaha perseroan yaitu PT Semangat Bangun Nusantara (SBN) dan PT Mulia Arta Nusantara (MAN). Adapun porsi pemberian dana kepada kedua anak usaha perseroan masing masing 50%. "Nantinya pembangunan fasilitas tersebut akan melalui anak usaha kami," ungkapnya.

Kata Sugiarto, pada saat pelaksanaan IPO saham INDO mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hampir lima kali. “Oversubscribe hampir lima kali, padahal pada saat pelaksanaan sedang situasi banjir. Rata-rata investor yang menyerap, investor perseorangan,” ujarnya.

Berdasarkan prospektus perusahaan, Royalindo Investa Wijaya melepas saham PT Bank Royal Indonesia kepada PT Bank Central Asia Tbk. pada 31 Oktober 2019. Dari transaksi itu, emiten bersandi INDO tersebut mengantongi dana Rp817,06 miliar. Pihaknya menyasar sektor indekos dibandingkan dengan properti recurring income lainnya, seperti perhotelan lantaran menilai paling cocok dengan target pasar masyarakat Indonesia. Pasalnya, banyak masyarakat yang masih memilih untuk tinggal di lokasi yang tidak jauh dari perkantoran. Pihaknya akan mematok tarif dimulai dari kisaran Rp1,5 juta–Rp2 juta.

Hingga Juni 2019, INDO tercatat memiliki aset senilai Rp1 triliun dan ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp419 miliar. Pendapatan usaha senilai Rp703 juta dan laba senilai Rp129 juta. Royalindo Investa Wijaya menjadi emiten ke empat di tahun 2020 yang melakukan listing di BEI. Pada perdagangan perdananya, saham INDO meningkat 70% ke level Rp 187 dengan total frekuensi sebanyak 256.000 lot saham. Adapun sebelumnya, perseroan melepas 861,8 juta saham atau setara 20% modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Dalam gelaran IPO tersebut perseroan menawarkan sahamnya dengan harga Rp 110 per unit saham.

 

 

BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…