Dosen Mengabdi IPB Ajarkan Kesehatan dan Reproduksi Domba

Dosen Mengabdi IPB Ajarkan Kesehatan dan Reproduksi Domba

NERACA

Bogor - Melalui kegiatan dosen mengabdi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University kali ini hadir dengan membawakan tema kesehatan dan reproduksi domba. Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh 10 orang peternak dari berbagai kampung yang ada di Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Bogor, Sabtu (14/12).

Setiap kampung yang ada di Desa Harkat Jaya hampir seluruh masyarakatnya ialah peternak dan usaha domba. Inilah yang menjadi alasan diadakannya kegiatan sosialisasi tentang domba di desa ini.

Dalam kegiatan ini LPPM IPB mengirim dua dosen mengabdi yakni Dr. Drh Yudi, M.Si dari divisi reproduksi dan kebidanan dan Dr. drh. Retno Wulandari, MS dari divisi penyakit dalam, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB.

Diawal kegiatan ini Drh Yudi menjelaskan bahwa domba merupakan jenis ternak yang biasanya banyak dipelihara di pedesaan.“Hal ini dikarenakan domba mempunyai daya adaptasi yang tinggi, perawatan yang relatif mudah, cepat berkembang biak, dan banyak dibutuhkan masyarakat untuk berbagai acara seperti aqiqah, qurban, dan lain-lain,” ungkapnya.

Reproduksi pada domba dipengaruhi faktor genetik, pakan, kesehatan, dan kandang. Dalam pemaparannya beliau juga mengatakan “Waktu ideal untuk reproduksi domba yaitu 3 kali kelahiran dalam 2 tahun, jarak kelahiran sekitar 8 bulan dinilai normal, induk domba masih dapat merawat anaknya sekitar 3 bulan.”

“Selain memperhatikan jarak waktu kelahiran domba, faktor penting lainnya yaitu pemilihan bibit. Domba dinilai baik dan bagus jika penampilan fisik nya normal dan tidak berpenyakit, tidak kurus, tidak terlalu gemuk, dan terlihat lincah,” sambungnya.

Kemudian Drh Wulan juga menyampaikan dalam materinya tentang manajemen kesehatan domba.“Memanajemen kesehatan domba sangatlah penting, kita perlu mengetahui ciri-ciri mana domba yang sehat dan yang sakit. Sebab, bila manajemen kesehatan domba buruk, maka akan berdampak pada kerugian terhadap peternak itu sendiri,” kata dia.

Dia juga menambahkan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan domba.”Perubahan iklim, suhu dan kelembaban udara, adanya perubahan lingkungan yang ekstrem, kepadatan kandang yang tinggi, vertilisasi buruk, intensitas cahaya yang terlalu tinggi itu biasanya akan mempengaruhi dan menyebabkan hewan sakit,” sambungnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara narasumber dengan peternak. Pak Atang, salah satu peternak domba dari Kampung Parigi, Desa Harkat Jaya mengutarakan tentang permasalahan kondisi dombanya yang kurang gemuk walau sudah diberikan pakan yang cukup dan teratur. Menanggapi hal tersebut, drh Wulan menyarankan “Kegemukan domba dapat dipengaruhi dari jenis pakan yang diberikan, lingkungan dan kesehatan domba itu sendiri. Apabila domba yang diternak kurang gemuk, maka cobalah untuk memberikan jenis pakan yang memiliki kandungan protein cukup tinggi contohnya seperti dedak.”

“Pemberian pakan berupa rumput sebaiknya diberikan ke domba kondisi yang layu. Sebab rumput yang baru dipanen dan disimpan di karung itu memiliki kadar gas yang cukup tinggi, sehingga ketika dimakan domba akan mempengaruhi pencernaannya. Selain itu, waktu pengambilan rumput juga mempengaruhi kualitas rumput, maka disarankan peternak mengambil rumput yang sudah terkena sinar matahari, sebab agar terhindar dari adanya telur-telur cacing dan bakteri,” tambah Drh Yudi.

Kegiatan sosialisasi ini disambut dengan sangat baik oleh para peternak. Hal ini ditandai dengan tanggapan dari Bapak Cecep selaku Ketua Gapoktan bidang pangan.“Kami sangat senang dengan adanya kehadiran para dosen dari IPB ini untuk memberikan kami pengetahuan seputar tentang domba. Sejujurnya, kami sangat masih minim pengetahuan akan hal itu, terutama apabila terjadi menurunnya kondisi kesehatan pada domba-domba kami. Saya berharap kedepannya kegiatan seperti ini akan tetap berlangsung yaitu khususnya berupa pendampingan secara berkelanjutan untuk seluruh peternak-peternak yang ada di Desa Harkat Jaya ini,” kata dia. Mohar

 

 

BERITA TERKAIT

Untuk Menahan Inflasi Yang Tinggi, Sektor Ekonomi Harus Segera Dipulihkan - KABUPATEN KUNINGAN

NERACA Kuningan - Jika tidak mau terjadi tingginya inflasi maka sektor ekonomi harus segera dipulihkan paska Pandemi Covid-19, termasuk pemulihan…

Bantuan Produktif Usaha Mikro Rp2,4 Juta Mulai Dicairkan 17 Agustus 2020

NERACA Jakarta - Program bantuan produktif untuk usaha mikro yang diberikan sebesar Rp2,4 juta kepada pelaku usaha mikro disebut siap…

Kalak BPBD : Bencana Longsor Paling Banyak Terjadi - Sampai dengan Juli, Terjadi 116 Kejadian Bencana di Kota Sukabumi

NERACA Sukabumi - Bencana tanah longsor paling banyak terjadi di Kota Sukabumi, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Daerah

Untuk Menahan Inflasi Yang Tinggi, Sektor Ekonomi Harus Segera Dipulihkan - KABUPATEN KUNINGAN

NERACA Kuningan - Jika tidak mau terjadi tingginya inflasi maka sektor ekonomi harus segera dipulihkan paska Pandemi Covid-19, termasuk pemulihan…

Bantuan Produktif Usaha Mikro Rp2,4 Juta Mulai Dicairkan 17 Agustus 2020

NERACA Jakarta - Program bantuan produktif untuk usaha mikro yang diberikan sebesar Rp2,4 juta kepada pelaku usaha mikro disebut siap…

Kalak BPBD : Bencana Longsor Paling Banyak Terjadi - Sampai dengan Juli, Terjadi 116 Kejadian Bencana di Kota Sukabumi

NERACA Sukabumi - Bencana tanah longsor paling banyak terjadi di Kota Sukabumi, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)…