Perdana di Pasar Modal - IFII Targetkan Pendapatan Naik 24% di 2020

NERACA

Jakarta –Resmi mencatatkan saham perdana di pasa modal, PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII) terus memacu ekspansi bisnis. Di tahun depan, perseroan memproyeksikan pendapatan mencapai Rp 800 miliar. Jumlah tersebut meningkat 24% dibandingkan target pendapatan pada tahun ini sebesar Rp 650 miliar.

Direktur Utama Indonesia Fibreboard Industry, Heffy Hartono mengatakan, guna mengejar target tersebut, perseroan akan menambah kapasitas produksi plywood yang ada. Perseroan juga akan menempuh refinancing dengan kreditur Bank Nord LB agar dapat mendongkrak laba. Dimana dana tersebut dihimpun dari hasil initial public offering (IPO) saham. Sebagian hasil IPO yang lain akan digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) tahun depan sebesar Rp 40 miliar. "Perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi dari semula 250 ribu kubik per tahun menjadi 275 ribu kubik per tahun dengan melakukan peremajaan mesin-mesin. Kami juga menambah produk baru yang sejenis dengan plywood yang kami produksi," ujar Heffy  di Jakarta, kemarin.

PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk menjadi emiten ke-52 yang tercatat di BEI pada tahun ini. Pada debut perdana di pasar modal, harga saham IFII naik 69,52% menjadi Rp 178. Melalui penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO), IFII melepas sebanyak 1,42 miliar lembar saham kepada masyarakat atau setara 15% dari modal disetor dan ditempatkan perusahaan. Saham tersebut dilepas dengan harga Rp 105 per lembar. Dengan demikian, IFII mendapat dana segar sebanyak Rp 148,27 miliar.

Dalam aksi korporasi ini, perusahaan menunjuk PT Investindo Nusantara Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek serta dua perusahaan Penjamin Emisi Efek yakni PT Panin Sekuritas Tbk dan PT Corpus Sekuritas Indonesia. Perseroan yang bergerak di bidang pengolahan kayu akan fokus pada tahun depan untuk meningkatkan ekspor ke sejumlah negara, terutama Jepang.

Kata Heffy, potensi pasar ekspor sangat besar. Sejauh ini, sekitar 76% produk IFII diekspor ke pasar internasional dan dan 24% untuk pasar domestik. "Pangsa ekspor Indonesia ke Jepang untuk papan serat masih sangat kecil, sekitar 7%.Maka dari itu potensi yang kita miliki masih sangat besar. Saat ini pengekspor terbesar papan serat ke Jepang masih dipegang oleh New Zealand," ungkapnya.

Sementara Direktur Ang Andri Pribadi mengaku bisnis pengolahan kayu akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang tahun depan diprediksi mencapai 3-4%. Meskipun demikian, perseroan tak menafikan bahwa isu perang dagang menjadi sentimen negatif bagi perdagangan luar negeri. Perusahaan berdiri pada Juni 2007 dan hanya memproduksi Medium Density Fireboard (MDF) dengan kapasitas terpasang 250 ribu m3 per tahun. Adapun komposisi saham perusahaan setelah IPO, PT Adrindo Intiperkasa menguasai 70,12%, Hefty Hartono sebesar 12,76%, Tropical Investment Pte. Ltd 2,12%, dan sisanya pemegang saham publik sebesar 15%.

BERITA TERKAIT

Kinerja Ekonomi Melempem - Masih Ada Optimisme Emiten Tetap Tumbuh

NERACA Jakarta – Meskipun banyak emiten menyampaikan laporan keuangan semester pertama negatif akibat dampak pandemi, namun menurut Menteri Koodinator Bidang…

Bisnis Jasa Konstruksi Sepi - Pendapatan Totalindo Terkoreksi 56,25%

NERACA Jakarta – Telat dalam menyampaikan laporan keuangan juga diperburuk dengan pencapaian diluar target. Hal inilah yang menggambarkan performance kinerja…

Berkah Efisiensi dan Pangkas Beban - Laba Solusi Tunas Pratama Naik Tajam 818,59%

NERACA Jakarta – Di saat pelaku industri menelan pil pahit karena kinerja keuangan terkoreksi dan bahkan rugi akibat dampak pandemi,…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Kinerja Ekonomi Melempem - Masih Ada Optimisme Emiten Tetap Tumbuh

NERACA Jakarta – Meskipun banyak emiten menyampaikan laporan keuangan semester pertama negatif akibat dampak pandemi, namun menurut Menteri Koodinator Bidang…

Bisnis Jasa Konstruksi Sepi - Pendapatan Totalindo Terkoreksi 56,25%

NERACA Jakarta – Telat dalam menyampaikan laporan keuangan juga diperburuk dengan pencapaian diluar target. Hal inilah yang menggambarkan performance kinerja…

Berkah Efisiensi dan Pangkas Beban - Laba Solusi Tunas Pratama Naik Tajam 818,59%

NERACA Jakarta – Di saat pelaku industri menelan pil pahit karena kinerja keuangan terkoreksi dan bahkan rugi akibat dampak pandemi,…