Pembumian Pancasila Jadi Solusi Efektif Memitigasi Risiko Bernegara

Pembumian Pancasila Jadi Solusi Efektif Memitigasi Risiko Bernegara  

NERACA

Jakarta - Upaya pembumian dan habituasi nilai-nilai Pancasila dinilai merupakan langkah prioritas yang efektif yang perlu dilakukan untuk memitigasi risiko bernegara dari ancaman pemecah-belah bangsa.

"Pembumian dan habituasi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar filsafat negara adalah untuk melatih masyarakat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan berbangsa. Serta untuk mencegah terjadinya konflik antar suku, agama, dan daerah," ujar Direktur Eksekutif Generasi Optimis Research & Consulting Tigor Mulo Horas Sinaga di Jakarta, Rabu (4/12).

Horas juga menyampaikan bahwa saat ini Pancasila menghadapi ancaman laten dan nyata dari manipulator agama yang cenderung radikalis dan intoleransi antarumat beragama.

"Pembumian Pancasila itu mendesak sifatnya, karena jika tidak dilakukan, maka Pancasila bisa kalah dengan ideologi lain. Karena itu ancamannya nyata. Ancaman manipulator agama dan intoleransi itu ada," ujar Horas.

Pria yang juga Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Generasi Optimis Indonesia itu juga mengatakan Pancasila memang telah berhasil menjadi pemersatu bangsa Indonesia, namun Horas berpendapat Pancasila harus diperkuat.

Menurutnya, bangsa Indonesia tidak bisa selama-lamanya selalu menganggap Pancasila itu sakti."Pancasila memang sakti dan pernah teruji atas serangan komunis pada masa orde lama dan peralihan ke orde baru. Tetapi jika dinamika internal kita tidak diantisipasi dengan ikhtiar pembumian ideologi Pancasila, saya khawatir Pancasila terkalahkan oleh ideologi luar yang sektarian dan intoleran," tutur Horas Sinaga.

Pemahaman nilai-nilai Pancasila akan menciptakan dan menumbuhkan jiwa gotong-royong, persatuan, dan kesatuan.

Horas menambahkan, awal mula runtuhnya suatu negara bukan saja disebabkan dari serangan eksternal melainkan disebabkan juga dari internal. Maka dari itu ia berpendapat ikhtiar pembumian Pancasila sangat penting agar masyarakat saling menghormati dan tidak mengalami perpecahan.

"Indonesia di ambang bahaya kalau Pancasila tidak kita bumikan kembali. Kami mendorong BPIP semangat dalam membumikan Pancasila dan terjun sampai ke akar rumput masyarakat, jika perlu gandeng elemen-elemen masyarakat yang mau, " kata Horas.

Ia menilai Presiden Jokowi sudah pada jalurnya melihat segmentasi generasi muda yaitu generasi milenial yang cenderung mudah terpapar konten-konten negatif melalui gawai sebagai dampak cepatnya perkembangan teknologi.

Ia juga mengingatkan, BPIP jangan hanya membumikan nilai-nilai Pancasila bagi kalangan tertentu melalui seminar atau pendidikan dan pelatihan saja, tapi juga bagi para elite politik dan yang paling perlu sampai ke kalangan masyarakat bawah yaitu akar rumput yang sejatinya perlu dihabituasikan nilai-nilai luhur Pancasila.

"Presiden Jokowi dan BPIP dalam lima tahun ke depan harus terus serius membumikan dan menghabituasikan kembali Pancasila dengan kuat di kehidupan sehari-hari berbangsa serta bernegara," kata Horas. Ant

 

 

BERITA TERKAIT

Tidak Ada Ruang Bagi Rasisme Tumbuh di Indonesia

NERACA Kudus - Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, menegaskan tidak ada ruang bagi rasisme tumbuh dan berkembang di Tanah Air…

Perlu Strategi Perkukuh Identitas Nasional

NERACA Jakarta - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Komaruddin Hidayat mengingatkan saat ini perlu strategi untuk memperkuat dan…

RUU EBT Merupakan Wujud Demokrasi Lingkungan

NERACA Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti mengatakan Rancangan Undang-Undang tentang Energi Baru dan Terbarukan (RUU…

BERITA LAINNYA DI

Tidak Ada Ruang Bagi Rasisme Tumbuh di Indonesia

NERACA Kudus - Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, menegaskan tidak ada ruang bagi rasisme tumbuh dan berkembang di Tanah Air…

Perlu Strategi Perkukuh Identitas Nasional

NERACA Jakarta - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Komaruddin Hidayat mengingatkan saat ini perlu strategi untuk memperkuat dan…

RUU EBT Merupakan Wujud Demokrasi Lingkungan

NERACA Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti mengatakan Rancangan Undang-Undang tentang Energi Baru dan Terbarukan (RUU…