WASPADAI ANCAMAN RESESI EKONOMI - Menkeu: Ketidakpastian Global Kian Cepat Berubah

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan ketidakpastian ekonomi di global saat ini memiliki pola berbeda berbeda ketimbang sebelumnya. Karena ketidakpastian yang terjadi sekarang ini semakin cepat berubah. Bahkan, Presiden Jokowi sebelumnya mengaku sudah menerima peringatan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) tentang ancaman resesi ekonomi.

NERACA

Sri Mulyani mencontohkan, kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Awalnya pasar sempat dibuat senang karena kedua negara memberikan sinyal akan meneken kesepakatan dagang. Tapi, di tengah kegembiraan pasar tersebut secara tiba-tiba Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dagang dengan China baru akan dilakukan setelah pemilihan presiden 2020. "Jadi artinya setiap hari ada harapan lalu kekecewaan. Dua kali. Demikian juga kondisi politik baik itu di Inggris maupun belahan dunia lain," ujarnya di Jakarta,  Rabu malam (5/12).

Diketahui, rencana pengunduran diri Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit) juga masih menjadi perhatian dunia saat ini. Anggota parlemen Inggris sepakat untuk mengadakan pemilihan umum pada 12 Desember 2019 untuk mendukung upaya Perdana Menteri Boris Johnson memecahkan kebuntuan politik yang membuat Brexit tertunda tiga kali. "Jadi faktor ketidakpastian yang tidak ada polanya adalah menjadi penyebab lemahnya kepercayaan dari dunia usaha dan pelaku ekonomi," ujar Menkeu.

Ketidakpastian ekonomi, menurut Sri Mulyani, sebenarnya biasa dihadapi oleh pelaku usaha. Hanya saja, pelaku usaha tak lagi bisa memproyeksi berbagai keputusan dalam bisnisnya di tengah ketidakpastian ekonomi global dengan pola baru seperti ini. "Hari ini yang kami percaya proyeksinya seperti ini, kemudian besok ada suatu kejadian jadi berubah sama sekali," ujarnya.

Situasi ini akhirnya juga membuat ekonomi global semakin lesu. Tidak heran jika Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3% tahun ini, turun dari posisi 2018 yang sebesar 3,6%. "IMF selalu mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi dunia tiga persen itu sebetulnya sudah dekat resesi atau sudah resesi," ujarnya seperti dikutip cnnindonesia.com.

Oleh karena itu, Sri Mulyani menyatakan pemerintah akan memanfaatkan berbagai kebijakan fiskal demi menjaga ekonomi dalam negeri. Pemerintah siap menggelontorkan belanja lebih banyak demi menjaga daya beli masyarakat, sehingga tingkat konsumsi tidak melorot. "Kami di Kementerian Keuangan menggunakan APBN sebagai instrumen fiskal dalam rangka mengatasi ketidakpastian dan pelemahan yang berasal dari luar lingkungan perekonomian Indonesia," ujarnya.

Selain itu, menurut dia, pemerintah juga sedang menyederhanakan 72 undang-undang (UU) terkait investasi menggunakan skema omnibus law. Hal ini diharapkan bisa menarik investasi lebih banyak ke Indonesia. "Kami rapat kabinet terus menurus dari makan pagi lalu makan siang lalu makan malam, bicarakan hal-hal yang menjadi penghalang investasi," ujar Sri Mulyani.

Ancaman Resesi

Terhadap ancaman resesi ekonomi dunia, Presiden Jokowi sebelumnya mengaku sudah menerima peringatan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) atas masalah tersebut.

Dalam peringatannya, dua lembaga tersebut mengatakan ekonomi ke depan, terutama 2020 akan lebih sulit. Pasalnya, ekonomi pada 2020 nanti akan mengarah ke resesi. Dan kondisi sulit tersebut, sedikit demi sedikit mulai terasa. Untuk Indonesia, kondisi sulit sudah bisa dilihat dari kinerja pertumbuhan ekonomi belakangan ini.

Meskipun masih tumbuh, dalam tiga kuartal terakhir ini ekonomi dalam negeri mulai melambat. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2019 sebesar 5,07%. Kemudian menurun menjadi 5,05% pada kuartal II-2019 dan merosot ke 5,02% pada kuartal III. Penurunan tersebut mulai berdampak pada jumlah pengangguran di dalam negeri. Menurut data BPS, jumlah pengangguran mencapai 7,05 juta orang pada Agustus 2019, naik 50 ribu orang dibandingkan Agustus 2018 yang tercatat 7 juta orang.

Presiden Jokowi sendiri tak menyangka winter is coming yang menggambarkan perlambatan ekonomi benar-benar terjadi. Ramalan tersebut disampaikan Jokowi pada pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali, tahun lalu. Kepala Negara saat itu menyatakan bahwa perekonomian dunia akan menghadapi kondisi yang sulit pada tahun ini. Jokowi mengutip sebuah istilah populer dari film serial berjudul Game of Thrones.

Jokowi meminjam istilah 'winter is coming' untuk menggambarkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi dunia yang terjadi pada tahun ini. Bahkan, musim dingin turut menyerang beberapa negara lain hingga menimbulkan resesi ekonomi.

"Tahun lalu, dalam Annual Meeting IMF WB, saya menyampaikan bahwa akan datang musim dingin, 'winter is coming'. Sekarang coming-nya betul-betul ada," ujarnya di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Kamis (28/11).

Bagi Jokowi, makna 'winter is coming' suka tidak suka memang tengah dihadapi oleh perekonomian negara-negara di dunia. Semua bermula dari perang dagang antara AS dan China yang kemudian menekan pertumbuhan ekonomi dunia dan negara-negara lain.

Bahkan, lanjutnya, kondisi ekonomi yang sulit masih bisa terjadi pada tahun depan. Proyeksi ini didapatnya setelah berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. "Kristalina bilang 'Presiden Jokowi, tahun depan, 2020, hati-hati, ekonomi global kemungkinan masih akan turun lagi. Jadi, harus ada strategi spesifik menghadapi tekanan ekonomi global yang menekan semua negara," ujarnya.  

Jokowi mengaku akan berhati-hati. Misalnya pada APBN agar penerimaan yang mungkin tertekan tidak semakin membuat defisit anggaran bengkak. "Saya sampaikan ke Menteri Keuangan (Sri Mulyani) konsentrasi ke fiskal, yang prudent dan hati-hati," ujarnya.  

Kendati begitu, Jokowi meminta masyarakat tidak khawatir bila ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global terus menggempur ekonomi nasional. Toh, walau mendapat tekanan, Indonesia tetap berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di dunia.

Namun ekonom Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengatakan sejatinya ancaman resesi masih cukup jauh bagi Indonesia. Proyeksinya, ekonomi dalam negeri masih bisa melaju di kisaran 4,9-5,1% pada tahun ini dan tahun depan. Proyeksi ini berdasarkan komponen pendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri saat ini yang mayoritas masih ditopang konsumsi domestik.

Selain itu, sejumlah data ekonomi dalam negeri juga masih menunjukkan Indonesia jauh dari ancaman resesi ekonomi. Dari inflasi, data BPS Inflasi secara tahun berjalan masih terkendali di level 2,37% dan secara tahunan (yoy) mencapai 3% pada November 2019. Kurs rupiah, masih terjaga stabil walau di level Rp14 ribu-an.  

Faisal menilai Jokowi saat ini belum punya cukup bantalan cukup untuk membentengi ekonomi dalam negeri dari ancaman resesi. Menurut dia, ketika ancaman resesi muncul, harusnya Jokowi melakukan sinkronisasi bauran berbagai kebijakan, baik fiskal yang dikelola pemerintah, moneter yang dilakukan BI, maupun sektor riil bersama para pengusaha. bari/mohar/fba

 

BERITA TERKAIT

KALANGAN AKADEMISI DAN PENELITI SEPAKAT - RUU Ciptaker Berdampak Positif bagi Ekonomi RI

Jakarta-Kalangan akademisi dan peneliti sepakat, penyederhanaan perizinan dalam Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) kelak berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.…

EKSISTENSI PASAR MODAL 43 TAHUN - OJK Soroti Jumlah Emiten dan Nilai Emisi Masih Minim

NERACA Jakarta – Di saat awal pandemi Covid-19, kinerja industri pasar modal sempat terkoreksi lebih dalam dan bahkan naik turun…

PRESIDEN JOKOWI MENEGASKAN: - Krisis Covid-19 Momentum Reformasi Struktural

Jakarta-Presiden Jokowi menegaskan, situasi krisis Covid-19 ini menjadi momentum untuk reformasi struktural. Melakukan transformasi, meninggalkan cara-cara lama, serta membangkitkan kekuatan…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

KALANGAN AKADEMISI DAN PENELITI SEPAKAT - RUU Ciptaker Berdampak Positif bagi Ekonomi RI

Jakarta-Kalangan akademisi dan peneliti sepakat, penyederhanaan perizinan dalam Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) kelak berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.…

EKSISTENSI PASAR MODAL 43 TAHUN - OJK Soroti Jumlah Emiten dan Nilai Emisi Masih Minim

NERACA Jakarta – Di saat awal pandemi Covid-19, kinerja industri pasar modal sempat terkoreksi lebih dalam dan bahkan naik turun…

PRESIDEN JOKOWI MENEGASKAN: - Krisis Covid-19 Momentum Reformasi Struktural

Jakarta-Presiden Jokowi menegaskan, situasi krisis Covid-19 ini menjadi momentum untuk reformasi struktural. Melakukan transformasi, meninggalkan cara-cara lama, serta membangkitkan kekuatan…