Penyederhaan Perijinan - Bappebti Percepat Implementasi Resi Gudang

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pelaku usaha melakukan berbagai langkah strategis untuk mempercepat implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai suatu instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tjahya Widayanti dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, pihaknya mendorong implementasi SRG. Terlebnih Kementerian Perdagangan telah menyederhanakan prosedur perizinan kelembagaan di bidang SRG, dimana penyederhanaan tersebut antara lain dalam perizinan gudang, pengelola gudang, Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) dalam SRG, dan Pusat Registrasi.

Berdasarkan data Bappebti, pada 2009—2018, pemerintah telah membangun 123 gudang SRG secara bertahap yang tersebar di 106 kabupaten/kota pada 25 provinsi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 94 gudang telah mendapatkan persetujuan Bappebti sebagai gudang SRG dan sisanya masih menunggu kesiapan sarana dan kelembagaan. Selain itu, terdapat 72 gudang milik swasta/BUMN yang telah disetujui Bappebti sebagai gudang SRG. Gudang-gudang tersebut tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Bappebti juga telah memberikan persetujuan kepada 61 pengelola gudang SRG (PT, BUMN, BUMD, dan koperasi), 52 LPK SRG (LPK Inspeksi Gudang, LPK Manajemen Mutu dan LPK Uji Mutu Komoditi), dan 1 pusat registrasi, yaitu PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero). Sejak 2008—November 2019, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan 3.341 resi gudang dengan total volume komoditi sebesar 110.226,71 ton (84.272,59 ton gabah, 11.849,19 ton beras, 7.599,89 ton jagung, 1.312,57 ton kopi, 4.299 ton rumput laut, 3,14 ton kakao, 31,16 rotan, 701,73 ton garam dan 157,43 ton lada) dan total nilai komoditi mencapai Rp718,19 miliar. 

Menurut Tjahya, pemanfaatan SRG dari tahun ke tahun menunjukkan pertumbuhan yang fluktuatif. Nilai transaksi resi gudang tertinggi terjadi tahun 2014. Saat itu, diterbitkan 605 resi gudang dengan volume 21.649,27 ton komoditi senilai Rp116,51 miliar.  “Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa para pelaku usaha semakin berminat memanfaatkan SRG sebagai instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan,”kata  Tjahya.

Pembiayaan resi gudang juga telah dilakukan oleh beberapa lembaga keuangan dan perbankan seperti BRI dan Bank Pembangunan Daerah maupun Lembaga Keuangan Non-Bank, yaitu PKBL PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 

Pada 2008—November 2019, nilai kumulatif pembiayaan yang telah dicapai sebesar Rp414,21 miliar. Sedangkan, pada 2019, terdapat sebanyak 246 resi gudang yang diagunkan dengan nilai pembiayaan sebesar Rp54,44 miliar.

BERITA TERKAIT

Agustusan di Lazada, Banjir Promo Ratusan Brand Ternama

Setelah sukses menggelar Lazada Mid Year Super Sale di bulan Juli silam, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Lazada kembali hadirkan…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Agustusan di Lazada, Banjir Promo Ratusan Brand Ternama

Setelah sukses menggelar Lazada Mid Year Super Sale di bulan Juli silam, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Lazada kembali hadirkan…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…