Antisipasi Ekspor Turun

Di tengah kondisi Amerika Serikat yang terancam resesi ekonomi. Kabarnya, pertumbuhan ekonomi yang melambat jadi indikasi situasi buruk tersebut bakal terjadi. Menurut National Association of Business Economics, perlambatan ekonomi di AS bakal berlangsung dalam dua tahun, yang dimulai 2019 dengan pertumbuhan ekonomi 2,4%. Kemudian, menurun pada 2020 menjadi 2%. Gejala resesi ekonomi di AS juga ditandai dengan adanya inversi yield obligasi.

Menurut berita CNBC, yield obligasi tenor tiga bulan di AS lebih tinggi ketimbang yield obligasi tenor 10 tahun. Jika  Amerika Serikat mengalami resesi ekonomi, dampak buruknya bisa terasa ke mana-mana, termasuk Indonesia.

Hal ini dapat memicu IHSG terkoreksi lagi seperti yang terjadi 2008, yang membuat ekonomi Indonesia terkena dampak negatifnya. Sudah beberapa kali AS diterpa badai resesi. Menurut data Investopedia, sekitar 33 resesi yang pernah terjadi di AS sejak 1854. Secara umum resesi didefinisikan sebagai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang negatif selama dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun.

Mengacu pada data historis, maka diprediksikan AS akan mengalami resesi di tahun 2020. Penyebab utamanya adalah kebijakan pemotongan pajak bagi korporasi yang diambil oleh Presiden Donald Trump dan kenaikan suku bunga The Fed. Sumber pendapatan utama bagi pemerintah AS berasal dari pajak. Dalam rangka memenuhi janji kampanyenya, Presiden Donald Trump membuat kebijakan pemotongan pajak bagi korporasi hingga 50% yang menyebabkan laba bersih perusahaan dan pertumbuhan ekonomi meningkat.

Namun sisi negatifnya adalah sumber penghasilan negara berkurang sehingga harus ditutup dengan menerbitkan obligasi (meminjam uang) dalam jumlah yang semakin besar. Kondisi ini terjadi pada saat bersamaan dengan kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang dengan China. Akibatnya investor menjadi lebih berhati-hati, dan cenderung memilih obligasi jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Serta meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

Hal inilah yang menyebabkan selisih yield 10 tahun dan 2 tahun mendekati nol atau bahkan berpotensi negatif. Kondisi ini bisa saja membuat kebijakan bank sentral AS pada 2019 berubah. Jika suku bunga tetap naik secara agresif, maka terjadinya resesi akan semakin cepat. Untuk itu, suku bunga AS pada tahun mendatang bisa naik kurang dari 3 kali dan sangat mungkin akan turun pada akhir tahun.

Resesi di AS dapat berdampak terhadap stabilitas makro dalam negeri. Seperti pergerakan rupiah secara umum dipengaruhi dua faktor yaitu faktor fundamental dan faktor sentimen. Bagi Indonesia, hal ini menjadi berita positif karena tekanan bagi Bank Indonesia akan semakin berkurang untuk menaikkan BI Rate. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2018. Nilai tukar yang kuat atau paling tidak stabil di kisaran Rp14.000 – Rp15.000 akan berdampak positif terhadap kinerja saham, obligasi dan reksa dana.

Stabilitas makro Indonesia juga dapat terdampak oleh panasnya suhu gencatan dagang AS dan China. Diprediksi, pertumbuhan ekonomi di China dan AS turun. Padahal, Tiongkok, Jepang dan AS adalah tiga negara terbesar ekspor Indonesia. Risiko turunnya pertumbuhan ekspor Indonesia ini tentu perlu dimitigasi.

Salah satu langkah mitigasi yang penting untuk ditempuh adalah memperluas kekuatan ekspor ke pasar negara-negara lain lewat perjanjian dagang yang saling menguntungkan. Strategi ini membuat Indonesia memiliki banyak opsi untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor jika terjadi guncangan ekonomi di salah satu negara yang dituju. 

BERITA TERKAIT

Standar Protokol Kesehatan

Di tengah masa pemberlakuan PSBB Transisi, semua peraturan protokol kesehatan sejatinya wajib mengacu pada surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan…

Transportasi Publik di Era Baru

Sebelum pandemi virus Covid-19 benar-benar hilang dari Indonesia, pemerintah sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka kembali kegiatan sosial ekonomi. Hal ini…

Presiden Kecewa Kinerja Menteri

Syahdan, Presiden Jokowi merasa kecewa dan marah besar kepada para pembantunya. Dia gemas bukan kepalang karena kinerja penanganan pandemi Covid-19…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Standar Protokol Kesehatan

Di tengah masa pemberlakuan PSBB Transisi, semua peraturan protokol kesehatan sejatinya wajib mengacu pada surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan…

Transportasi Publik di Era Baru

Sebelum pandemi virus Covid-19 benar-benar hilang dari Indonesia, pemerintah sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka kembali kegiatan sosial ekonomi. Hal ini…

Presiden Kecewa Kinerja Menteri

Syahdan, Presiden Jokowi merasa kecewa dan marah besar kepada para pembantunya. Dia gemas bukan kepalang karena kinerja penanganan pandemi Covid-19…