Mengajari Pancasila dari PAUD Hingga Perguruan Tinggi

 

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendorong pengajaran kembali Pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib, mulai jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. "Bersama dengan lembaga lain mendorong agar Pendidikan Pancasila menjadi wajib lagi, baik di PAUD sampai perguruan tinggi," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPIP Prof Hariyono, di Jakarta, Senin.

Hal tersebut disampaikannya saat Pembekalan Materi Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila Bagi Penceramah, Pengajar, dan Pemerhati, di Hotel Borobudur, Jakarta. Saat ini, menurut dia, memang sudah ada Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), tetapi berdampak menjadikan aspek Pancasila tak lagi dominan. "Kan dari buku-buku teks yang ada sekarang teori kebangsaan barat yang dominan, bukan dari timur. Padahal, negara barat kan konteks kebangsaan beda sama kita," katanya.

Untuk pembelajaran Pancasila, kata dia, bisa disesuaikan jenjang pendidikannya, misalnya di PAUD bukan sebagai kognitif, melainkan lebih kepada nilai-nilainya. "Kita ajari sejak awal bahwa ada teman-teman yang berbeda warna kulit, beda etnis, ya. Nah itu kan pancasilais. Jangan ditafsirkan kalau mau beri pelajaran Pancasila ke anak PAUD itu seperti ajarkan ke tentara," katanya.

Namun, kata Hariyono, bagaimana mengajarkan Pancasila lewat berbagai permainan di PAUD, dengan mengutamakan nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan sebagainya, kemudian diajarkan lewat pendidikan karakter. "Sejak kecil, misalnya diajarkan kepada perbedaan dan keragaman sehingga nanti saat benar-benar ketemu dengan keragaman, perbedaan dia sudah bisa memahami bisa respek dengan orang lain," katanya.

Jika sejak kecil anak-anak sudah diajak mengenali perbedaan, kata Hariyono, ketika dewasa tidak akan mudah curiga dengan orang-orang yang berbeda dengan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Disamping itu, BPIP juga akan mengumpulkan para akademisi, penceramah, pengajar, dan pemerhati dari seluruh perguruan tinggi untuk menyamakan persepsi tentang pembelajaran Pancasila. "Kami ingin bersinergi dengan mereka, di antara mereka sebagian besar sudah baik-baik. kita ingin lakukan sebuah dialog bersama, supaya ada persepsi yang sama," katanya.

Hariyono menjelaskan bahwa pembelajaran Pancasila tidak harus melulu konvensional, tetapi bisa diajarkan sesuai dengan sasarannya, misalnya anak-anak muda sebagai tanggung jawab demi kelangsungan bangsa. "Ancaman kita yang lebih parah bukan ancaman fisik, tetapi nonfisik, seperti ideologi, sekarang gerakan intoleran, radikalisme, itu ancaman riil. Gimana negara bisa maju kalau antarelemen bangsa saling curiga, bahkan saling perang?" tegasnya.

Maka bersatu menjadi penting, kata dia, tetapi bersatu tidak cukup menjadikan bangsa besar kalau tidak membuat bangsa menjadi maju sehingga perlu penguasaan iptek. "Itu kan sering kali di pelajaran Pancasila enggak dibahas, sehingga teman-teman yang punya prestasi di bidang iptek tidak kita anggap Pancasilais. Padahal, itu kan membanggakan," katanya.

BERITA TERKAIT

Acer Berbagi Pengalaman dan Tips Dunia Pendidikan Menghadapi New Normal

NERACA   Jakarta - Di masa physical distancing seperti sekarang, dunia pendidikan Indonesia diharuskan beradaptasi dengan berbagai tantangan baru. Seluruh…

Gandeng Musisi, MAC Uiniversitas Indonesia Hadirkan TSR Vol 3

    Tadarus Seni Ramadhan (TSR) Vol.3/3 yg akan digelar pada Kamis 14 Mei 2020 jam 20.30 Live di Youtube…

Kelompok Tani Hutan Sosial Apresiasi E-learning KLHK

Kelompok Tani Hutan Sosial Apresiasi E-learning KLHK  NERACA Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), selama empat hari sejak…

BERITA LAINNYA DI

Acer Berbagi Pengalaman dan Tips Dunia Pendidikan Menghadapi New Normal

NERACA   Jakarta - Di masa physical distancing seperti sekarang, dunia pendidikan Indonesia diharuskan beradaptasi dengan berbagai tantangan baru. Seluruh…

Gandeng Musisi, MAC Uiniversitas Indonesia Hadirkan TSR Vol 3

    Tadarus Seni Ramadhan (TSR) Vol.3/3 yg akan digelar pada Kamis 14 Mei 2020 jam 20.30 Live di Youtube…

Kelompok Tani Hutan Sosial Apresiasi E-learning KLHK

Kelompok Tani Hutan Sosial Apresiasi E-learning KLHK  NERACA Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), selama empat hari sejak…