Masuk Jalur Distribusi Ritel Modern, Bulog Harus Jaga Kualitas Beras

NERACA

Jakarta – Rencana Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk mendistribusikan beras serapannya melalui jalur ritel modern merupakan sebuah inovasi yang baik. Melalui jalur distribusi ini, Bulog berkesempatan untuk memperluas pasarnya dan menjangkau konsumen yang lebih beragam. Namun Bulog harus menjaga kualitas berasnya agar mampu bersaing dengan beragam produk beras dari perusahaan swasta.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, rencana ini diwacanakan untuk mengatasi masalah menumpuknya beras di gudang Bulog. Menumpuknya pasokan beras Bulog salah satunya disebabkan oleh beralihnya sistem bantuan pangan dari Rastra ke Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Akibatnya, tugas Bulog dalam penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini hanya terbatas melalui BPNT, operasi pasar dan bantuan kemanusiaan.

”Inovasi Bulog untuk menyalurkan beras lewat pasar ritel merupakan langkah yang tepat. Selama ini, Bulog hanya melakukan operasi pasar dengan target yang mayoritas adalah pasar tradisional. Dengan bekerjasama dengan pasar ritel, beras yang menumpuk dapat dialokasikan untuk operasi pasar demi menghindari turunnya kualitasnya beras karena disimpan terlalu lama. Berdasarkan data dari Bulog, realisasi operasi pasar yang dilakukan Bulog sepanjang tahun 2019 masih berada di level 437.170 ton dan masih jauh di bawah target 1,48 juta ton,” jelas Galuh, dalam siaran resmi.

Galuh menambahkan, ritel yang menjadi pasar baru distribusi beras Bulog memiliki target konsumen yang merata mulai dari kelas bawah, menengah dan atas. Ini dapat memberikan keuntungan bagi Bulog, jika BUMN pimpinan Budi Waseso ini dapat menyalurkan beras dengan kualitas yang baik. Apalagi, konsumen pasar ritel modern biasanya mempertimbangkan kualitas beras sebagai faktor utama dalam pembelian beras. Karena bentuknya operasi pasar, maka harga beras CBP yang diberikan ini tentu harus masih di bawah  HET yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57/2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras. Maka dari itu, tantangannya, Bulog harus mampu menyalurkan beras di bawah HET namun dengan kualitas yang tetap terjamin.

Saat ini diketahui bahwa pasokan beras Bulog yang harus dialokasikan untuk ritel masih mengalami proses penghitungan. Ini harus dilakukan dengan tepat agar kesinambungan kerja sama antara Bulog dan pasar ritel modern dapat terus terjalin, tidak hanya karena perlu menyalurkan stok beras Bulog di tahun ini.  Selain itu, walaupun target konsumen ritel merata, terlihat bahwa segmen pasar ini tidak didominasi oleh konsumen beras medium, yang selama ini menjadi beras serapan Bulog.

“Untuk itu, tantangannya juga adalah bagaimana Bulog dapat masuk ke pasar ritel dan menarik minat semua segmen konsumen dengan pasokan berasnya.  Jangkauan pasar ritel yang luas harus mampu dimanfaatkan Bulog agar tidak hanya terpaku pada penyaluran beras lewat skema BPNT dan pasar tradisional,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menilai bahwa produk beras medium Bulog memiliki kualitas premium. "Beras medium Bulog juga layak sebenarnya untuk dikonsumsi oleh konsumen di kelas menengah ke atas yang selama ini berbelanja beras di ritel modern. Selama ini, hanya beras premium yang dijual di ritel modern," ujar Roy Nicholas Mandey di sela Musyawarah Nasional Aprindo di Jakarta, disalin dari Antara.

Ia menambahkan, sebagai peritel modern akan selalu mendukung program pemerintah untuk membantu meningkatkan konsumsi, salah satunya untuk menyerap beras Bulog. "Aprindo mewadahi ini, nanti 'bussines to bussines' antar perusahaan-perusahaan anggota Aprindo seperti supermarket, minimarket, Hypermarket, berbicara langsung dengan Bulog untuk teknisnya," katanya.

Ia memaparkan berdasarkan catatan Aprindo terdapat sekitar 45.000 ritel modern. Dari jumlah itu, sekitar 95 persennya siap untuk menjual beras Bulog. "Tidak semua ritel modern menyerap beras karena lima persen ritel modern merupakan 'department store'," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan masuknya beras medium Bulog ke ritel modern akan mendukung upaya penyediaan beras dan komoditi pangan pokok bagi konsumen dengan harga sesuai ketentuan Pemerintah.

"Hal ini sangat penting untuk mendukung upaya pemerintah dalam meredam gejolak harga pangan yang tercermin dari stabilnya tingkat inflasi nasional khususnya inflasi bahan pangan," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Pupuk Indonesia Telah Salurkan 4,7 Juta Ton Pupuk Bersubsidi

NERACA Jakarta - PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menyalurkan sebanyak 4.706.253 ton pupuk bersubsidi kepada petani sampai dengan 28 Juni…

Pasar Ekspor Produk Kaca Indonesia Semakin Terbuka

NERACA Jakarta - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan, Indonesia kini terbebas dari pengenaan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) oleh Filipina…

KUD Mintorogo Dapat Sentuhan Relaksasi Pembiayaan LPDB KUMKM

Demak – berbagai cara terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mendorong sektor pertanian diantaranya Kementerian Koperasi dan UKM melalui pembiayaan untuk…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Hadapi Krisis Pangan, Koperasi Pangan Diperkuat

NERACA Demak - Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) mengingatkan bahwa dunia akan menghadapi krisis pangan.…

Pemerintah Optimis Mendongkrak Produksi Jagung

NERACA Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Tanaman Pangan menargetkan penanaman jagung tahun 2020 seluas…

Pemerintah Memacu Ekspor Produk Pangan Olahan

Jakarta - Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menggenjot salah satu komoditas ekspor utama,…