Disertasi Doktor: Kasus Pidana di Indonesia Tak Lepas Dari Peran Korporasi

Disertasi Doktor: Kasus Pidana di Indonesia Tak Lepas Dari Peran Korporasi

NERACA

Yogyakarta - Praktisi hukum Ari Yusuf Amir berhasil meraih gelar Doktor (S3) dalam bidang ilmu hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) dengan hasil predikat kelulusan sangat memuaskan. Gelar tersebut diperolehnya setelah menjalani sidang terbuka promosi doktor yang berlangsung di Auditorium UII, Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Jumat (8/11).

Sidang terbuka dipimpin Rektor UII, sedangkan selaku promotor dalam sidang terbuka itu adalah Prof Dr Edward Omar Sharif Hiariej dengan Co-Promoter Dr Siti Anisah. Anggota penguji diantaranya, Prof Nindyo Pramono, Prof Nyoman Serikat Putra Jaya dan Dr Artidjo Alkostar, mantan Hakim Agung.

Dalam sidang terbuka tersebut, pengacara senior yang juga pendiri Law Firm Ail Amir & Associates ini berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Sistem Pertanggungjawaban dan Penerapan Sanksi Pidana Terhadap Pemegang Saham Korporasi Sebagai Subjek Hukum Pidana.“Dari hasil penelitian disertasi saya ini, saya melihat begitu pentingnya pemegang saham itu diberikan juga tanggungjawab pidana,” kata Ari kepada para wartawan, usai menjalani sidang terbuka.

Dalam disertasinya, Ari mengulas bahwa banyak kasus pidana di Indonesia yang seringkali tidak lepas dari peran korporasi. Kejahatan yang dilakukan korporasi ini menimbulkan sejumlah kerugian, seperti kerusakan lingkungan dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Juga kejahatan ekonomi, dan kejahatan perbankan, seperti pencucian uang (money laundering), memainkan harga barang secara tidak sah (price fixing), penipuan iklan (false advertising), kejahatan dibidang teknologi, korupsi dan sebagainya.

Menurut Ari, modus kejahatan korporasi biasanya dilakukan secara terselubung, terorganisasi, dan berdasarkan suatu keahlian tertentu yang dimiliki seseorang. Karena itu, sulit untuk menentukan siapa korban, siapa pelaku kejahatan, dan bagaimana membuktikan hubungan kausalitas secara langsung antara perbuatan dengan timbulnya korban.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UU PT), membatasi pertanggungjawaban pemegang saham yang diatur dalam Pasal 3 ayat (1) yaitu pemegang saham perseroan tidak bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggungjawab atas kerugian perseroan melebihi saham yang dimiliki. Pemegang saham hanya bertanggungjawab terbatas pada nilai nominal saham yang dimiliki. Pemahaman ini pada dasarnya mengacu pada pengertian perseroan terbatas yang terdiri dari kata ‘perseroan’ dan kata ‘terbatas’. ‘Perseroan’ maknanya adalah (sero-sero atau saham) ‘modal perusahaan terbagi atas sero-sero atau saham’. Sementara itu, kata ‘terbatas’ bermakna terbatasnya tanggung jawab para pemegang saham,” Ari menerangkan.

Diungkapkan Ari, sistem pertanggungjawaban pidana korporasi dalam hukum positif Indonesia selama ini masih menganut doktrin societas delinquere non potest. Artinya korporasi tidak dapat melakukan tindak pidana. Selain itu hukum pidana nasional masih menerapkan asas tiada pidana tanpa kesalahan dan asas legalitas.

Namun, lanjut Ari, dalam pustaka hukum pidana modern, pelaku tindak pidana tidak selalu perlu melakukan kejahatan secara fisik sebagaimana pelaku tindak pidana konvensional.”Saya berharap hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk lahirnya UU terkait korporasi yang mengatur pertanggungjawaban pidana pemegang saham," pungkas Ari. Mohar/Rin

 

BERITA TERKAIT

KPK dan Timnas PK Komitmen Tingkatkan Capaian Aksi Pencegahan Korupsi

NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Tim Nasional Pencegahan Korupsi (Timnas PK) berkomitmen terus mendorong peningkatan capaian aksi…

Kabupaten Pidie Paling Siap dalam Penanggulangan Perubahan Iklim

NERACA Jakarta - Kabupaten Pidie, Aceh merupakan wilayah yang dinilai banyak kalangan paling siap dalam menghadapi perubahan iklim, baik dari…

Kemenkes: Susu Kental Manis di Paket Bansos Tidak untuk Bayi

NERACA Jakarta - Produk-produk instan seperti mie instan, sarden dan susu kental manis (SKM) sangat lumrah ditemukan dalam paket bantuan…

BERITA LAINNYA DI Hukum Bisnis

KPK dan Timnas PK Komitmen Tingkatkan Capaian Aksi Pencegahan Korupsi

NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Tim Nasional Pencegahan Korupsi (Timnas PK) berkomitmen terus mendorong peningkatan capaian aksi…

Kabupaten Pidie Paling Siap dalam Penanggulangan Perubahan Iklim

NERACA Jakarta - Kabupaten Pidie, Aceh merupakan wilayah yang dinilai banyak kalangan paling siap dalam menghadapi perubahan iklim, baik dari…

Kemenkes: Susu Kental Manis di Paket Bansos Tidak untuk Bayi

NERACA Jakarta - Produk-produk instan seperti mie instan, sarden dan susu kental manis (SKM) sangat lumrah ditemukan dalam paket bantuan…