Sentimen Negatif Global Tekan Laju IHSG

NERACA

Jakarta –Mengakhiri perdagangan Kamis (7/11), indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis ditutup melemah seiring tertundanya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. IHSG ditutup melemah 51,92 poin atau 0,84% ke posisi 6.165,62. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 9,64 poin atau 0,98% menjadi 978,36.

Direktur Utama Foster Asset Management, Andreas Yasakasih mengatakan bahwa pelemahan indeks dipengaruhi sentimen eksternal, terutama mengenai ditundanya kesepakatan perdagangan antara AS dan China.”Harapan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk menandatangani kesepakatan perdagangan memudar, ditunda hingga Desember," katanya di Jakarta, kemarin.

Situasi itu, lanjut dia, membuat sejumlah investor, terutama asing, melakukan aksi lepas saham seraya menanti kabar lanjutan kedua belah pihak. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan jual bersih atau foreign net sell sebesar Rp1,21 triliun. Di sisi lain, lanjut dia, investor juga sedang melakukan penyesuaian portofolio aset sahamnya menyusul adanya perombakan portofolio saham dalam Indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) Indonesia."Ada adjustment yang dilakukan investor menyusul adanya perubahan saham dalam indeks MSCI," katanya.

Sementara itu, tercatat frekuensi perdagangan saham di BEI sebanyak 606.494 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 10,47 miliar lembar saham senilai Rp8,31 triliun. Sebanyak 111 saham naik, 308 saham menurun, dan 144 saham tidak bergerak nilainya. Sementara itu, bursa regional antara lain Indeks Nikkei ditutup menguat 26,50 poin (0,11%) ke 23.330,30, Indeks Hang Seng menguat 158,60 poin (0,57%) ke 27.847,19, dan Indeks Straits Times menguat 23,03 poin (0,71%) ke posisi 3.285,72.

Asal tahu saja, pada pembukaan perdagangan Kamis, IHSG dibuka menguat 17,05 poin atau 0,27% menjadi 6.234,60. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 4,08 poin atau 0,41% menjadi 992,10. Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah mengatakan bahwa revisi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan IHSG cenderung bervariasi.”Investor akan lebih 'risk averse' terhadap proyeksi pelambatan yang tidak lagi sekadar prediksi,"tuturnya.

Dia mengemukakan, pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 sebesar 5,05-5,06% menyusul rilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada triwulan ketiga yang lebih kecil dari proyeksi, yakni hanya meningkat 5,02% atau lebih lamban dibandingkan 5,17% pada periode sama tahun lalu.”Meskipun demikian, pertumbuhan PDB Indonesia ini masih lebih baik dibanding negara lain yang mengalami pelambatan yang curam seperti Singapura dan Korea Selatan," katanya. (ant/bani)

 

 

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…