Agar Bank Kuat Menghadapi Persaingan

 

 

NERACA

 

Jakarta – Perlambatan ekonomi turut memberikan dampak yang signifikan terhadap terhadap sektor keuangan. Maka salah satu cara yang bisa membuat industri keuangan bisa menghadapi tantangan tersebut adalah dengan konsolidasi. Hal itu seperti disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana. "Saya ingin kata-kata konsolidasi jangan sampai menakutkan, yang paling penting adalah apakah pengusaha masih bisa menghadapi tantangan atau dinamika global maupun internal yang terus bergerak dinamis saat ini," ujarnya, seperti dikutip Antara, kemarin.

Dengan konsolidasi, lanjut dia, perbankan akan menjadi lebih kuat di tengah berkembangnya bisnis di finansial teknologi (fintek) di dalam negeri. "Ada peer to peer lending, shadow banking, dan segala macam. Apakah owner mampu? Kata kuncinya modal. Kita tidak mau sampai mengganggu industri," ucapnya.

Maka itu, ia mengatakan, bank-bank yang memang tidak tahan terhadap persaingan diimbau untuk melakukan konsolidasi dengan perbankan yang lebih besar sehingga tetap mampu menjalankan aktivitas. "Kalau tidak mampu, silakan cari partner supaya keberadaannya tetap bisa terjaga tetapi dengan kemampuan permodalannya yang lebih kuat. Jadi, bank besar ambil alih bank kecil kalau ada masalah, itu kan bagus, bank yang merasa tidak mampu atau kekurangan modal akan dipayungi oleh bank besar. Artinya, bank kecil tetap hidup tapi dalam lingkup payung bank besar," paparnya.

Ia mengemukakan konsolidasi bank, khususnya untuk Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 1 dan 2. Jumlah bank BUKU 1, bank dengan modal inti di bawah Rp1 triliun, berdasarkan data OJK per Juni 2019 sebanyak 21 bank, memiliki modal inti Rp10,78 miliar dan total aset Rp91,15 miliar atau 1,0 persen dari total bank umum sebanyak 112 bank. Sedangkan jumlah bank BUKU 2, bank dengan modal inti Rp1 triliun-Rp5 triliun, sebanyak 59 bank, yang memiliki modal inti Rp160,08 miliar dan total aset Rp1,07 triliun atau 13 persen.

Adapun bank BUKU 3, bank dengan modal inti Rp5 trilun-Rp30 trilun, ada 26 bank. Bank ketegori ini memiliki memiliki modal inti Rp414,46 miliar dan total aset Rp2,69 triliun atau 33 persen. Sementara bank BUKU 4, bank dengan modal inti Rp30 triliun, ada enam bank memiliki modal inti Rp656,9 miliar dan total aset Rp4,38 triliun atau 53 persen.

Disamping itu, Heru juga mengingatkan perbankan untuk mengantisipasi kualitas kredit agar tidak berdampak negatif terhadap industri. Ia mengatakan bahwa kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan masih cukup terjaga tetapi kualitas kredit cenderung memburuk. "Kami mencatat dan perlu antisipasi sejak dini. Kami melihat NPL gross perbankan 2,6 persen dan NPL net 1,1 persen, itu bagus," katanya.

Akan tetapi, dia mengingatkan jangan lupa bahwa kredit kualitas rendah sudah mencapai 11—12 persen. Artinya, pihaknya sudah harus antisipasi terhadap kualitas kredit. "Kami harapkan bank-bank mempunyai perhatian lebih terhadap kredit kualitas rendah," ujarnya. Ia mengatakan bahwa dalam rangka menjaga kualitas kredit pihaknya akan mengarahkan perbankan untuk berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya. "Harus dilihat sektor-sektor yang perlu didorong untuk terus tumbuh, dan bank mana yang memiliki kapasitas. Artinya, tidak juga semua sektor harus tumbuh, malah nanti bermasalah," ucapnya.

Ia berharap pertumbuhan kredit perbankan sampai dengan akhir tahun ini dapat mencapai 10 persen. Berdasarkan survei perbankan yang dilaporkan Bank Indonesia (BI) pada Kuartal III 2019, terlihat pesimisme bankir yang memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2019 hanya akan sebesar 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau jauh lebih lambat dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit 2018 yang sebesar 12,1 persen.

Survei triwulanan itu menggunakan sampel secara purposif terhadap 40 bank umum yang menguasai pangsa pasar kredit sekitar 80 persen dari total kredit. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit oleh perbankan hingga Agustus 2019 memang masih di satu digit, yakni 8,59 persen (yoy).

 

BERITA TERKAIT

Apliaski IPOT Kini Dilengkapi Layanan Investasi Reksadana

  NERACA Jakarta - Investasi reksa dana kini semakin mudah dilakukan dengan smartphone di genggaman tangan setelah platform transaksi investasi…

Luncurkan Produk UnitLink, Zurich Kenalkan Smart Care

    NERACA   Jakarta - Pandemi yang merebak di awal tahun 2020 telah mengubah kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Hingga…

Banggar Nilai Revisi UU BI Diwaktu Yang Tidak Tepat

     NERACA   Jakarta - Badan Legislasi (Baleg) DPR mengebut proses revisi Undang Undang (UU) No 23 tahun 1999…

BERITA LAINNYA DI Jasa Keuangan

Apliaski IPOT Kini Dilengkapi Layanan Investasi Reksadana

  NERACA Jakarta - Investasi reksa dana kini semakin mudah dilakukan dengan smartphone di genggaman tangan setelah platform transaksi investasi…

Luncurkan Produk UnitLink, Zurich Kenalkan Smart Care

    NERACA   Jakarta - Pandemi yang merebak di awal tahun 2020 telah mengubah kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Hingga…

Banggar Nilai Revisi UU BI Diwaktu Yang Tidak Tepat

     NERACA   Jakarta - Badan Legislasi (Baleg) DPR mengebut proses revisi Undang Undang (UU) No 23 tahun 1999…