Budaya Dialog Dianggap Jadi Bagian Penting dari Demokrasi

Budaya Dialog Dianggap Jadi Bagian Penting dari Demokrasi  

NERACA

Jakarta - Mantan anggota parlemen Denmark, Ozlem Sara Cekic, menyebut budaya berdialog dan percakapan antar- manusia menjadi salah satu aspek penting dari demokrasi, namun kerap sulit untuk dilakukan.

Dia mengatakan, dalam acara diskusi bertajuk "Secangkir Kopi, Secercah Toleransi untuk Empati" di Jakarta, Rabu (16/10), bahwa saat ini, banyak orang yang berpegang keras terhadap opini yang dipercayai dan tak memberi ruang untuk mempertimbangkan pandangan yang dianggap berseberangan, sehingga tak banyak dialog yang terjadi antara opini-opini yang berbeda.

“Kita hanya bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran serupa dan tidak menghargai pemikiran orang lain. Kita tidak berusaha untuk berbicara dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda. Itu dapat merusak demokrasi yang sehat,” kata Ozlem.

Percakapan yang dilakukan oleh orang-orang dengan pandangan yang berseberangan, menurutnya, bukan bertujuan untuk mengubah pandangan siapapun, namun untuk menerima keberagaman.

Dalam semangat toleransi dan empati, Ozlem meyakini masyarakat harus menjaga keterbukaan pikiran akan pandangan-pandangan yang mungkin berbeda, bahkan berseberangan, dengan yang dimiliki.

Dia pun menganggap keterbukaan dan penerimaan itu dapat mencegah penyebaran kebencian dan tindak kekerasan.“Kita harus berbicara dengan sebanyak mungkin orang, namun kita juga harus memastikan pikiran kita juga terbuka. Kebencian dan kekerasan hanya dapat dicegah melalui debat, percakapan yang kritis dan mendorong dialog yang tidak menjelekkan (demonize)orang lain,” papar dia.

Ozlem telah menginisiasi gerakan #DialogueCoffee yang dia mulai beberapa tahun silam, sejak dia kerap mendapat surat-surat penuh ujaran kebencian, bahkan ancaman terhadap dia dan keluarganya, saat mulai menjabat sebagai anggota parlemen pada tahun 2007.

Pada tahun 2010, saat masih menjabat di parlemen, dia mulai mengajak para pengirim surat-surat tersebut untuk bertemu dan bercakap-cakap sembari menikmati segelas kopi dan hingga hari ini, Ozlem telah bertemu dengan kurang lebih 300 orang.

Dari pengalamannya itu, Ozlem mengatakan dia belajar untuk tidak menilai seseorang hanya dari pandangan politik atau idealisme-idealisme yang dipegang, baik yang sejalan ataupun yang bertentangan dari apa yang dia percayai. 

Kemudian selama beberapa tahun terakhir, Ozlem telah bertemu dengan 300 orang dan bercakap-cakap dengan mereka sembari menikmati segelas kopi. Kegiatan tersebut tentu bukan tak lazim dilakukan, namun, pertemuan tersebut dilakukan Ozlem dengan 300 yang telah mengirimkan surat berisi ujaran-ujaran kebencian, bahkan ancaman terhadap dia dan keluarganya. Ant

 

BERITA TERKAIT

Lima Provinsi Punya Areal Rawan Karhutla Terluas 2020

NERACA Jakarta - Berdasarkan kajian Yayasan Madani Berkelanjutan menyebut lima provinsi yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Papua, Kalimantan Timur dan…

Enam Tantangan Tangani Karhutla 2020

NERACA Jakarta - Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) menyebut enam tantangan yang harus dihadapi untuk menangani kebakaran hutan dan lahan…

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19

NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengingatkan aparat keamanan untuk tidak lengah menghadapi potensi ancaman terorisme, kriminalitas…

BERITA LAINNYA DI

Lima Provinsi Punya Areal Rawan Karhutla Terluas 2020

NERACA Jakarta - Berdasarkan kajian Yayasan Madani Berkelanjutan menyebut lima provinsi yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Papua, Kalimantan Timur dan…

Enam Tantangan Tangani Karhutla 2020

NERACA Jakarta - Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) menyebut enam tantangan yang harus dihadapi untuk menangani kebakaran hutan dan lahan…

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19

NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengingatkan aparat keamanan untuk tidak lengah menghadapi potensi ancaman terorisme, kriminalitas…