Digugat Pailit, BEI Suspensi Saham KPAL

NERACA

Jakarta – Kabar PT Steadfast Marine Tbk (KPAL) digugat pailit menjadi alasan bagi  PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham (suspensi) PT KPAL di semua pasar, mulai sesi II Rabu (16/10). Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Goklas Tambunan, Kadiv Penilaian Perusahaan BEI dan Irvan Susandy, Kadiv Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, merujuk pada informasi adanya permohonan pernyataan pailit kepada Steadfast Marine selaku Termohon oleh Cable Source dalam laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 47/Pdt.Sus-Pailit/2019/PN NiagaJkt.Pst tanggal 13 September 2019 menjadi pertimbangan BEI untuk melakukan suspensi saham KPAL.

Selain adanya permohonan pernyataan pailit, suspensi dilakukan sebagai upaya BEI dalam menyelenggarakan perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien. Pihak bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek KPAL mulai sesi II Rabu 16 Oktober hingga pengumuman lebih lanjut. Sebelum disuspensi, pada sesi I Rabu, saham KPAL minus 1,80% di level Rp 545/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 582,61 miliar. Secara year to date, saham KPAL sudah melesat hingga 82% sejak awal tahun.

Saat ini pihak bursa sedang dalam proses penelaahan lebih lanjut kepada perseroan. Bursa juga mengimbau kepada pada investor untuk selalu memperhatikan setiap keterbukaan informasi yang disampaikan terkait perusahaan terkait. Sebagai informasi, tahun ini perseroan masih fokus meningkatkan porsi pendapatan berulang. Pendapatan berulang itu bakal diperoleh dari jasa docking kapal berupa perbaikan dan perawatan kapal.

Sekretaris Perusahaan KPAL, Mulyadi Chandra pernah mengatakan, pendapatan dari jasa docking itu memiliki margin lebih baik karena bersifat jasa. Disampaikannya, tahun lalu perseroan memperoleh pendapatan dari layanan jasa docking sekitar Rp 7 miliar. Adapun jika mengintip laporan keuangan perusahaan, total pendapatan KPAL pada tahun 2018 sebesar Rp 152,03 miliar.

Kontribusi di tahun 2018 itu memang diakui Mulyadi masih kecil. Ia mengatakan, pada tahun 2018 alat produksi lebih berfokus mengerjakan 13 pesanan kapal dari Kementerian Perhubungan yakni enam kapal latih dan tujuh kapal perintis. Nah di 2019 ini, 10 di antaranya sudah selesai di kerjakan sehingga alat produksi bisa lebih dimaksimalkan untuk bisnis docking.

Targetnya, di tahun ini segmen docking bisa menyumbang pendapatan sekitar Rp20 miliar sampai Rp30 miliar. Sampai saat ini KPAL telah menyepakati kerja sama dengan perusahaan lokal untuk docking tujuh kapal pengangkut LPG di Pontianak. Tiga kapal sudah mulai docking sejak 2018 sementara memasuki 2019 ini sudah ada kapal ke empat yang docking di KPAL. Selain itu, kata Mulyadi ada pula perusahaan yang memiliki armada tugboat dan tongkang di mana seluruh armadanya akan melakukan perawatan di galangan KPAL.

BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…